GEMATOPAN Serukan Perlawanan Rencana Pembangunan Tugu Kuntilanak

Pontianak, thetanjungpuratimes.com – Protes terhadap rencana Pemerintah Provinsi Kalimantan Barat untuk pembangunan Tugu Kuntilanak mendapatkan protes keras dari masyarakat Kota Pontianak. Salah satu protes keras tersebut disuarakan oleh masyarakat Kota Pontianak yang menamakan dirinya Gerakan Masyarakat Tolak Patung Antu (GEMATOPAN).

Gerakan protes ini dilahirkan setelah pelaksanaan Rapat Aksi yang difasilitasi oleh Komunitas Masyarakat Tahan Lapar (Komunitas Metal) di Kantin Gemilang, jalan Sutan Syahrir Pontianak.

Hadir dalam rapat aksi tersebut puluhan pemuda lintas generasi dari berbagai latar belakang baik dari kalangan aktivis sosial, aktivis kepemudaan, aktivis masjid, arsitek, jurnalis, blogger, akademisi, dan mahasiswa.

Rapat yang dipimpin oleh Beni Sulastiyo ini didahului dengan sharing informasi terkait dengan rencana pembangunan Patung Kuntilanak yang akan dibangun Pemerintah Provinsi Kalbar. Roffi Faturrahman, Ketua IAI Kalimantan Barat yang turut memfasiltasi pertemuan tersebut menjelaskan bahwa sebuah desain bangunan memiliki dampak langsung terhadap psikologi masyarakat.

Sebuah bangunan yang berbentuk menakutkan seperti patung kuntilanak pasti akan memberikan suasana yang menyeramkan bagi masyarakat dan hal itu sangat tidak baik bagi kondisi psikologi masyarakat.

Shabhan, salah seorang arsitek yang hadir dalam rapat aksi tersebut memberikan penekanan yang lebih keras lagi. Ia mengatakan ide pembangunan Patung itu adalah ide yang mengada-ngada. Maka ide tersebut harus ditolak dengan keras. Karena kalau tidak ditolak, bisa jadi Pemprov akan benar-benar membangunnya.

Pandangan Sabhan disetujui oleh Budiman Very, salah satu tokoh penggiat sosial Kalbar. Ia mengaku bahwa dirinya sudah mendengar ide pembangunan patung kuntilanak itu sekitar dua tahun yang lalu.

“Berarti rencana itu bukan ide yang hanya iseng belaka. Akan tetapi akan benar-benar diwujudkan!”.

Pendapat yang sama juga disampaikan oleh Hilmy, seorang arsitektur. Ia juga menyampaikan informasi yang senada bahwa memang benar ide pembangunan patung kuntilanak itu sudah ada sekitar dua tahun yang lalu.

Setelah melakukan sharing informasi, seluruh peserta sepakat untuk menolak dengan tegas tanpa kompromi rencana pembangunan Tugu Kuntilanak itu. Para peserta sepakat bahwa Tugu Kuntilanak itu akan memberikan dampak buruk bagi pengembangan pendidikan anak-anak, remaja dan generasi muda serta berdampak negatif bagi pengembangan peradaban masyarakat.

Seluruh peserta rapat juga memutuskan untuk melancarkan aksi protes dengan cara meminta Walikota Pontianak serta DPRD Kota Pontianak agar menolak secara resmi rencana pembangunan patung kuntilanak tersebut kepada Pemerintah Provinsi.

Selain itu diputuskan pula untuk menggalang dukungan masyarakat melalui media massa, media sosial serta media lain untuk mengajak masyarakat Pontianak melakukan aksi protes terhadap rencana tersebut dengan cara yang santun, cerdas dan tanpa kekerasan.

Untuk mengorganisir aksi protes tersebut, peserta rapat juga sepakat untuk membentuk komite aksi yang diberi nama Gerakan Masyarakat Anti Patong Antu (GEMATOPAN). Peserta Rapat secara aklamasi mendaulat Beni Sulastiyo dan Roffi Faturrahman sebagai koordinator GEMATOPAN.

Kepada awak media, Beni Sulastiyo atau yang akrab disapa Bungben ini mengatakan bahwa ia akan menggalang aksi protes terhadap rencana Pemprov tersebut melalui GEMATOPAN hingga Pemerintah Provinsi membatalkan rencananya.

Ia mengajak seluruh warga pontianak untuk menolak rencana tersebut dengan cara-cara yang tidak melawan hukum. Harus tunjukan bahwa masyarakat Kota Pontianak adalah masyarakat yang kritis tapi santun, gagah berani tapi tak suka dengan kekerasan.

“Mari bersama-sama kita lindungi anak-anak kita dan generasi masa depan bangsa ini dari upaya-upaya jahat yang ingin menumpulkan kualitas intelektual dan spritual anak bangsa”, ajaknya dengan semangat.

(Muh/R)

Related Posts