Aksi Bela Islam dan ‘Kepala Pentol Korek’

Foto : Suasana penampakan jutaan umat islam memenuhi kawasan Monas pada Aksi Bela Islam III di Jakarta/Huda sumber : Hidayatullah com

Pontianak, thetanjungpuratimes.com-Meski aksi bela Islam yang ketiga sudah usai beberapa hari yang lalu namun masih hangat menjadi pembicaraan, baik di media sosial, pembicaraan masyarakat lewat berbagai komunitas atau pun seloroh santai di warung kopi, tak lepas pula media masih mengupas hal tersebut dengan serba serbinya.

Dalam perbincangan itu tak hanya sisi positifnya saja yang menjadi bahasan, tapi oleh beberapa pihak yang kontra dengan aksi yang tercatat sebagai aksi umat Islam Indonesia terbesar saat ini pun tak kalah hebatnya, dan yang paling menarik adalah ungkapan yang menganggap umat yang melakukan aksi tersebut sebagai aksi orang yang berkepala seperti ‘pentol korek’ yang jika di gesek sedikit saja akan terbakar.

Perlu dipahami, tidak ada maksud dalam tulisan ini untuk memprovokasi atau merusak stabilitas kebangsaan yang sepertinya saat ini sangat getol diperjuangkan oleh kelompok yang menganggap dirinya paling memahami arti keberagaman dan kebhinekaan sehingga merasa perlu untuk membuat semacam aksi tandingan yang juga masih menjadi bahasan hangat atas dampak kerusakan yang diakibatkan oleh aksi tersebut.

Namun membiarkan ungkapan miring tentang peserta aksi bela Islam, terus diagitasikan dan disebarluaskan juga bukan merupakan perbuatan yang bijaksana dan arif, masyarakat perlu mengetahui dan memahami bahwa apa yang dianggapkan oleh kelompok yang menolak ataupun yang ingin membelokan aksi ini dari tujuan sebenarnya, adalah hal yang keliru dan cenderung fitnah, apalagi dengan kampanye di media sosial hal tersebut dipaksakan bahkan dengan kesan gagah berani dan perkasa menolak aksi terbesar dengan peserta diperkirakan tujuh juta umat ini.

Penyebutan umat ‘kepala pentol korek’, ‘umat sumbu pendek’ dan ungkapan-ungkapan fitnah lain yang bernada minor sangat tidak beralasan, kalau boleh di andaikan, tujuh juta peserta aksi tersebut berkelakuan seperti yang dianggapkan, bisa dipastikan pada Jumat 2 Desember tersebut akan menjadi catatan sejarah terkelam di Indonesia, karena dampak kerusakan yang dimunculkan akan sangat luar biasa, tidak hanya di Jakarta hal itu juga bisa dipastikan akan berdampak ke seluruh Indonesia yang saat ini mencapai 85 persen dari 250 juta penduduknya.

Namun hal tersebut ternyata tidak terjadi dan faktanya malah terbalik, meski dengan penghadangan, dan berbagai upaya penggembosan yang dilakukan untuk aksi tersebut tidak berhasil meredam massa yang ingin hadir dan berpartisipasi, bahkan kegiatannya tetap berjalan dengan jumlah peserta yang banyak dengan jumlah jutaan, tertib, dan simpatik yang bahkan dihadiri sendiri oleh Presiden dan Wakil Presiden beserta beberapa menteri kabinetnya.

Anggapan miring ini tidak hanya merendahkan umat Islam sebagai peserta aksi tersebut, namun juga dari umat non muslim yang juga turut hadir dalam gawe akbar yang bertajuk ‘Aksi Bela Islam Super Damai’ itu termasuk Presiden beserta jajarannya, dan yang paling menyedihkan tentunya anggapan itu juga akan melingkupi para habaib dan ulama kharismatik yang rasa kebangsaan dan nasionalismenya tidak perlu diragukan lagi serta sudah berupaya agar umat tetap terkendali dan aksi tersebut berjalan dengan tertib dan lancar.

Untuk itu perlu disampaikan, tidak pantas disematkan anggapan bahwa peserta aksi bela islam sebagai orang yang mudah di provokasi dan bertindak tanpa logika, karena itu jelas merupakan fitnah, mereka yang mengikuti aksi tersebut, murni mengikuti panggilan hati dan menuntut keadilan ditegakan yang andai tidak didorong dengan aksi nyata seperti ini, mungkin akan lama atau malah tidak akan diproses sama sekali, sebab dari fakta yang terlihat, meski sudah didorong dengan aksi yang masif bahkan berulang hingga tiga kali, tetap saja proses tersebut progresnya belum seperti diharapkan.

Menurut peserta aksi, alasan dapat dilakukan penahanan yang juga bisa berarti tidak perlu dilakukan penahanan masih menjadi tameng kuat yang perlu didorong secara bersama-sama untuk dirobohkan agar keadilan bisa dijalankan, sebab jika mengacu pada pelaku lain dalam kasus yang sama, kondisinya malah terbalik, pelaku penista agama, ditangkap, ditahan, baru ditetapkan sebagai tersangka. Namun kalau untuk satu pelaku ini yang mungkin boleh disebut sebagai ‘the special one’ hal ini menjadi pengecualian, sehingga perlu dikawal dan ditegaskan bahwa hal ini menjadi perhatian dan ditunggu oleh masyarakat bagaimana proses penegakan hukumnya apakah akan berakhir dengan penuh rasa keadilan bagi masyarakat luas, atau hanya akan menjadi drama pembebasan sangkaan dengan dramatis dan heroik lewat acara dipengadilan.

Masyarakat hanya menuntut keadilan ditegakan kepada siapa saja sama rata, persamaan dimuka hukum (equal before the law) sederhana seperti itulah tujuan aksi bela islam yang disandangkan berbagai anggapan negatif oleh pihak yang kontra, entah tujuannya memang hanya untuk mengalihkan isu dan meminimalisir cakupan keterlibatan masyarakat agar tidak bertambah masif lagi yang menuntut keadilan ditegakan ataukah memang ini anggapan yang memang distigmakan terlepas ada ataupun tidak aksi tersebut, cibiran tentang umat ‘pentol korek’ dan sumbu pendek memang sudah disematkan sebelumnya, namun baru mengemuka melalui prokontra aksi ini.

Mensitir pernyataan KH Abdullah Gymnastiar tentang peserta aksi ini, Ia menyederhanakannya dengan menyebut aksi ini bisa diikuti oleh umat secara masif tergerak karena panggilan hati, dan panggilan ini hanya bisa dirasakan oleh umat yang memang dipanggil oleh si pemilik panggilan (Tuhan) kalau tidak terpanggil dan tidak merasakan tentu berbeda menyikapi aksi ini jelasnya.

Lebih tegas lagi pernyataan almarhum Buya Hamka yang pada sekitar tahun 1954 dalam bukunya “Ghirah dan Tantangan terhadap Islam” tentang makna dan kedudukan ghirah.

Kata Buya Hamka, ghirah artinya menjaga syaraf diri (hal. 3) atau cemburu (hal. 9). Dalam bukunya itu, Buya membagi ghirah (cemburu) ini menjadi dua macam, cemburu karena perempuan dan cemburu karena agama, keduanya, menurut Buya, adalah simbolnya masih hidupnya jiwa seseorang, utamanya seorang muslim. Artinya, jika sudah tak ada lagi ghirah ini, mengutip pernyataan Buya Hamka, “ucapkanlah takbir empat kali ke dalam tubuh ummat Islam itu, Kocongkan kain kafannya lalu masukkan ke dalam keranda dan hantarkan ke kuburan” katanya.

Ghirah, yah Ghirah, kata ini yang juga luar biasa membakar semangat peserta aksi, karena hatinya masih ada ghirah, cemburu dan marah jika kitab suci dan agamanya dinistakan dan diperlakukan bukan dengan semestinya, apalagi pernyataan Buya Hamka ini sangat tegas dan jelas menganalogikan jika sudah tidak memiliki ghirah didalam hatinya, maka sama saja dengan mati dan tentu umat yang mengerti dan masih merasakan ada ghirah dihatinya tersentak dan bergelora, karena tak mau dianggap sebagai makhluk hidup tetapi mati.

Hal inilah yang tidak atau belum bisa dipahami bagi yang kontra dengan aksi bela islam, sehingga munculah anggapan peserta aksi hanya menurutkan emosi dan tanpa logika bergerak secara masif ke Jakarta sebagai kelompok orang yang berkepala pentol korek dan sumbu pendek yang hanya termakan provokasi semata, namun kalau mereka memahami, mengikuti aksi ini, adalah panggilan hati, yang tergetar karena ghirahnya dipicu, yang menjadikan perjalanan mereka ke Jakarta sebagai jalan ibadah, dan membuktikan dirinya di hadapan Tuhannya disaksikan saudara seakidahnya, bahwa dia hadir memenuhi panggilan itu.

Kalau mau lebih menelisik lagi, dari jutaan massa yang hadir pada aksi tersebut, tidak hanya diisi dari kelompok agamis saja, tapi tokoh nasionalis yang muslim pun banyak, kepala daerah yang hadir pun ada, artis dan berbagai kalangan lain lintas golongan, komunitas dan berbagai latar belakang profesi turut hadir dan merupakan orang-orang diakui eksistensinya dikalangannya masing-masing ambil bagian dan menjadi peserta aksi tersebut, sehingga anggapan sebagai makhluk berkepala tidak pantas disematkan untuk aksi ini.

Seiring dengan hal ini, terlepas dari prokontra dan euforia yang ada ada terkait aksi bela islam ketiga ini, pengawasan dan pengawalan proses penegakan hukum kasus penistaan agama yang menjadi core (inti) dari aksi ini harus terus dilaksanakan, jangan sampai lengah, jangan sampai tercipta peluang ‘main mata’antar penegak hukum sehingga ada upaya atau perbuatan yang mencederai proses penegakan hukum itu sendiri, sehingga keberhasilan dalam pelaksanaan aksi ini tidak lantas membuat terlena dan umat maupun ulama jadi bias dari tujuan awalnya, misi ini masih jauh dari kata selesai dan harus ditanamkan kesungguhan agar fokus dalam melaksanakan pengawasan dan pelaksanaannya.

Harapan dari masyarakat peserta aksi adalah pemerintah maupun penegak hukum agar mampu bertindak dan membuat keputusan dengan berkeadilan, tidak membuat keputusan yang malah mencederai keadilan itu sendiri, selain itu proses penegakan hukumnya harus transparan cepat dan efisien, sehingga tidak perlu ada aksi besar lagi yang digelar untuk mendorongnya, bagi peserta aksi, mengikuti kembali aksi seperti ini bukan masalah bahkan untuk yang dari daerah, mendatangi kembali Jakarta berkali kali itu bukan masalah sebab banyak peserta yang kembali datang dari aksi bela islam II untuk mengikuti yang ketiganya karena menganggap ini bagian ibadah, namun bagi penyelenggara negara, baik itu kepolisian dan pihak lain, ini akan menjadi beban tambahan, yang jika salah penangangannya akan menimbulkan resiko yang besar dan kaum ‘kepala pentol korek’ tak perlu lagi memadati ibu kota hanya karena ingin menyampaikan tuntutannya.

Ada selorohan lucu namun perlu diperhatikan pemerintah dalam perbincangan antar peserta ketika aksi usai dilaksanakan, ada yang mengandaikan bahwa aksi bela Islam ini sebagai rukun-rukun dalam ibadah haji, aksi bela Islam II dianggap sebagai syai karena ada aksi jalan kaki dari Mesjid Istiqlal menuju istana, kemudian pada aksi yang ketiga ini diibaratkan sebagai wukuf karena peserta aksi hanya berdiam diri di Monas, dan mendengarkan tausiah dari ulama, seperti khutbah wukuf, dan dikhawatirkan jika ada aksi bela Islam selanjutnya apakah akan menjadi ibadah jumrah, dan pertanyaannya jika itu terjadi, kemana Jumrah mereka diarahkan, agar lengkap, ula, wusta dan tsalitsahnya untuk dilaksanakan, canda mereka sambil tersenyum, diantara bacaan Al-Quran dan dzikir yang dilantunkan peserta aksi bela Islam III.

(Syafarudin Ariansyah)

Related Posts