Ketua MABM Kalbar : Jaga Ketentraman dan Kedamaian dengan Hati Nurani

Pontianak, thetanjungpuratimes.com – Menyikapi kekisruhan yang terjadi di Kalbar akhir-akhir ini, Ketua Majelis Adat Budaya Melayu (MABM) Kalbar, Prof Dr Chairil Effendi, mengajak kepada semua pihak untuk menyikapi hal tersebut dengan hati nurani, dan bisa berdialog secara damai dengan hati yang tenang.

“Sesungguhnya hal-hal semacam ini kan bisa didialogkan secara damai, kalau kita memang punya keinginan untuk menjaga harmonisasi di daerah ini, tidak ada kok yang dipermalukan atau direndahkan kalau kita melakukan dengan cara-cara dialog,” katanya saat ditemui di kediamannya, pada Kamis (19/1) pagi.

Menurutnya, kejadian-kejadian yang terjadi selama ini bisa jadi akan menimbulkan ketakutan di tengah masyarakat. Dan ketakutan-ketakutan di tengah masyarakat tersebut bisa saja dimanfaatkan oleh segelintir orang untuk menangguk keuntungan ditengah kekacuan di dalam masyarakat Kalbar.

“Bisa sajakan ini merupakan suatu rekayasa dari tangan-tangan yang tidak bertanggungjawab, yang ingin membuat daerah kita yang sudah cukup harmonis selama ini ingin koyak-koyak disobek-sobek atau dihancurkan, oleh karena itu saya mengajak kepada masyarakat kita siapapun dia dari berbagai unsur itu duduklah bersama, cobalah berempati satu sama lain mengapa persoalan-persoalan itu bisa muncul, coba merekonstruksi persoalan itu agar masing-masing pihak itu menyadari bahwa sebenarnya diantara kita ini tidak ada apa-apa,” paparnya.

Ia mengatakan, bahwa masyarakat sering terlambat menangkap makna dibalik berbagai peristiwa. Bercermin kebelakang, dulu juga pernah terjadi kerusuhan berkali-kali. Setelah terjadi kerusuhan di tangah masyarakat, dengan banyak menimbulkan kerugian, baru disadari bahwa sebenarnya kekecauan tersebut hasil dari adu domba yang dilakuan oleh pihak yang tak bertangungjawab.

“Nah cobalah hal-hal semacam itu dikedepankan kembali. Dalam menyikapi kasus yang berlangsung akhir-akhir ini, mari semua kita duduk sama rendah, bermusyawarah mengedepankan hati nurani, berdialog satu sama lain, coba direkonstruksi kembali awal-awal dari segala persoalan ini, jangan-jangan ada orang lain yang mengobok-obok daerah kita ini, kalau betul itu yang terjadi kan betapa bodohnya kita, betapa ruginya kita kalau terlambat menyadari hal itu,” jelasnya.

Menurutnya, jika kondisi ini terus berlanjut maka tidak akan ada habisnya, dan tidak ada yang dapat diuntungkan. Jika api dipertemukan dengan api maka terbakarlah dia, namun jika api yang panas tersebut ditemukan dengan air yang dingin, tentu persoalan ini bisa selesai.

“Kalau satu pihak sudah minta maaf dan kita maafkan tentu sudah selesai, nah ini yang sekarang ini kurang sepertinya di tengah masyarakat kita, semuanya aksi-reaksi, aksi-reaksi gitu ya kita,” ujarnya.

Dirinya yang juga sebagai dosen di Perguruan Tinggi, dan juga terlibat dalam kehidupan sosial di tengah masyarakat, menyayangkan sikap-sikap seperti itu.

“Oleh karena itu kedepan, saya kira semua pihak itu mestinya mengedepankan hati nurani lah, pikirkan bahwa keutuhan bangsa ini, harmonisasi kehidupan sosial di tengah masyarakat kita itu penting untuk kita jaga bersama-sama,” pintanya.

Chairil berharap,  jika terjadi sesuatu, jangan cepat ditanggapi dan itu seolah-olah dianggap menghina satu dengan yang lainnya. Jika ada yang merasa terhina, dibicarakan secara baik, tak mesti harus dengan membawa simbol-simbol etnik serta agama. Seharusnya masyarakat bisa belajar dari masa lalu, ketika terjadi konfik sosial, banyak orang yang terbunuh, rumah-rumah terbakar, harta benda habis melayang, rumah ibadah juga hancur berantakan.

“Sekarang kita lihat di negara-negara timur tengah, di Suriah, di Irak dan sekarang juga sudah mulai merembet ke Turki misalnya ada bom meledak kemana-mana, itu semuanya meninggalkan derita yang tidak ada habisnya,” ujarnya.

Chairil pun mengajak kepada semua pihak, terlebih kepada organisasi-organisasi sosial kemasyarakatan, agama, untuk mengedepankan pendekatan-pendekatan yang humanis, dan mengedepankan nilai-nilai kemanusiaan.

”Yang perlu kita bela itu nilai-nilai kemanusiaan, bukan nilai-nilai yang lain, nilai kemanusiaan itu yang penting kita bela, kita jaga bersama guna kita hidup bermasyarakat bernegara. Kita harus bisa mengalah, mengalahkan hawa nafsu dunia setan yang ada di dalam diri kita,” paparnya.

Saat ini, lanjutnya, di media sosial, begitu banyak konten-konten yang memicu terjadinya perpecahan antar masyarakat, antar umat beragama, dan celakanya penyebar isu tersebut dari kalangan orang-orang yang berpendidikan.

“Ada berita sedikit, yang bisa saja isinya hoax, langsung disebar ke grup WA, Facebook, macam-macam itulah, nampak sekali itu kalau masyarakat kita seperti mengalami anomali, mengalami suatu sisi kehidupan yang tidak ada aturan, ini saya kira penting kita sadari bersama,” tambahnya.

“Saya menghimbau kepada semua masyarakat, kepada kita, terutama kepada diri saya sendiri, itu yang paling penting, untuk tidak terperangkap pada godaan-godaan hawa nafsu dunia syaitan yang mendorong kita berbuat hal-hal yang tidak baik dalam kehidupan kita di tengah masyarakat yang plural dan majemuk ini, Tuhan memang menciptakan masyarakat kita ini heterogen, majemuk dan oleh karena itu mari kita rawat kemajemukan itu, kita rawat pluralitas itu, kita jaga kita sirami dengan air yang bersih, kita kasih pupuk yang bagus, agar dia tumbuh dengan bagus pula, tapi kalau sekarang ini kita sirami dengan bensin, kita sirami dengan pupuk yang beracun, maka akan hilang kalau itu heterogenitas atau pluraritas di tengah masyarakat kita yang majemuk ini,” paparnya.

Mudah-mudahan, lanjut dia, himbauan yang bertujuan yang baik ini, tidak diterima dengan rasa amarah dari golongan masyarakat tertentu. “Tetapi inilah yang perlu kita sampaikan sebagai seorang pengajar akademisi seorang yang bergerak di bidang kebudayaan juga menghimbau masyarakat kita, mari kita jaga kehidupan kita, mari kita jaga nilai-nilai kemanusiaan kita, agar kehidupan kita yang indah diberikan oleh Allah SWT ini dapat kita pelihara dengan sebaik-baiknya,” pungkasnya.

(Agustiandi/Muh)

Related Posts