Baru Diperbaiki, Jalan Podorukun Rusak Kembali

Kayong Utara, thetanjungpuratimes.com – Ikatan mahasiswa Seponti (IMS) melalui ketua Bidang Hubungan Masyarakat Habib Fuadzil, mengatakan bahwa kondisi jalan, dan Infrastruktur di Kecamatan Seponti, khususnya di Desa Podorukun yang belum lama diperbaiki kondisinya kembali rusak bahkan cenderung hancur.

Hal tersebut menurutnya merupakan sesuatu yang memalukan, karena status proyek pengerjaan jalan tersebut merupakan pekerjaan pemerintah daerah Kayong Utara yang diembankan kepada CV A. Ia menduga dalam pelaksanaannya, CV tersebut tidak bekerja sesuai dengan spesifikasi yang telah ditetapkan.

“Bisa kita lihat sendiri kondisi saat ini dengan jangka waktu kurang lebih satu tahun pasca pengerjaan jalan telah hancur bahkan berlubang bak sumur di tengah jalan,” ujar Habib pada Selasa (18/7).

Berdasarkan keterangan dari warga setempat bernama Dari (60), mengatakan bahwa kondisi jalan seperti itu sangat menyengsarakan, dan menghambat mobilitas warga, terlebih bagi dirinya yang telah berumur lanjut. Ia mengaku pernah jatuh dari sepeda motor karena menghindari jalan yang rusak tersebut.

Dirinya berpesan kepada setiap kontraktor pembangunan jalan agar bekerja sesuai aturan, tidak hanya mengejar untung yang banyak namun kualitasnya menjadi kurang baik.

Selain itu, ia juga menyinggung tentang pengelolaan pendapatan untuk Desa dari hasil pertambangan batu (Galian C) yang ada di desa tersebut.

Ia mengaku sangat geram terhadap oknum pengelola tambang tersebut yang dinilainya tidak amanah, sehingga pendapatan atas hal itu tidak terserap bagi kepentingan pembangunan Desa.

“Pendapatannya masuk kocek sendiri, mohon ditertibkan, kalau perlu pengelolaannya diambil alih oleh Pemerintah Daerah,” ujar Dari.

Senada dengan Dari, Masruri (20), yang juga merupakan warga Desa Podorukun menambahkan bahwa kondisi jalan tersebut sudah lama rusak kembali.

Ditambah lagi akhir-akhir ini dengan meningkatnya kebutuhan bahan baku batu untuk material proyek, mobilitas kendaraan bak terbuka lebih intens karena digunakan sebagai sarana transportasi untuk membawa bahan material keluar dari Desa tersebut.

“Otomatis jalan yang di lalui kendaraan itu kondisinya makin parah,” ucapnya.

(R/Imam/Faisal)

Related Posts