Komisi X DPR RI Tanggapi Tidak Adilnya BOPTN

Pontianak, thetanjungpuratimes.com – Komisi X DPR RI melaksanakan Kunjungan Kerja ke Universitas Tanjungpura (Untan) dalam rangka Masa Reses Masa Persidangan lV Tahun Sidang 2016/2017 bertempat di gedung Rektorat Untan lantai tiga, pada Rabu (3/5) sore.

Dalam kunjungan kerja tersebut, dihadiri oleh Rektor Untan, Prof Dr Thamrin Usman DEA, beserta jajaran Dekan, Rektor Universitas Panca Bhakti Pontianak, Rektor Universitas Muhammadiyah, dan beberapa Direktur Politeknik yang ada di Provinsi Kalbar.

Ketua rombongan Tim Komisi X DPR RI, Drs Abdul Fikri Faqih MM yang juga didampingi perwakilan dari Kementerian Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi tersebut menanggapi permasalahan yang dikemukam, diantaranya adalah masalah tidak adilnya Bantuan Operasional Perguruan Tinggi Negeri (BOPTN).

Abdul Fikri Faqih yang juga menjabat sebagai Wakil Ketua Komisi X tersebut menanggapi, hal tersebut  menurutnya, BOPTN sudah ada Panitia Kerja (Panja) dan saat ini tinggal menunggu tindaklanjut dari menteri.

“Rekomendasi Panja itu bahwa BOPTN harus adil merata kemudian memperhatikan supaya Uang Kuliah Tunggal (UKT) tidak memberatkan, karena UKT sama dengan UKT dikurangi BOPTN,” jelasnya.

Kata dia, jika BOPTN tidak dinaikkan maka akan memberatkan UKT siswa, dan hal tersebut menurutnya sudah disampaikan.

“Sedikit demi sedikit sesungguhnya sudah naik, termasuk juga bidik misi walaupun hanya naik sedikit hanya Rp.50 ribu,” papar dia.

Menurutnya, walaupun tuntutan tersebut sudah dipenuhi sebagian, tetapi belum cukup menggembirakan, sehingga nantinya akan ia perjuangkan lagi dan berharap Menristek Dikti bisa menindaklanjutinya.

Dia menjelaskan, tidak adilnya pembagian tersebut, karena adanya tingkat kesulitan yang berbeda seperti di pulau Jawa dengan transportasi yang mudah serta modal dasar karena lebih dahulu, sehingga banyak fasilitas yang sudah dipenuhi.

“Tentu itu berbeda dengan yang baru maka meski perhatian lebih dahulu apalagi melesat lebih dahulu seperti 10 perguruan tinggi terbesar di Indonesia sehingga Go Internasional sangat mudah,” lanjutnya.

Sementara dari penuturannya Universitas yang berada diluar Jawa yang baru di Negeri kan jika diperlakukan sama dan tidak diperhatikan terutama sarana dan prasarananya tentu akan sulit untuk mengejarnya.

“Untuk mengejar vokasi maka itu menjadi tidak adil jika diperlakukan sama,” pungkas dia.

(Maulidi/Muh)

Related Posts