Madrasah Ibtidaiyah Swasta (MIS) Hidayatul Diniyah Butuh Perbaikan

Sambas, thetanjungpuratimes.com – Madrasah Ibtidaiyah Swasta (MIS) Hidayatul Diniyah yang terdapat di Desa Serunai, Kecamatan Salatiga, Kabupaten Sambas. Kondisinya sangat memprihatinkan.

Sekolah yang berdiri sejak 1954 ini, hanya meninggalkan 12 Siswa. Bangunan yang berdiri di atas tanah seluas 900 meter persegi ini mempunyai empat ruangan kelas.

Kondisi ruang kelas tersebut, bisa dianggap sangat tidak layak. Lantaran sudah banyak mengalami kebocoran pada bagian atap sekolah tersebut. Sementara lantainya langsung beralaskan tanah.

Kepala sekolah MIS Hidayatul diniyah, Samsudi, mengungkapkan.
Dulunya siswa yang belajar disekolah ini hingga mencapai ratusan siswa, namun karena kondisi gedung yang tidak lagi bagus muridnya berkurang.

“Saat ini hanya ada kelas 1,4,5 dan 6 dengan total jumlah siswa 12 murid,” ujar Samsudi, Selasa (8/11).

Menurutnya jika cuaca sedang tidak bagus, siswa terpaksa harus dipulangkan karena dikhawatirkan terjadi hal yang tidak diinginkan.

Dikemukakan ruang kelas hanya berukuran 5X5 meter dengan lantai tanah, sangat buruk kondisinya seperti kandang kambing.

“Kalau hujan terpaksa dipulangkan karena baju siswa bisa basah dan kami khawatir mereka sakit,” katanya.

Untuk tenaga pendidik diakui oleh Samsudi hanya mengandalkan empat guru yang masih bertahan mengajar para siswa.

“Tenaga pendidik hanya empat orang, termasuk saya sebagai kepala sekolah. Belum lagi yang tetap hanya dua dan dua lagi guru tidak tetap. Sudah lama disini tidak ada lagi PNS sebagai tenaga pendidiknya,” katanya.

Saat ini diakuinya segala operasional mengandalkan dana BOS dan untuk gaji guru dari Kemenag. Termasuk dalam membebaskan lahan yang sekarang telah menjadi milik yayasan.

“Sekolah ini sudah berpindah lokasi sampai dengan tiga kali dan sekarang merupakan lokasi yang terakhir, dan pernah masalah juga lahannya. Karena itu mengandalkan dana BOS kami beli lahan ini untuk sekolah,” katanya.

Kendati dalam kondisi yang bisa dikatakan sangat tidak layak ini, ia mengaku berusaha tetap akan mempertahankannya. Bahkan dalam waktu dekat juga akan melakukan akreditasi.

“Terkahir pada 2009 lalu diakreditasi dan sekarang akan mencoba lagi untuk diakreditasi. Sayang jika harus dibubarkan karena sekolah ini penting keberadaannya di sini, kami berharap ada perhatian pemerintah terhadap sekolah ini,” tuturnya.

Berbagai upaya telah dilakukan oleh pihak sekolah demi kelangsungan sekolah tersebut tetap berdiri. Hanya saja hingga sekolah mengalami kerusakan parah belum ada respon dari pihak-pihak yang seharusnya memperhatikan kualitas pendidikan, khususnya di daerah terpencil.

(Gindra/Faisal)

Related Posts