IAKMI Berharap Untan Menerapkan Kawasan Tanpa Rokok

Pontianak, thetanjungpuratimes.com – Pengurus Pusat Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia (IAKMI) dr Widyastuti Soerojo berharap Universitas Tanjungpura (Untan) bisa jadi universitas ketiga di Indonesia yang menerapkan Kawasan Tanpa Rokok (KTR) setelah Universitas Indonesia, dan Universitas Muhammadiah Prof Dr Hamka.

Menurutnya universitas adalah kawasan pusat ilmu dan budaya bangsa yang jadi panutan masyarakat.

“Di seluruh dunia kecuali Indonesia, mengakui bahwa rokok merusak kesehatan, ekonomi masyarakat lemah, merusak segalanya. Di Indonesia, hanya UI dan Uhamka yang punya aturan kampus bebas rokok, mudah-mudahan Untan yang ketiga,” ucapnya pada seminar Menuju Kampus Bebas Rokok di Fakultas Ekonomi Untan, Kamis (9/2).

Menurutnya, KTR bukan hanya perihal penentuan ruang mana saja yang diperbolehkan sebagai tempat merokok, tapi juga meniadakan promosi, dan kerja sama universitas dengan perusahaan rokok.

Di Jakarta, pihaknya bersama perwakilan 17 universitas sempat datang ke Menristek Dikti untuk menyuarakan hal itu. Kemenristek Dikti pun mengatakan akan membuat edaran, namun hingga kini tak menemui ujung pangkal.

“KTR seratus persen, bukan tidak boleh merokok, boleh, tidak merokok di semua ruang tertutup dan ruang terbuka yang digunakan untuk aktivitas padat lalu lalang orang. Taman kota Pontianak itu bijaksana sekali, karena itu taman main anak sebaiknya tidak ada orang merokok. Merokok boleh, tapi jauh-jauh dari sana,” terangnya.

Di beberapa universitas luar negeri yang sudah menerapkan KTR, jarak yang dipakai antara ruang tertutup dengan tempat diperbolehkan merokok sejauh 7 meter. Kemudian, secara bertahap, tempat itu dihilangkan. Namun, hanya jika orang di sana sudah bisa berhenti merokok.

Sebagai tindak lanjut, penolakan terhadap iklan, promosi atau kerja sama dalam bentuk apa pun, dalam kapasitas institusi dengan perusahaan rokok harus dilakukan.

“Jadi kalau kita secara pribadi terima beasiswa boleh tidak, itu urusan kamu. Jadi ini hanya ruang lingkup institusi, dilakukan oleh perausahaan rokok dan organisasi,” jelasnya.

Promosi atau iklan terselubung lewat warna khas perusahaan rokok dan tagline mereka juga tidak diperbolehkan. Termasuk universitas dilarang menerima dana, baik untuk riset dan sebagainya dari perusahaan tersebut.

“Sebetulnya Untan sudah melakukan langkah pertama, sosialisasi dalam hal ini sudah. Kemudian komitmen Universitas mesti dicari,” katanya.

Usai itu, perlu ada timeline sabagai penggerak ke arah KTR. Penerbitan surat keputusan juga harus dilakukan. Kemudian, harus ada penandaan semisal tulisan “Anda Memasuki Kawasan Tanpa Rokok”.

“Penandaan penting, kemudian orientasi, harus ditetapkan penanggung jawab di semua level yang harus memberikan orientasi. Ini tidak membatasi orang, tapi mengalihkan yang tadinya merokok di sini, jadi merokok di sana. Insaa Allah akan membuat orang terbiasa untuk tidak merokok. Pengembangan, perlu tidak diperbaiki dan bertahap tempat merokok bisa lama-lama hilang,” pungkasnya.

(Agustiandi/Faisal)

Related Posts