Karya Sanggar ‘Kumang Pegari’ Sentuh Pasar Manca Negara

Kapuas Hulu, thetanjungpuratimes.com – Sanggar Kumang Pegari adalah satu sanggat yang di kabupaten Kapuas Hulu yang bergerak dibidang kerajinan daerah.

Sanggar yang telah berdiri semenjak tahun 1994 ini memproduksi pakaian adat, dan kerajinan tenun. Bahkan produk dari sanggar ini sudah menyentuh pasar manca negara.

Ketua Sanggar Kumang Pegari, Susana Rinjak, mengatakan, produksi pakaian adat, dan kerajinan tenun sanggarnya lebih ke motif khas Dayak Iban. Untuk pakaian adat itu sendiri diproduksi secara manual oleh kelompok sanggar, ada pakaian khusus pria dan juga wanita.

“Kami memproduksi pakaian adat Iban untuk pria dan wanita itu memakan waktu sekitar satu bulan,” ujarnya, saat ditemui di stand pameran kegiatan HUT PPNI Kalbar, Jumat (21/07).

Terkait kain yang pihaknya gunakan untuk pakaian adat, kata Susana itu adalah kain tenun Sidan. Ada kelompok tenun yang bekerjasama dengan Kumang Pegari untuk membuat kain itu.

“Sanggar kami ini merangkum keseluruhan pengrajin, sampai sekarang ini ada 30an orang,” tuturnya.

Dijelaskan Susana, untuk pakaian adat pria kelengkapannya adalah sirat (cawat) dengan baju, seda selendang, rok dengan asesoris.

“Kemudian yang membedakan Iban dengan suku Dayak lainnya yaitu mahkota,” papar Susana.

Masalah harga, Susana mengatakan untuk perempuan dibanrol Rp2,5 juta, sedangkan yang pria dibandrol Rp1,9 juta. Harga tersebut merangkum pakaian adat lengkap dengan asesorisnya.

“Produk kami cukup bersaing, terutama kain tenun. Walau harganya mahal tetap dicari,” kata dia.

Untuk pemasaran pakaian adat ini sendiri, kata Susana lebih banyak dibeli masyarakat Kalimantan Barat. Namun persebaran penjualan untuk nasional, kata dia, sudah pernah dibeli warga Kupang dan Bali.

“Untuk keluar negeri, pakaian adat kami pernah dibeli masyarakat Kuching dan Kuala Lumpur,” tuntasnya.

(Yohanes/Faisal)

Related Posts