Warga Pontianak Tak Sepakat Tarif Parkir Kendaraan Naik

Pontianak, thetanjungpuratimes.com – Rencana pemerintah kota Pontianak akan menaikkan retribusi parkir pada tahun 2017 mendapatkan tanggapan yang beragam dari masyarakat yang memiliki kendaraan.

Anshari Dimyati warga Kampung Bangka, menuturkan kalau dirinya tidak sepakat dengan rencana kenaikan harga tarif parkir.

“Saya tidak sepakat jika tarif parkir menjadi Rp2000,-, karena Rp1000,- itu sudah cukup besar untuk satu buah motor,” tandasnya, Selasa (13/12).

Menurutnya, retribusi parkir merupakan bagian dari pajak yang artinya pemerintah mendapatkan keuntungan dari hal tersebut, serta retribusi dari parkir itu juga harus jelas peruntukannya.

Ia mengatakan, seandainya rencana dari tarif parkir dinaikkan, maka lahan parkir yang tersedia juga harus aman, dan nyaman serta bagus, dan sebelum dinaikkan tarifnya Pemkot Pontianak harus mensosialisasikan kepada masyarakat, karena masyarakat juga harus mengetahui mana lahan parkir yang resmi dikelola oleh pemkot, dan dimana lahan parkir yang ilegal.

Hal senada juga diungkapkan oleh Syahrani, pria yang sehari-hari sering menggunakan sepeda motor ini juga merasa keberatan.

“Seribu rupiah sudah cukup sedang, jangan kita melihat dari seribu rupiah tersebut, tetapi jika kita akumulasikan maka seribu rupiah itu akan menjadi banyak,” akunya.

Menurutnya, dari hal tersebut belum masih bisa dirasakan, dimana rasa keamanan masih kurang seperti sering hilangnya helm dari pemilik kendaraan.

Dari pengalaman yang sering ia rasakan, pria ini sering singgah, dan setiap tempat di Pontianak yang di singgahinya pasti ada juru parkirnya.

“Seandainya satu hari saya singgah di lima tempat, yang dulu hanya Rp1000,- dengan harga yang baru sebesar Rp2000,- itu, maka satu hari saya harus mengeluarkan Rp10.000,- untuk tarif parkir,” ungkapnya.

Ia juga menceritakan, terkadang dirinya juga merasa kurang sreg dengan pelayanan dari jukir yang ada di Pontianak.

“Ada jukir yang memakai muka “selembe” diwaktu saya mencari tempat parkir, sehingga saya harus menyusun kendaraan dengan sendiri, tetapi ketika kita ingin mengambil motor untuk keluar, jukir itu tiba-tiba muncul seperti tukang sulap untuk meminta uang parkir,” kesalnya.

Selain itu, Rizal seorang pemuda yang tinggal di kelurahan Tambelan Sampit Pontianak Timur menyetujui wacana tersebut asalkan infrastruktur, serta keamanan bagi kendaraan sesuai dengan harga tarif yang baru itu.

(Maulidi/Faisal)

Related Posts