Kasus Sabu Bus Eva 5 Kilogram, Keluarga Terdakwa Anggap Janggal Tuntutan JPU

Pontianak, thetanjungpuratimes.com – Kasus penangkapan narkotika jenis sabu di sebuah bus antar negara (Bus Eva) pada 1 Mei 2016 lalu, saat ini sudah dilimpahkan ke Pengadilan Negeri Pontianak.

Kasus yang berhasil diungkap kepolisian Daerah Kalimantan Barat yang melibatkan lima orang tersangka, dua diantaranya warga Negara Malaysia itu sudah pada proses persidangan.

Ternyata pada proses persidangan, tuntutan yang diberikan kepada lima orang terdakwa tak sama. Hal tersebut dikeluhkan oleh keluarga terdakwa.

Agus Suhendra, keluarga dari terdakwa Japar yang merupakan sopir bus Eva, menuding ada kejanggalan terhadap tuntutan yang diberikan oleh Jaksa Penuntut Umum (JPU).

“Saya pribadi, sebagai abang ipar dari Japar, merasa ada yang janggal terhadap tuntutan yang diberikan oleh Jaksa Penuntut Umum,” ucap Agus, Senin (20/2).

Ia menjelaskan tuntutan masing-masing terdakwa tersebut. Japar yang merupakan sopir dituntut 19 tahun penjara, sementara Aseng yang digrebek di kediamannya di Jalan  Kedah, Kelurahan Benua Melayu Darat, Kecamatan Pontianak Selatan, dan didapatkan barang bukti malah dituntut lebih ringan.

“Japar, sebagai sopir bus dituntut 19 tahun, Rijal dan Syafei yang merupakan kurirnya  15 tahun, sedangkan Aseng yang digrebek dirumahnya dan ditemukan bukti serta barang bukti hanya dituntut 15 tahun juga. Sedangkan Darsono yang merupakan supir serap mendapat tuntutan 1,5 tahun,”  paparnya.

Menurutnya barang haram tersebut bukan milik Japar, dan dirinya sendiri pun tak mengetahui barang haram tersebut ada di dalam toilet bus tersebut.

“Keluarga heran mengapa tuntutan berbeda, dan malah sopir yang lebih tinggi. Kami mengeluhkan ancaman jauh beda 19 dan 15 tahun. Sedangkan berita acara pada BAP tidak ada mengarahkan barang tersebut pada Japar tapi pada Rijal,” kesalnya.

Sementara itu, ketika awak media berusaha mewawancarai Hakim Ketua yang memimpin sidang tersebut, dirinya enggan memberikan keterangan. Ia berdalih kalau ia belum bisa memberikan tanggapan terkait tuntuntan tersebut.

“Jangan wawancara dulu, tunggu putusan selesai nanti takut ‘keseleo’,” ucap Hakim Ketua Kusno usai sidang lanjutan  yang digelar Senin (20/2) siang.

Hal serupa juga disampaikan oleh Jaksa Penuntut Umum (JPU) Yuse, ia juga tampak acuh tak acuh saat wartawan berusaha mewawancarai dia.

“Jangan saya lah, ke kantor saja dengan humas,” singkatnya.

(Agustiandi/Faisal)

Related Posts