Lima Kelemahan Pelaksanaan dan Pembinaan Koperasi Perkebunan

Sintang, thetanjungpuratimes.com – Sekretaris Daerah (Sekda) Sintang, Yosepha Hasnah, mengatakan, ada lima permasalahan yang menyebabkan lemahnya pelaksanaan dan pembinaan koperasi Perkebunan di Kabupaten Sintang.

Lima masalah yang disampaikan tersebut yakni, yang pertama belum maksimalnya sosialisasi mengenai pola pembangunan perkebunan yang ditawarkan. Kedua, lemahnya posisi tawar koperasi dalam melakukan MoU. Ketiga, kurangnya sosialisasi tentang perjanjian kemitraan. Keempat, lemahnya koperasi dalam menentukan harga tanda buah segar, dan pola skim kredit komersil untuk pembangunan perkebunan yang berpihak kepada petani. Serta lemahnya sumberdaya manusia koperasi perkebunan sehingga mengakibatkan tata kelola koperasi kurang baik.

Hal tersebut disampaikan oleh Yosepha Hasnah saat membuka kegiatan penyuluhan atau sosialisasi Koperasi Perkebunan di Kabupaten Sintang  tahun 2017 yang diselenggarakan oleh Dinas Koperasi, UKM Provinsi Kalimantan Barat di Aula Gedung Sentral CU Keling Kumang, Sintang, pada Selasa (23/5).

Yosepha berharap, dengan adanya kegiatan sosialisasi tersebut bisa meningkatkan kualitas sumber daya manusia di lingkungan koperasi perkebunan sawit dalam rangka mengembangkan dan memberdayakan ekonomi kerakyatan.

“Ini merupakan bentuk komitmen pemerintah untuk melakukan pembinaan dan pemberdayaan pada koperasi. Kegiatan ini juga merupakan bagian proses dari reformasi koperasi, sebagaimana telah diprogramkan oleh pemerintah pusat,” ucapnya.

Sementara itu, Kepala Bidang Pemberdayaan Koperasi mewakili Kepala Dinas Koperasi, UKM Provinsi Kalimantan Barat, Evi TA Silalahi, dalam sambutannya mengatakan, bahwa koperasi merupakan wadah bagi para petani plasma di perusahaan-perusahaan perkebunan.

“Ada banyak konflik yang terjadi antara para petani plasma dan perusahaan inti, hal ini haruslah dijembatani oleh koperasi yang seyogyanya sehat dan baik. Dan disinilah peran kita sebagai pemerintah untuk menjembatani perbedaan yang ada tersebut, dengan cara memberikan pengetahuan berkoperasi dan peningkatan kapasitas sumber daya manusia koperasi perkebunan itu sendiri,” papar Evi.

Secara terpisah, Ketua Panitia Pelaksana kegiatan, H Suryadharma, menyampaikan, bahwa sosialisasi yang digelar tersebut bertujuan untuk pengenalan dan perbaikan mengenai koperasi perkebunan yang berkualitas.

“Untuk memberikan solusi bagi koperasi perkebunan atas konflik yang terjadi antara perusahaan inti dan para petani plasma,” terang Surya.

(Lingga/Muh)

Related Posts