Malaysia Kirim Bantuan untuk Muslim Rohingya

Malaysia, thetanjungpuratimes.com – Perdana Menteri Malaysia Najib Razak melepas kepergian sebuah kapal berisi ribuan ton makanan dan persediaan darurat menuju Myanmar untuk diberikan kepada Muslim Rohingya di negara bagian Rakhine.

Pemerintah Malaysia tidak merinci secara jelas ke mana sebagian besar bantuan itu dikirim. Sekitar 500 ton dari total muatan kapal 2.200 ton diturunkan di kota terbesar Myanmar, Yangon. Namun, rencana untuk menurunkan sisanya ke negara bagian Rakhine, tempat masyarakat Rohingya berada, masih belum diketahui.

“Momen ini bersejarah suatu upaya mulia yang menunjukkan bahwa semua kepedihan dan penderitaan warga Rohingya di Myanmar tidak akan diabaikan,” kata Najib saat berpidato di pelabuhan dekat Kuala Lumpur.

“Kami mendengar kepedihan mereka, mereka yang diperkosa, dibunuh dan dibakar hidup-hidup.”

Najib selama ini bersuara lantang dalam menanggapi berbagai persoalan yang dialami minoritas Muslim Rohingya di Myanmar. Ia mendesak pemerintah negara berpenduduk mayoritas Budha itu menghentikan serangan terhadap umat Muslim Rohingya.

Pemerintah Myanmar, yang dipimpin oleh pemenang hadiah Nobel Perdamaian Aung San Suu Kyi, membantah tentaranya melakukan penyiksaan, pembunuhan, dan pemerkosaan terhadap Muslim Rohingya, berdasarkan pengakuan warga yang lari ke Bangladesh.

Myanmar menegaskan laporan soal kekerasan terhadap warga Rohingnya merupakan kabar palsu dan bersikeras bahwa kerusuhan di Negara Bagian Rakhine, tempat banyak warga Rohingya tinggal, merupakan masalah dalam negeri.

Pasukan keamanan Myanmar melancarkan operasi di Rakhine pada Oktober 2016, setelah sembilan polisi tewas dalam serangan di pos-pos perbatasan. Pemerintah setempat menuding masyarakat Rohingnya, yang dibantu milisi-milisi asing, sebagai pelaku serangan.

Sejak itu, setidak-tidaknya ada 86 orang tewas dan sekitar 66.000 lainnya mengungsikan diri ke Bangladesh. Para pengungsi, warga dan kelompok-kelompok pejuang hak asasi manusia (HAM) mengatakan bahwa pasukan Myanmar telah melakukan kekerasan, termasuk hukuman mati tanpa peradilan serta pemerkosaan.

Kementerian Luar Negeri Malaysia mengatakan dalam pernyataan bahwa Bangladesh telah memutuskan untuk tidak memberikan izin bagi kapal kiriman Malaysia itu untuk merapat di pelabuhan Teknaf, Bangladesh, tempat banyak pengungsi dari Rakhine berada.

Oleh karena itu, Menteri Luar Negeri Malaysia Anifah Aman telah meminta Komisioner Tinggi Bangladesh untuk Malaysia mengupayakan agar keputusan itu diubah.

Myanmar juga belum mengizinkan kapal tersebut berlayar menuju Sittwe, ibu kota Negara Bagian Rakhine.

(Rimanews/Faisal)

Related Posts