Trisula Menancap di Partai Kakbah

Jakarta, thetanjungpuratimes.com – Partai Persatuan Pembangunan atau PPP tak kunjung selesai dirundung pertikaian. Seturut keputusan Menteri Hukum dan HAM yang menetapkan hasil Muktamar Surabaya dengan Romahurmuziy sebagai pemegang SK kepengurusan DPP PPP, kini muncul pertikaian baru di internal mereka.

Tidak tanggung-tanggung, kini muncul tiga kubu di PPP. Yaitu kubu Romahurmuziy (Romi), kubu Djan Faridz, dan kubu Ahmad Yani. Mereka sama-sama ngotot mendaku yang paling sah dan paling benar.

Salah satu pemicu pertikaian di antara mereka adalah Pilkada DKI 2017. Ketiga kubu mendukung tiga pasangan calon gubernur dan calon wakil gubernur yang berbeda.

PPP kubu Romi mendukung Agus Harimurti Yudhoyono-Sylviana Murni, PPP versi Djan mendukung Basuki Tjahaja Purnama-Djarot Saiful Hidayat, dan PPP di bawah Ahmad Yani mendukung Anies Baswedan-SandiagaUno.

Belakangan, dukung-mendukung itu memunculkan ketegangan. Ketika Djan mendeklarasikan dukungan untuk Ahok-Djarot, kubu Romi meradang dengan melarang kubu Djan membawa embel-embel Partai Kakbah itu. Menurut Romi, Djan telah membajak partai warisan umat Islam dengan upaya premanisme.

Dia juga menuding dukungan Djan ke Ahok hanya manuver untuk merebut SK pengesahan PPP. “Saya minta Djan stop bawa-bawa PPP. Dia tidak berhak atas namakan PPP. Dia tidak memiliki keabsahan secara yuridis dan administratif,” kata Romi.

Tuduhan Romi didukung oleh Sekjen PPP, Arsul Sani. Asrul menyebut dukungan Djan ke Ahok tidak tulus. Dia menilai, dengan mendukung Ahok-Djarot, Djan bermimpi pemerintah akan memberikan hadiah SK pengesahan PPP dan SK PPP yang kini dikantongi Romi dicabut pemerintah.

“Apalagi tulus demi kepentingan menjadi jembatan umat Islam dengan Ahok seperti yang digembar-gemborkan Djan Faridz,” katanya.

Tapi tuduhan itu ditangkis oleh Djan. Dia menganggap, dukungannya kepada Ahok-Djarot justru untuk kemaslahatan umat Islam dan toleransi beragama.Menurutnya, PPP bakal menjadi jembatan antara umat Islam dengan pasangan Ahok-Djarot sehingga kepentingan-kepentingan umat dapat terwadahi jika pasangan itu terpilih.

“Kontra produktif bila umat Islam malah menjauhi pasangan yang berpotensi besar memenangi Pilkada 2017,” kata Djan.

Perseteruan antara kubu Romi dan Djan berlanjut saat kubu Djan membayar penayangan iklan kampanye di TV One tanggal 3 dan 4 November lalu. Kubu Romi membalasnya dengan melaporkan iklan tersebut ke Bawaslu dan Komisi Peyiaran Indonesia, karena dianggap melanggar Peraturan KPU Nomor 12 Tahun 2016 tentang Kampanye dan PKPU Nomor 12 Tahun 2016 tentang Perubahan atas PKPU Nomor 7 Tahun 2015 tentang Kampanye.

Alasan lainnya, kubu Romi tidak sudi Djan membawa-bawa PPP.

Bagaimana dengan kubu Ahmad Yani, yang  berseberangan dengan keputusan PPP kubu Romi maupun PPP kubu Djan?

Menurut mantan anggota Komisi III DPR RI itu, keputusannya mendukung Anies-Sandi lantaran ada kecocokan dan kesamaan prinsip PPP dengan konsep visi dan misi dari pasangan Anies-Sandi. Yani mengaku tidak takut mendapatkan sanksi dari PPP atas sikap politiknya itu.  Apalagi menurutnya, dukungan politik PPP saat ini memang sudah terbelah ke Agus-Sylvi dan Ahok-Djarot.

Yani sesumbar akan membawa gerbong PPP,  baik dari kubu Romi maupun Djan untuk ikut memenangkan pasangan Anies-Sandi.

Lalu, ke mana dan sampai kapan “Trisula” yang mengatasnamakan PPP itu akan saling menancapkan perselisihan di antara mereka?

(Rimanews/Faisal)

Related Posts