Potensi Kejahatan Seksual Anak di Kalbar Cukup Tinggi

Pontianak, thetanjungpuratimes.com – Pada acara Gerakan Nasional Anti Kejahatan Seksual Anak (GN-AKSA), yang digelar Himpunan Mahasiswa Pembangunan Sosial (HMPS) Fisip Universitas Tanjungpura Minggu (30/10) kemarin.

Ketua Pokja dan Pemantauan KPAID Kalbar, Najmuddin mengungkapkan bahwa, potensi kejahatan seksual anak di Provinsi Kalimantan Barat cukup tinggi. Saat ini, ujarnya, KPAID Kalbar sedang  melakukan field project di dua kabupaten yaitu Kabupetan Landak dan Mempawah.

Sementara itu Kasubdit  IV Polda Kalbar  AKBP Suryanti yang menjadi salah satu narasumber pada acara itu juga mengungkapkan bahwa,  pada tahun 2016 terdapat 156 kasus Kejahatan Seksual Anak di Kalimantan Bara.

“Sejumlah 106 kasus diantaranya adalah kasus persetubuhan, dan 50 kasus lainnya  adalah  kasus pencabulan. Selain itu, berdasarkan tingkat kerawananannya, wilayah Kota Pontianak menempati urutan teratas, disusul kemudian wilayah Sambas, dan terakhir wilayah Bengkayang,” ujar AKBP Suryanti.

Menurut Psikolog Armijn CH yang dimintai pandangannya saat acara GN-AKSA itu menilai yang  harus dilakukan pertama kali oleh orangtua ketika mengetahui anaknya berada pada posisi sebagai korban kejahatan seksual adalah melindungi anak dan menenangkannya.

“Setelah itu baru kemudian orangtua menemui pihak kepolisian dan sebaiknya tanpa membawa anak turut serta. Nantinya tim dari kepolisian yang akan menjenguk anak di rumah kediamannya setelah pelaporan dengan membawa serta tenaga Psikolog untuk membantu meredakan trauma pada anak korban kejahatan seksual,” katanya.

Terkait dengan maraknya kejahatan seksual yang terjadi bukan hanya di lingkungan rumah/sosial anak tetapi juga di lingkungan sekolah, Kabid Pendidikan Dasar Diknas Provinsi Kalbar , Kusnadi mengungkapkan bahwa  guna meminimalisasi tindak kejahatan terhadap anak di lingkungan sekolah, ada beberpa poin yang perlu diperhatikan diantaranya yaitu Peranan lembaga pendidikan.

“Misalnya dengan mengadakan pertemuan antara pihak sekolah dengan para  orang tua, minimal 1 bulan sekali. Memberdayakan peserta didik sebagai subjek bukan sebagai objek semata. Pembinaan  bakat  sesuai dengan minat peserta didik. Serta membentuk kelompok teman sebaya di satuan pendidikan, guna menjadi tempat curhat bagi peserta didik,” ungkapnya.

Acara GN – AKSA yang digelar itu mengangkat tema “Bersama kita bisa sukseskan GN-AKSA di Kalimantan Barat”. Acara ini dihadiri oleh beberapa Sekolah Dasar dan Taman Kanak-Kanak.

Acara ini dibuka oleh Wakil Dekan I, Bapak Dr. Herlan, M.Si  dan dilanjutkan dengan penampilan teatrikal GN-AKSA dari HMPS. Usai teatrikal acara dilanjutkan dengan Talkshow GN AKSA yang dipandu langsung oleh Kaprodi Pembangunan Sosial Fisip Untan, Dr. Indah Listyaningrum, M.Si.

Sementara, Ketua prodi pembangunan sosial Fisip Untan, Indah Listyaningrum mengatakan, GN -AKSA merupakan suatu gerakan yang menuntut semua partisipasi aktif dari semua pihak, baik Presiden secara langsung hingga anak sebagai individu.

“Gerakan ini tidak ada artinya tanpa komitmen berbagai pihak, dan pada kesempatan ini prodi pembangunan sosial melalui HMPS nya menunjukan bahwa mereka peduli dan ikut berpartisipasi aktif untuk turut dapat menyukseskan GN-AKSA khususnya di Kalimantan Barat,” ujarnya.

Sementara, Abdul syakur selaku ketua umum HMPS Fisip Untan mengatakan, kegiatan ini penting dilaksanakan terutama di Kalbar melihat kasus ini masih minim diketahui oleh masyarakat.

“Karena masyarakat cenderung mnggunakan sistem adat untuk mengatasi masalah ketika terjadi tindak kekerasan seksual terhadap anak di usia dini,” katanya.

Andri Van Agus Dirgantara, selaku Ketua Panitia Talkshow GN AKSA mengatakan bahwa Suatu kebanggaan dapat dipercaya menyelanggarakan kegiatan Talkshow GN AKSA tersebut.

“Kami benar-benar berusaha maksimal untuk mempersiapkan segala sesuatunya agar dapat terselenggara sukses dan lancar, dengan harapan publik turut serta menyukseskan GN AKSA di Kalbar,” ujarnya.

(Rilis/dd)

Related Posts