Kadis Kesehatan Kota Pontianak : Gizi Buruk karena Perilaku Asuh, Penyakit Infeksi dan Kongenital

Pontianak, thetanjungpuratimes.com – Kepala Dinas Kesehatan Kota Pontianak, Sidiq Handanu, mengatakan, sebagai besar kasus gizi buruk yang ada di kota ini disebabkan oleh perilaku asuh, penyakit infeksi dan kongenital, bukan semata karena kekurangan asupan makanan. Seperti penyakit HIV, kelainan jantung, tuberkolosis, ISPA dan lainnya.

“Ada beberapa kasus yang memang dari kekurangan asupan makanan, tapi masalahnya bukan dari ekonomi keluarga, melainkan lebih ke arah perilaku,” katanya kepada thetanjungpuratimes.com,  Selasa (7/2).

Ia mengatakan, banyak para orangtua yang sibuk bekerja di luar, sehingga sang anak itu diasuh oleh neneknya, atau bahkan pembantu, yang terkadang kurang memahami akan asupan gizi yang baik untuk anak.

“Misalnya orangtuanya kedua-duanya bekerja,  lalu anaknya dititipkan ke neneknya, misalnya. Lalu neneknya memberikan asupan makanan kepada sang anak itu tidak sesuai dengan standar gizi karena memang ketidaktahuan, yang bisa menyebabkan gizi anak kurang, dan tidak mau membawa anaknya ke posyandu, ” paparnya.

Oleh karena itu, Sidiq mengimbau kepada masyarakat agar setiap bulan membawa anaknya ke posyandu terdekat, agar bisa memantau tumbuh kembang anak, jika hal tersebut tak dilakukan maka akan sulit untuk memantau pertumbuhan buah hati mereka.

“Karena tiap bulan kan harus ditimbang, harus dicek, setiap bulan anak harus dibawa ke posyandu,  jadi kita bisa tahu pertumbuhan anak, jika masuk dalam gizi kurang kita bisa memberikan pengobatan tambahan asupan gizi,” ujarnya.

Menurutnya, jika sewaktu balita anak mengidap gizi buruk, maka bisa dipastikan akan berpengaruh tidak baik untuk kualitas sumber daya manusianya di kala dewasa.

“Karena kesehatan itu mengenal seribu hari kehidupan. Seribu hari kehidupan merupakan pintu gerbang emas untuk menentukan kualitas Sumber Daya Manusia,  sejak hamil sampai anak itu berusia dua tahun, itu yang harus dijaga betul gizinya,” ucapnya.

Lebih lanjut menurut Sidiq Handanu, kalau dalam masa seribu hari kehidupan itu kekurangan gizi maka berpengaruh kepada kualitas kepandaian anak itu sendiri. Sehingga sejak hamil sampai anak berusia dua tahun itu memang harus benar-benar dijaga gizinya.

(Agustiandi/Muh)

Related Posts