Dua Tahun Terakhir, Tujuh Balita Meninggal di Pontianak Akibat Gizi Buruk

Pontianak, thetanjungpuratimes.com – Berdasarkan data dari Dinas Kesehatan Kota Pontianak sejak dua tahun terakhir yakni 2015-2016, sedikitnya tujuh balita meninggal karena kasus gizi buruk. Namun hal itu tidak saja karena gizi buruk, tetapi juga disebabkan penyakit HIV, kelainan jantung, tuberkolosis, ISPA, diare dan lainnya.

Pada tahun 2015 tiga orang anak yang meninggal dunia, sementara tahun berikutnya kembali empat orang balita yang harus kehilangan nyawanya akibat kasus yang sama, sedangkan tahun 2017, sampai bulan Februari ini masih belum ada catatan kematian akibat kasus tersebut.

Data Dinas kesehatan Kota Pontianak mencatat dari tahun 2010 sampai 2016 sejumlah kasus gizi buruk masih menjadi kendala klasik yang tetap ada di kota ini.

Tahun 2010 sebanyak 30 kasus, pada tahun 2011 meningkat menjadi 41 kasus, sementara pada tahun 2012 kembali lagi meningkatkan menjadi 52 kasus. Rentang antara tahun 2013 sampai 2016 dilihat dari data, kasusnya lebih sedikit jika dibandingkan dengan tiga tahun sebelumnya. Pada tahun 2013, 43 kasus, tahun 2014 dengan 29 kasus dan pada tahun 2015, 27 kasus, dan pada tahun 2016, 27 kasus.

Jika dilihat dari geografis, Pontianak Timur dan Pontianak Utara masih menjadi kecamatan yang paling dominan penyumbang jumlah kasus terbanyak dibanding empat kecamatan lainnya.

Kepala Dinas Kesehatan Kota Pontianak, Sidiq Handanu, mengatakan, masalah gizi buruk bukan semata tanggungjawab dari dinas kesehatan, namun semua lintas sektoral juga wajib konsen akan masalah tersebut.

“Kalau masalah gizi bukan semata-mata tanggungjawab dari dinas kesehatan, karena gizi inikan, kompleks mulai dari ketersediaan pangan, perilaku  masyarakat, kemampuan ekonomi, dan seterusnya, makanya untuk masalah gizi di Pontianak itu tak hanya dari dinas kesehatan, ini merupakan lintas sektoral,” paparnya kepada thetanjungpuratimes.com, pada Selasa (7/2).

Namun demikian, Sidiq mengatakan, pihaknya tetap konsen terhadap kasus tersebut dengan cara terus memberikan pemahaman kepada masyarakat agar mau memeriksakan anaknya kepada posyandu, guna memantau tumbuh kembang anak.

“Kalau di sektor kesehatan kami ini adalah penjaga gawang, artinya kita melakukan penimbangan itu setiap bulan, kemudian masyarakat itu diimbau melakukan penimbangan ke Posyandu setiap bulan, kalau ditemukan jangankan gizi buruk, gizi kurang gitu aja ya, kita harus segera waspada jangan sampai anak itu masuk kepada gizi buruk,” tuturnya.

Jika ditemukan adanya kasus gizi buruk, maka pihaknya tetap memberikan makanan tambahan, bahkan kalau memang harus mendapatkan perawatan pihaknya telah mempunyai pusat pelayanan gizi buruk serta dokter spesial anak untuk penyakit tersebut.

“Jadi yang sangat kita harapkan itu adalah kepedulian orangtua, kepedulian masyarakat, laporkan saja kalau ada anak gizi buruk, kami bisa memantau,” tutupnya.

(Agustiandi/Faisal)

Related Posts