Grup Tanjidor Kijang Berantai Sambas Ternyata Telah Keliling Indonesia dan Go Internasional

Pontianak, thetanjungpuratimes.com – Grup Tanjidor Kijang Berantai (Kiber) Kabupaten Sambas ternyata telah melanglang buana  keliling Indonesia sampai dunia internasional. Meski alat musik tradisional ini mulai tak banyak diminati kalangan anak muda, namun eksistensinya tetap terpelihara hingga sampai saat ini.

Ketua Tanjidor Kijang Berantai, Hamdi (50) mengatakan, mereka tampil tidak hanya pada acara kebudayaan dan hajatan pernikahan saja, namun tak jarang mereka juga unjuk gigi di agenda-agenda perhelatan akbar yang dilaksanakan oleh pemerintahan.

“Tidak hanya pada acara nikahan saja, kami juga pernah diundang oleh Kerjaan Malaysia untuk tampil di sana,” katanya saat mengisi acara Dragon Boad and Bidar Race 2017 di Taman Alun Kapuas Kota Pontianak yang merupakan rangkaian kegiatan Dies Natalis Universitas Tanjungpura (Untan) yang ke 58, Sabtu (13/5) siang.

Hamdi mengatakan, sejak grup kebudayaan khas  Melayu Sambas ini terbentuk tahun 1989, sejumlah daerah di Indonesia pun kerap dijajaki untuk menghadiri dan mengisi acara budaya. Festival Keraton se Indonesia di Cirebon, Jakarta Fair, Budaya Nusantara di Taman Mini Indonesia Indah, Visit Indonesia, Musabaqah Tilawatil Quran (MTQ) tingkat Nasional di Jogyakarta, merupakan sederet acara dan tempat yang pernah mereka kunjungi untuk melantunkan musik yang sangat mirip dengan kebudayaan Betawi Jakarta ini.

“Kalau di Kalimantan Barat hampir semua daerah sudah pernah kita main,” ucap pria yang berdomisili di Desa Penakalan Kecamatan Sejangkung kabupaten Sambas tersebut.

Namun Ia mengaku kebudayaan Tanjidor  mulai ditinggalkan genarsi muda, terlebih saat ini sudah banyak alat musik modern yang masuk ke Sambas. Terlihat hampir semua musisi tanjidor rata-rata berusia diatas 50 tahun. Namun demikian, dirinya bersama rekannya tetap mempertahankan kebudayaan yang menjadi satu diantara tradisi kebanggaan kabupaten paling utara di Provinsi Kalimantan Barat tersebut.

Untuk menghindari Tanjidor benar-banar hilang di tanah Sambas, ia bersama rekannya berinisiatif mengajarkan kebudayaan khas tersebut ke genarasi muda. Dirinya tidak ingin kebudayaan yang menjadi kebanggan masyarakat Kabupaten Sambas ini lekang dimakan zaman, seiring perkembangan teknologi yang semakin kencang saat ini.

“Kita kalau ada waktu luang tetap mengajarkan ke anak-anak mulai dari yang SD, minimal ke anak sendiri pasti kita ajarkan. Sayang kalau budaya ini sampai hilang. Alhamdulillah anak-anak masih mau belajar,” ujarnya.

Tak hanya lagu-lagu zaman dahulu, lagu-lagu terbaru pun bisa dimainkan oleh musisi yang biasa tampil pada perayaan kebudayaan ini. Sampai hari ini tanjidor masih dijadikan oleh masyarakat Melayu Sambas sebagai instrument utama untuk mengarak pengantin pada pesta pernikahan.

(Agustiandi/Muh)

Related Posts