BNNP Kalbar: 100 Kg Sabu Sudah Masuk Kalbar hingga Bulan Juli 2017

Pontianak, thetanjungpuratimes.com – Hingga Juli 2017 seberat 100 kilogram narkotika jenis sabu masuk ke wilayah Kalimantan Barat. Data tersebut disampaikan oleh Badan Narkotika Nasional Provinsi (BNNP) Kalimantan Barat.

Kepala BNNP Kalbar, Brigjend Pol. Nasrullah menjelaskan sampai bulan Juli ini, barang bukti hingga 100 kilogram, diperkirakan jumlah tersebut baru 20 persen saja, sedangkan 80 persennya kira-kira 400 kilogram tidak tercover, sehingga dapat dinikmati oleh 65.000 orang pecandu di Kalbar.

Karena yang kita tangkap itu sudah yang ketiga kalinya, berarti yang kedua mereka sudah lolos, ketiga kalinya baru tertangkap, Kebetulan yang 2 kg itu baru main tahun ini, dari hasil pemeriksaan, yang kita tangkap itu untuk ketiga kalinya, berarti yang dua memang sudah lolos,” ungkapnya, Senin (24/7) siang.

“BNNP Kalbar sampai saat ini belum pernah menangkap barang narkotika melalui jalur laut, yang ada bahkan barang dari keluar daerah, ada informasi melalui laut, seperti pada tahun lalu ada 40 kilogram ditangkap oleh BNN di Jakarta, kemudian 10 Kilogram dari Kalbar melalui laut, kemudian ditangkap oleh Polda Metro Jaya, menggunakan truck dan kapal Bahari, kemudian si sopir menggunakan pesawat ke Tanjungperiuk, selanjutnya baru bawa melalui kendaraan lalu ketangkap,” katanya.

Disampaikannya dari TNI AL juga menyampaikan tetap berupaya semaksimal mungkin dengan segala kemampuan, ataupun keterbatasan untuk memantau itu, dan pihaknya tidak ada kontak langsung, ataupun menerima informasi dari Malaysia.

“Walaupun sering meminta info ke KJRI,  di sana tidak pernah ada tangkapan sampai kiloan, namun banyak barang kilo-kiloan masuk wilayah kita. Kalau hasil Deputi pemberatasan yang sering kontak, ataupun ada kerjasamanya dengan pihak Malaysia, maupun negara-negara lain, di dalam perjanjiannya harus ada tukar-menukar informasi, tapi faktanya tidak jalan, tahunya kita tangkap-tangkap saja tanpa ada informasi dari sana. Kecuali kemarin satu ton ada informasi terlebih dahulu dari kepolisian Taiwan, maka polisi Indonesia lebih awal untuk antisipasi,” pungkasnya.

(Sukardi/Faisal)

Related Posts