BLH Pontianak Sebut UMKM Abaikan Tata Kelola Limbah

Pontianak thetanjungpuratimes.com – Kepala Badan Lingkungan Hidup Kota Pontianak, Multi Junto Bhatarendro mengungkapkan Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) atau industri rumah tangga kerap mengabaikan pengelolaan limbah.

“Yang banyak di Tipiring di masyarakat, sejenis UMKM seperti kegiatan usaha katering. Itu sempat di Tipiring sampai Rp15 Juta di pengadilan, padahal usahanya tidak terlalu besar. Karena dia menantang masyarakat dan menantang lingkungan, di depan lalu lintas yang ramai dia tidak mengelola limbah secara baik,” papar Multi, di Pontianak,  Selasa (29/11).

Selain usaha jasa boga, lanjut Multi, usaha laundry pun melakukan hal serupa. Secara khusus Multi menjelaskan jenis usaha tersebut memang menjadi prioritas dalam sosialisasi Perda Nomor 5 tahun 2013 tentang Penanggulangan Pencemaran Air. Deterjen yang menjadi limbah usaha tersebut adalah ancaman bagi ekosistem air.

“Deterjen itu betul-betul merusak rantai makanan yang ada di permukaan air. Sampai-sampai mikro organisme di permukaan air yang biasanya mengurai bahan berbahaya dengan sistem mikroba mereka, bisa mati. Jadi jangan sangka kalau ada enceng gondok itu bagus, itulah tandanya ada pencemaran, salah satunya dari deterjen itu,” paparnya.

Lebih jauh ia mengatakan, perusahaan yang berskala cukup besar, sebagian sudah memiliki Instalasi Pengelolaan Air Limbah (IPAL) yang baik. Pengawasan pun sampai pada Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan berupa standarisasi pencemaran. Ada yang warna hitam, biru sampai hijau.

“Rata-rata di Kota Pontianak sudah berwarna biru, artinya sudah baik tapi harus menuju baik. Pengelolaan yang baik itu biasanya dilihat dari produk pencemar dia, apakah dikelola dengan baik atau tidak. Pencemaran itukan yang paling rentan di Pontianak pencemaran air, apakah ada pencemaran pengelolaan air, berupa IPAL. Dan selalu dikontrol sebulan sekali di laboraturium lingkungan, uji sampel mereka, kalau di bawah baku mutu, artinya baik,” jelasnya.

Bukan hanya itu, pencemaran udara dari asap pabrik, suara, tanah dan sampah harus dikelola dengan baik pula. Perusahaan yang baik bukan hanya perihal manajemen karyawan, tapi juga lingkungan sekitar.

Perusahaan yang berdiri di Pontianak beragam. Ada BUMN dan BUMD. BUMN misalnya PLN, memiliki pengelolaan yang baik. Begitu juga perusahaan di sekitar Siantan, rata-rata perusahaan, yakni karet dan minyak, terbilang bagus. Apalagi perusahaan dengan investasi asing, pengontrolan pengelolaan lingkungan jauh lebih ketat dibanding BUMN atau BUMD.

“Limbah yang berbahaya, beberapa mengandung merkuri, logam berat, timbal dan lain-lain. Itu logam berat yang bisa mengendap di air dan tanah, bahkan dimakan mikro organime di sekitarnya, bisa menyebabkan kematian. Dimakan ikan, ikannya dimakan manusia, bisa membahayakan manusia. Yang rata-rata ada, adalah limbah yang mengganggu rantai makanan dalam ekosistem organisme yang ada,” tutupnya.

(Agustiandi/dd)

Related Posts