Menlu Minta Malaysia dan Filipina Perhatikan Penculikan WNI

Jakarta, thetanjungpuratimes.com – Menteri Luar Negeri Retno Marsudi meminta Pemerintah Malaysia dan Filipina untuk perhatiannya terkait diculiknya kembali dua nelayan asal Indonesia di Lahad Datu, Malaysia, Sabtu (19/11), oleh kelompok bersenjata dari Filipina.

“Hari minggu saya melakukan kontak dengan Menlu Malaysia dan kontak dengan advisor Presiden (Filipina) Duterte untuk masalah perdamaian. Intinya saya kembali lagi meminta perhatian mereka,” kata Retno usai bertemu Presiden Joko Widodo di lingkungan Istana Kepresidenan Jakarta, Senin (21/11).

Retno menegaskan bahwa pemerintah Indonesia tidak akan berhenti untuk meminta perhatian dari Malaysia dan Filipina terkait penculikan para nelayan asal Indonesia yang diduga dilakukan oleh kelompok Abu Sayyaf.

“Isu ini lah yang saya bawa saat saya berkunjung terakhir ke Kuala Lumpur, Kinabalu dan Sandakan, Malaysia,” kata Menlu saat menjawab pertanyaan wartawan.

Retno mengungkapkan dirinya telah bertemu anak buah kapal (ABK) di ketiga wilayah Malaysia tersebut, karena hampir 80 persen dari ABK dan nelayan yang mencari ikan di wilayah Sabah merupakan WNI.

“Saya sudah berbicara mereka dari hati ke hati dan saya sudah sampaikan laporan kepada bapak Presiden,” kata Retno.

Menlu juga menegaskan untuk menekankan pentingnya bagi pemerintah dan otoritas Malaysia untuk meningkatkan keamanan di wilayah air mereka.

“Karena sudah sangat jelas ini kesepakatan yang sudah disetujui saat kita bicara bertiga pada bulan Mei dan hal yang sama juga disampaikan dengan advisor Presiden Duterte,” ungkap Retno.

Menlu menegaskan bahwa Indonesia, Malaysia dan Filipina akan terus bekerja mengatasi penculikan ini dan akan melakukan pertemuan menteri pertahanan ketiga negara.

“Kalau kerja sama sudah beralih ke hal yang sifatnya teknis itu dilakukan oleh menteri pertahanan, oleh panglima dan sebagainya, penguatan wilayah air tidak hanya di perairan Sulu, di jalur batubara, tapi perairan di wilayah Malaysia dimana nelayan kita bekerja,” katanya.

Retno juga mengaku sudah melakukan pertemuan dengan asosiasi pemilik kapal di Sabah, Malaysia, untuk melengkapi pemasangan alat automatic identification system (AIS) di kapalnya.

“Tampaknya harus menjadi kewajiban mandatory bagi setiap kapal nelayan untuk memasang ini (AIS), dan pada saat mereka dalam kondisi bahaya kepada siapa mereka bisa berhubungan,” ungkapnya.

Retno mengatakan mekanisme seperti itu yang telah disampaikan dalam kunjungannya ke Malaysia dan akan menjadi mandatory bagi kapal nelayan untuk memasang alat AIS.

Dalam pemberitaan sebelumnya, Komando Pengamanan Timur Sabah (Esscomm) mengonfirmasi terjadinya penculikan dua nelayan asal Indonesia. Mereka diculik di Lahad Datu, Sabtu, 19 November 2016.

Kepala Escomm Datuk Wan Abdul Bari Wan Abdul Khalid mengatakan insiden tersebut terjadi pada sekitar pukul 07.30 waktu setempat, saat sejumlah nelayan sedang melaut di wilayah Merabung.

Kapal nelayan dengan 13 orang di dalamnya berada di area tersebut sejak sekitar pukul 06.30 pagi didatangi lima pria bertopeng dan membawa senjata laras panjang.

Kelima orang tersebut menyerbu kapal dan menghancurkan sistem komunikasi kapal serta merampas seluruh ponsel dan uang milik kru kapal.

Kelompok bersenjata tersebut membawa dua kru kapal WNI dan langsung melarikan diri ke perairan internasional dan kru lainnya telah ditolong oleh kapal nelayan lainnya.

(Ant/dd)

Related Posts