Islam Rahmatan Lil Alamin

Thetanjungpuratimes.com – Prof Anton M Moeliono paham betul bagaimana caranya agar berbagai istilah atau penggunaan kata dalam bertutur menggunakan Bahasa Indonesia–yang baik dan benar–dapat dipahami dan digunakan secara luas di masyarakat, yaitu, salah satu upaya yang dilakukan adalah memanfaatkan media massa.

Guru besar bahasa Indonesia dan lingustik di Fakultas Sastra, Universitas Indonesia (1982) ini juga memanfaatkan berbagai forum diskusi. Ia juga membuat leaflet, selebaran kertas berisi informasi yang mudah dibagikan kepada orang banyak. Almarhum Anton rajin mendatangi kantor media massa, bersilaturahim dan berdisuksi dengan awak media.

Dengan cara itu, informasi penggunaan istilah (baru) dalam Bahasa Indonesia mudah tersosialisasi.

Apa salahnya model atau cara menanamkan pemahaman penggunaan istilah Bahasa Indonesia yang dilakukan mantan Kepala Lembaga Linguistik kelahiran Bandung (21/2/1929) itu dapat ditiru para ulama.

Di kalangan media massa penting ditanamkan paham Islam Rahmatan Lil Alamin di kalangan awak media massa. Pasalnya, menangkal radikalisme tidak cukup dilakukan Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT). Peran media massa untuk memberi pencerahan terkait bahaya terorisme kepada publik amat penting.

Di Jakarta, banyak perkantoran menempati sejumlah gedung pencakar langit. Di situ, manajemen gedung memberikan fasilitas berupa masjid dan mushola. Rumah ibadah yang melekat di gedung tersebut juga dimanfaatkan umat Islam untuk shalat Jumat. Penuh. Tak pernah terdengar para penyewa gedung yang berkantor di gedung bersangkuan melarang karyawannya untuk shalat Jumat.

Sayangnya, para ustadz sebagai khotib pada shalat Jumat saat musim Pilkada terbawa atmosfirnya. Dalam retorikanya di atas mimbar asyik ikut “gendang” yang ditabuh para kandidat sambil membungkusnya dengan tema kepemimpinan. Sementara substansi Islam sebagai Rahmatan Lil Alamin terasa dikesampingkan.

Perbedaan dalam Islam adalah sunatullah. Pemerintah pun tak memiliki otoritas untuk mengintervensi para khotib Jumat untuk menyampaikan pesan-pesannya. Bahkan anggota jemaah pun tak bisa mengintervensi atau interupsi bila mendapati khotib Jumat dirasakan tidak berkenan dengan substansi atau materi yang disampaikannya.

Bahkan wacana dai dan mubalig harus mendapatkan sertifikasi dalam menjalankan profesinya–seperti di Saudi Arabia–ditolak. Namun patut dicatat bahwa sudah menjadi kewajiban para tokoh agama, termasuk ulama–ustadz, ustadzah, kiyai–untuk menangkal radikalisme bersama-sama. Karenanya, mereka itu harus didorong terus menyuarakan Islam sebagai Rahmatan Lil Alamin.

Awak media Pemahaman Islam Rahmatan Lil Alamin di kalangan awak media belum menggembirakan. Pasalnya, latar belakang pendidikan, agama dan asal-usul mereka sangat beragam.

Tidak heran, rapat agenda setting lebih menekankan pada peliputan kasus kekerasan yang ditimbulkannya tanpa diiringi dengan pemberitaan wajah Islam sebagai pembawa kedamaian.

Awak media patut pula belajar dari kasus Charlie Hebdo. Kejadian penyerangan terhadap kantor redaksinya dengan kembali menerbitkan edisi terbaru dengan sampul bergambar kartun yang disebut sebagai Nabi Muhammad sangat disayangkan.

Penyerangan yang dilakukan terhadap kantor redaksi majalah satire itu tidak bisa dibenarkan dan pantas disebut sebagai bagian dari terorisme yang biadab.

Kematian 12 orang pada peristiwa tahun lalu itu dapat disebut sebagai “orang pandir”. Namun, penerbitan kembali Charlie Hebdo dengan gambar sampul kartun Nabi Muhammad menunjukkan redaksi majalah itu “sama pandirnya” dengan para penyerangnya.

Tentu saja peristiwa itu tidak diinginkan terjadi di Tanah Air. Sekalipun hal itu dilakukan atas nama kebebasan berekspresi dan menyatakan pendapat. Kebebasan pers mestinya dilakukan dengan tetap menghormati keyakinan umat beragama.

Kebebasan berekspresi tidak boleh memberi ruang untuk melakukan penghinaan dan pelecehan, bahkan kekerasan dan pemaksaan kehendak terhadap apa yang dianggap suci.

Dalam menyikapi kasus intoleransi dan radikalisme, para tokoh agama-agama dan ulama patut memberanikan diri untuk bersilaturahim dengan awak media massa. Para pemuka agama, termasuk kiyai, penting memahami pesatnya pemanfaatan media sosial dewasa ini.

Mendatangi kantor redaksi media massa, seperti juga dilakukan Anton M Moeliono dan para kandidat Pilkada untuk berdiskusi tentang sesuatu isu, akan bermanfaat bagi awak media bersangkutan dan publik. Kehadiran ulama diharapkan dapat memberikan suasana teduh dan memberi pemahaman tentang Islam Rahmatan Lil Alamin.

Rutinitas liputan tidak akan hanyut melulu pada agenda setting yang membosankan, tetapi dengan adanya pemahaman kedamaian justru akan menambah warna pemberitaan lebih menarik, ‘eye catching’. Perbedaan adalah rahmat. Menonjolkan kebhinekaan dalam kontek penguatan NKRI tidak diharamkan.

Degradasai Bersamaan dengan peringatan Maulid Nabi Muhammad Saw, 12 Rabiul Awal 1438 H), baik pula jadi renungan tentang pentingnya Islam Rahmatan Lil Alamin. Nabi Muhammad merupakan rasul akhir zaman, utusan oleh Allah untuk seluruh umat manusia tanpa melihat asal suku dan bangsanya.

Misi Nabi Muhammad antara lain membawa ajaran Islam, menyempurnakan akhlak manusia.

Akhlak menjadi titik berat ajaran Islam yang dapat dimaknai sebagai watak, kelakuan, tabiat, perangai, budi pekerti, tingkah laku dan kebiasaan belakangan ini terasa kurang mendapat tempat.

Keteladanan dari tokoh bagi rakyat di negeri ini makin langka. Karena ahlak itu makin menjauh dari (hati) diri seseorang, maka degradasi moral pun makin merebak.

Terkait melorotnya ahlak itu, intoleransi pun kini ikut mengiringinya dan makin memprihatinkan. Kasus intoleransi beragama di Tanah Air telah menyedot perhatian disebabkan terganggunya hubungan antarmanusia. Kasus pengusiran orang beribadah di Bandung, Tolikara (Papua), Aceh Singkil dan beberapa di tempat lainnya yang terkait pembangunan rumah ibadah penting disikapi dengan dewasa dan berkepala dingin.

Dan karena kasus itu pula, maka ajaran hablumminallah dan hablumminannas–hubungan manusia dengan Allah SWT dan hubungan manusia dengan manusia–menjadi rusak lantaran mata hati telah buta. Yang muncul, kebodohan. Sesungguhnya ahlak itu melekat dalam diri seseorang karena pembiasaan dalam kehidupan sehari-hari. Ahlak juga lahir dari keteladanan.

Islam datang sebagai pembawa kedamaian. Pemahaman ini penting ditanamkan, termasuk bagi kalangan awak media. Fungsi media sebagai edukasi, informasi, hiburan sehat tentu saja dapat membawa pengaruh besar melalui karyanya kepada publik.

Media massa sejatinya dapat berperan aktif dalam meningkatkan kesadaran politik rakyat. Tanggung jawab media tidak sebatas itu saja, termasuk di dalamnya memberi pemahaman Islam Rahmatan Lil Alamin sebagai penangkal intoleransi dan radikalisme sekaligus mencegah meluasnya aksi teroris.

Kenapa? Karena Indonesia adalah negara majemuk. Tingkat pemahaman setiap warga pun terhadap Islam yang damai tentu beragam pula.

Awak media penting mendapatkan pemahaman Islam Rahmatan Lil Alamin secara komprehensif. Keterbukaan manajemen (awak) media massa menerima pemahaman Islam yang damai sehingga dapat mewarnai pemberitaannya.

(Ant/dd)

Related Posts