Opini : ILMISPI Ada untuk Indonesia yang Berkebhinekaan

Pontianak, thetanjungpuratimes.com – Sekilas sejarah perjalanan organisasi Ikatan Lembaga Mahasiswa Ilmu Sosial dan Ilmu Politik se-Indonesia (ILMISPI) yang menghimpun Seluruh SENAT/BEM FISIP Se-Indonesia sejak di deklarasi Pada Tahun 1999 di Institut Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (IISIP) Jakarta melalui Temu Nasional Mahasiswa FISIP se-Indonesia, dan selanjutnya dilaksanakan Kongres I ILMISPI di UNILA – Lampung pada Tahun 2000, melahirkan sebuah kesepakatan bahwasanya selain tujuan ILMISPI sebagai Wadah komunikasi dan Koordinasi Antar Mahasiswa FISIP se-Indonesia, disisi lain ILMISPI juga dijadikan sebagai Wadah Pergerakan untuk menggagas langkah-langkah strategis untuk menyikapi masalah sosial politik yang berkembang di masyarakat dengan metode Dialog, ataupun melalui metode Pergerakan.

Dari dulu hingga kini Ikatan lembaga mahasiswa ilmu sosial dan ilmu politik se Indonesia selalu hadir dalam menjawab berbagai macam tantangan sosial dan politik kebangsaan. Problematika kebangsaan sering dikaitkan dengan persoalan politik yang masih belum menemukan politik kolegial yang memberikan muatan untuk membangun secara bersama-sama demi kemajuan bangsa Indonesia.

Sebaliknya dikotomi politik terus berkembang dan dialam demensi para aktor politik demi menunjukan eksistensi partai politiknya. Sehingga memang tidak bisa dipungkiri bahwa bangsa kita masih perlu untuk terus mendewasakan diri dalam melaksanakan dinamika politik.

Dalam berkehidupan berkebangsaan yang jelas menjadi sorotan utama adalah problamatika sosial yang kian hari semakin menunjukan disparitas dalam segi pembangunan sumber dayanya. Sehingga memunculkan spekulasi-spekulasi dari berbagai macam kalangan bahwa negara gagal dalam melaksanakan amanat UUD 45. Apalagi hari ini bangsa Indonesia di uji kembali rasa persatuan dan kesatuannya dan rasa kebhinekaannya. Padahal hampir 800 tahun nusantara ini hidup dalam keberagaman namun juga belum menjamin rasa persatuan dan kesatuan itu, rasa kebhinekaan itu membudaya dalam diri setiap warga negara.

Ternyata pengalaman masa lalu belum bisa menjadi ibroh ( pelajaran) bagi bangsa ini bahwa setiap disintegrasi bangsa tidaklah memberikan suatu kemajuan bagi bangsa ini melainkan dapat menghantarkan bangsa ini pada kehancuran.

Sekarang bangsa kita  dihadapkan pada alam demokrasi dimana setiap warga negaranya diberikan kebebasan berfikir dan berpendapat, namun kebebasan itu tidak juga menjamin bangsa ini bisa merdeka dan bersatu.

Hal ini menjadi sorotan penting bahwa negara harus mampu menstrukturisasi kebebasan berpendapat dalam kerangka hukum positif negara ini sehingga kebebasan berfikir dan berpendapat tidaklah sebebas-bebasnya sehingga tidak terjadi kebablasan dalam berfikir dan berkebebasan berpendapat.

Tuntutan reformasi, tidak lain adalah terbentuknya tatanan kehidupan kenegaraan yang berkeadilan, berperadaban, demokratis dan humanis, serta pemerintahan yang berkedaulatan rakyat menuju Indonesia baru.

Hal yang patut untuk direnungkan adalah bahwa banyak negara yang gagal membangun demokrasi dimasa transisi karena tidak terkonsolidasinya agen-agen demokrasi. Sama halnya Indonesia , akibatnya yang muncul kembali rezim otoriter baru.

Sejarah cukup banyak menghidangkan babakan peristiwa ketidakmampuan suatu negara untuk menstrukturisasi kebebasan demokrasi menjadi problem tersendiri bagi pemerintah untuk membangun dimensi demokrasi tersebut.  Sepertinya, bangsa ini masih butuh waktu yang lama untuk menyesuaikan diri terhadap prosesi  transisi berbangsa dan bernegara.  Faktor yang masih menjadi musuh besar dalam membangun bangsa ini adalah godaan kekuasaan yang selalu saja menghantui para pemegang kekuasaan. Sehingga praktek-praktek yang inkonsitusional tetap saja terjadi di republik ini.

Rentetan pristiwa diatas membawa alam sadar kita bahwa berbangsa dan bernegara tidak hanya cukup terbawa pada alam sosiologi simbolik yang artinya lebih mengedepan pemaknaan atas simbol-simbol saja namun tidak mampu menginterpretasikan nilai-nilai yang terkandung dalam pesan-pesan simbol tersebut. Sehingga wajar pada implementasi bersikap dan bertindak dalam bernegara bangsa ini masih belum mewujudkannya dalam bersikap dan bertindak yang berbudaya dan beradap.

Menjawab Tantangan Kebhinekaan Dalam Alam Globalisasi

Segala macam problamatika kebangsaan haruslah dijawab dengan solusi untuk kemajuan bersama. ILMISPI hadir dengan semangat kebhinekaan dan rasa persatuan. Pesan-pesan yang ingin disampaikannya adalah bahwa negara dan bangsa ini sudah saatnya kita memikirkan bersama persoalan untuk memajukan bangsa ini walaupun dalam berbagai keberagaman.

ILMISPI sebagai miniatur Indonesia selalu konsisten dan komitmen menjaga rasa persatuan dan kesatuan dalam bingkai kebhinekaan.

Sehingga dalam menjawab persoalan kebangsaan ILMISPI selalu berinovasi dalam memberikan sumbangsih pemikiran untuk membangun peradaban bangsa ini lebih maju dan unggul. ILMISPI tidak hanya berfikir sebagai pressure group bagi pemerintah namun juga sebagai mitra pemerintah jika memang kebijakan-kebijakan pemerintah berpihak pada rakyat Indonesia. Karena ILMISPI berfikir bahwa negara ini tidak akan bisa maju jika bangsanya maju dengan sendiri-sendiri, namun negara ini akan maju jika setiap komponen bangsa mau maju bersama-sama tanpa memandang suku, ras dan agama apapun.

Disinilah key pointnya dalam membangun bangsa dan negara. Sehingga ILMISPI bisa dikatakan sebagai laboratorium berkehidupan sosial dan politik dan berbangsa dan bernegara. Karena ILMISPI tidak pernah bicara soal kepentingan pribadi atau golongan tapi ILMISPI selalu bicara soal membangun bersama-sama, walaupun disana ada suku jawa, suku madura, suku bugis, suku dayak, dan sebagainya, bahkan tidak memandang dari latar agama manapun, karena ILMISPI yakin dan percaya bahwa dengan semangat persatuan dan kesatuan serta memahami bahwa dengan kekuatan keberagaman kita bisa berbuat apa dan mau jadi apa. Sehingga dengan cara itulah cita-cita bangsa bisa terlaksana dan terwujud.

Sudah saatnya bangsa Indonesia bangkit dari segala keterbelakangan dan keterpurukan, sudah waktunya kita lepas landas dari kemiskinan dan kebodohan, sudah saatnya kita berdiri sejajar dengan bangsa-bangsa lain. Tidak ada waktu lagi kita bagi bangsa ini untuk mengurus soal kebhinekaan karena bagi ILMISPI sudah sangat lebih waktu yang 800 tahun itu menjadikan bangsa ini mengamalkan dan membudayakan rasa kebhinekaan itu didalam pengalaman kehidupan sehari-hari bukan malah menjadikan kebhinekaan itu martir untuk memecah belah persatuan dan kesatuan kita.

Karena sesungguhnya tantangan terbesar kita adalah bagaimana bersaing dengan bangsa lain dalam dimensi dunia globalisasi. Maka ILMISPI mengingatkan bagi kita semua komponen bangsa ini mari kita duduk sama rendah berdiri sama tinggi. Kita pandang potensi negara ini dengan segala sumberdayanya untuk kemajuan bangsa. Dan kita jadikan falsafah pancasila sebagai satu-satunya ideologi yang mengiringi setiap gerak langkah kita dalam berkehidupan berbangsa dan bernegara.

Hanya dengan itulah kita bisa menjadi bangsa yang besar dan negara yang maju, serta mampu menangkal segala macam propaganda negatif untuk memecah belah bangsa ini.

Bambang Sudarmono

Pimpinan Nasional ILMISPI

(Maulidi/Muh)

Related Posts