Pihak Keluarga Kecewa Tuntutan Jaksa ke Terdakwa Pembunuh Nisa Terlalu Ringan

Sekadau, thetanjungpuratimes.com – Jaksa Penuntut Umum (JPU) telah membacakan tuntutan terhadap tiga terdakwa dalam kasus pembunuhan Nisa (22), warga Desa Merapi, Kecamatan Sekadau Hilir, pada Kamis (4/11). Tiga terdakwa tersebut, masing-masing Hamdani alias Obeng (32), Zaenal (31) dan Abang Hamdan (32).

“Rasanya keluarga tidak terima dengan tuntutan hukuman 15 tahun penjara bagi Obeng dan Zaenal,” ungkap Jailimin (49), ayah Nisa yang membuka pembicaraan saat thetanjungpuratimes.com, mengunjungi kediamannya di RT 1 RW 1 Desa Merapi, pada Jumat (4/11).

Jailimin yang baru saja pulang dari kebun sawit menuturkan, tak bisa tidur semalaman pasca pembacaan tuntutan terhadap terdakwa kasus pembunuhan anaknya.  Tuntutan 15 tahun itu, kata dia, membuat pihak keluarga kecewa.

Ia mengatakan, pelaku memang berkelit dan membantah telah membunuh Nisa. Obeng, kata dia, sempat mengaku tidak mengetahui Nisa hilang dan terkejut ketika jasad korban ditemukan di rawa tak jauh dari Komplek Perkantoran Bupati, pada Jumat (22/4) lalu.

“Kan aneh, satu kampung tahu Nisa hilang sejak Selasa (19/4) lalu. Tapi, setelah Ipar Obeng, Samsul menjadi saksi menyatakan mengetahui jika Nisa hilang,” kata dia.

Bahkan, kata Jailimin, pelaku juga mengaku dipaksa polisi. Padahal, keterangan saksi sudah mengarah kepada mereka.

“Mereka selalu berkelit,” kata dia lagi.

Jailimin mengaku, sejak awal persidangan ia selalu datang menyaksikan proses persidangan. Hanya saja, ia kecewa lantaran kedua pelaku hanya dituntut 15 tahun, sedangkan Abang Hamdan dituntut 4 tahun penjara.

“Kami dari keluarga mau hukumannya lebih dari itu. Setimpal dengan perbuatan pelaku yang telah menghilangkan nyawa anak kami,” ujarnya.

Bahkan, kata Jailimin, usai persidangan ia pun sempat menanyakan kepada jaksa perihal tuntutan tersebut. Jaksa, kata Jailimin, sudah memberikan tuntutan maksimal kepada para terdakwa.

Sejak kasus tersebut, kata Jailimin, tetap berpengaruh pada perekonomian keluarganya. Bahkan, kata dia, sejak dipersidangan ia dan keluarga harus pulang-pergi ke Pengadilan Negeri Sanggau.

“Tentunya jadi beban. Kadang kami terpaksa meminjam uang ke tetangga,” ucapnya.

Disela-sela perbincangan kami, Rajaah (41) Ibu Nisa baru saja tiba di rumahnya usai bekerja. Sejak Agustus lalu, Rajaah bekerja sebagai petugas kebersihan di Badan Lingkungan Hidup (BLH) Kabupaten Sekadau menggantikan Nisa.

Mengenai tuntutan yang telah dibacakan oleh JPU. Rajaah juga mengaku kecewa dengan tuntutan 15 tahun penjara kepada kedua pelaku. Kekecewaan tersebut, kata Rajaah, juga disampaikan oleh kerabat dan teman kerja Nisa. Namun, kata dia, keluarga tidak bisa berbuat banyak atas tuntutan yang dibacakan jaksa.

“Tidak puas dengan tuntutan tersebut, itu tidak setimpal dengan perbuatannya. Bahkan mereka juga tidak menyesal dengan perbuatannya,” ucapnya.

“Kalau pun mereka bebas, pasti masih sehat. Sedangkan kami hanya melihat kuburan Nisa saja. Semalam saya tidak tidur memikirkan nasib anak saya kok bisa seperti itu,” timpalnya.

Senada dengan sang suami, Rajaah mengaku, tidak jarang karena kasus tersebut keluarga terpaksa meminjam uang kepada para tetangga. Apalagi, kata dia, kondisi ekonomi keluarganya hanya seadanya saja.

“Kami memang orang tidak mampu. Tuntutan pun telah dibacakan, kami memang kecewa tapi kami tidak bisa berbuat banyak. Kami hanya bisa pasrah,” tukasnya.

(Yahya/dd)

Related Posts