HIV/Aids Renggut 38 Orang Warga Kapuas Hulu

HIV AIDS

Kapuas Hulu, thetanjungpuratimes.com – HIV/AIDS masih menjadi momok menakutkan di masyarakat. Pada kabupaten Kapuas Hulu sendiri tercatat ada 99 orang penderita penyakit tersebut, dan 38 diantaranya telah meninggal dunia.

Kasi Informasi dan Promosi Kesehatan, Dinas Kesehatan (Dinkes) Kapuas Hulu, Ade Hermanto S.Km mengungkapkan, penderita penyakit mematikan tersebut kebanyakan adalah orang umum. Selain itu ada pula kalangan usia produktif yang terjangkiti.

“Penderita terbanyak adalah PSK (Pekerja Seks Komersial), ibu rumah tangga dan ada juga PNS,” ungkapnya, Kamis (22/12).

Untuk tahun 2016 ini, kata Ade ditemukan penderita HIV/AIDS sebanyak 21 orang, dari jumlah itu 9 orang diantaranya laki-laki, sisanya perempuan. Penderita penyakit tersebut meningkat dari tahun sebelumnya, kalau tahun 2015, ditemukan 8 orang penderita (3 orang laik-laki dan perempuan 5 orang), 3 orang telah meninggal, 1 diantaranya PNS.

Menurut Ade, meningkatnya pengidap HIV/AIDS tersebut dipicu oleh tingginya mobilisasi orang atau pekerja dari luar ke Kapuas Hulu, terutama buruh perusahaan perkebunan.

“Setiap tahun mobilitas orang tinggi, pendatang yang bekerja di perkebunan,” ucapnya.

Kata Ade, Dinkes Kapuas Hulu berupaya mencegah meningkatnya kasus HIV/AIDS. Diantaranya melalui penyebarluasan informasi yang dilaksanakan rutin setiap tiga bulan ke sekolah-sekolah, baik itu SD, SMP dan SMA.

“Untuk anak SD kami terangkan kepada mereka supaya menjaga prilaku hidup bersih dan sehat, kemudian untuk anak SMP tentang kesehatan reproduksi dan SMA mereka ditekankan untuk menjauhi dan tidak terjerumus dalam penyalahgunaan narkoba dan sesk bebas. Kita juga libatkan gerakan Pramuka dan Purna Paskibara,” paparnya.

Secara umum, kata Ade ada tiga cara mencegah penularan HIV/AIDS, yakni A, B, C, D dan E, pertama Abstinance yakni puasa, tidak melaksanakan hubungan seks, Be faithful berarti melakukan hubungan seks hanya dengan pasangan saja. Condom artinya gunakan kondom saat berhubungan seks. Drugs, artinya jauhi narkoba dan tidak menggunakan jarum suntik secara bergantian dan Education (Pendidikan) artinya pendidikan dan penyuluhan kesehatan tentang hal-hal yang berkaitan dengan HIV/AIDS.

Diakui Ade, pihaknya masih terbatas dalam menanggulangi penularan HIV/AIDS tersebut. Misal terbatasnya Obat yang dapat meminimalisir HIV / AIDS yakni AVR (Anti Reto Viral) kemudian untuk pemeriksaan menggunakan Polymerase chain reaction (PCR) juga belum ada, sehingga harus ke Sintang.

“Selama ini untuk penderita HIV positif hanya rawat jalan. Keluhan awal penderita memang ndak ada. Penderita terinveksi setelah 3 bulan, gejala diare kemudian minum obat sembuh, seperti orang sehat, setelah 5-10 tahun masuk ke fase AIDS. Kalau cepat terdeteksi lebih mudah mengobati, memperpanjang masa hidup. Penyakitnya memang tidak bisa disembuhkan,” tutupnya.

(yohanes/Faisal)

 

Related Posts