Nur Iskandar: Media Sosial Dijadikan Alat Provokasi

Pontianak, thetanjungpuratimes.com- Kondisi Kalimantan Barat yang sempat memanas pada beberapa bulan lalu tidak terlepas dari aktifitas warganet, yang menggunakan media sosial sebagai alat provokasi, sehingga mereka yang tidak melihat langsung kejadian di lapangan, dengan ringan mengeluarkan argument, bahwa yang mereka lihat di media sosial adalah benar apa adanya, padahal itu bertolak belakang dengan kondisi sebenarnya.

Menanggapi hal tersebut, Nur Iskandar selaku Ketua Bidang Media Massa, Hubungan Masyarakat dan Sosialisasi, Forum Koordinasi Pencegahan Terorisme (FKPT) Kalimantan Barat mengeluarkan pendapatnya terhadap para pengguna media sosial, di antaranya yang menjadikan media sosial sebagai alat provokasi.

“Pengguna media sosial memiliki  dua sisi, ada yang menggunakannya untuk provokasi, di satu sisi ada pihak-pihak menggunakan media sosial untuk menyejukkan, tetapi kalau kita lakukan pengamatan yang memprovokasi dan mengagitasi jauh lebih besar, bahkan viral,” katanya pada dialog literasi media di salah satu hotel di Pontianak, Rabu (13/07).

Bahkan, katanya ada yang menggoreng naskah-naskah itu, sehingga kondisi Kalbar saja yang terbaru, itu sudah seperti mau perang. Bahkan dari luar provinsi bertanya-tanya apa benar kondisi Kalbar seperti itu.

“Kita yang berada di lapangan yang bekerja sebagai jurnalis, yang bekerja memverifikasi dan melakukan konfirmasi, kita tahu, bahwa ini lokal, bahwa ini masih bisa dibendung, diamankan, dan mereka mencari referensi,” katanya

Dirinya bersama FKPT Kalbar berkeinginan untuk membentuk individu yang bisa bekerja sama dalam menyebarkan informasi dengan sejuk dan fakta.

“Kita ingin memperbesarkan individu-individu yang bisa membantu menyejukkan, dan bisa dijadikan referensi untuk memferivikasi sebuah peristiwa itu hoax atau bukan, hatespeech atau bukan, penistaan atau bukan. Ini yang kita lakukan bersama-sama,” katanya.

Dijelaskannya, pada dialog literasi media tersebut, FKPT Kalbar mengundang dan melibatkan langsung para generasi muda karena mereka generasi Z.

“Para generasi muda memiliki investasi waktu lebih panjang, mereka menyadari lebih dini untuk berkecimpung di zamannya. Zaman ini zaman internet, netizen, generasi Z. kemudian kita juga melihat data yang menjadi pelaku teroris itu sebagian besar remaja dan mahasiswa, oleh karena itu kita melibatkan generasi seusia dengan mereka, sehingga titik sentuhnya efektif,” jelasnya.

Saat ini tidak dapat dipungkiri media sosial melakukan perekrutan secara tertutup terkait terorisme, FKPT merasa prihatin.

“Kita prihatin, kalau Undang-Undang dan aturan termasuk norma-norma bisa ditegakkan, maka media sosial dapat bermanfaat  positif, jika tidak maka media sosial dapat menjadi tempat perekrutan diam-diam, tempat belajar merakit bom diam-diam yang kemudian ketika kita lengah, lantas kita tersentak terjadi aksi teroris di daerah kita,” pungkasnya.

(Sukardi/Faisal)

 

Related Posts