Mahasiswa Untan Lakukan Reklamasi Tailing Bekas Tambang Emas

Landak, thetanjungpuratimes.com – Reklamasi tailing bekas tambang emas rakyat di wilayah Menjalin kabupaten Landak Kalbar, menjadi kebutuhan mendesak untuk segera dilakukan.

Salah satu kegiatan reklamasi adalah revegetasi (penanaman) di tailing. Disebabkan karena rendah atau bahkan tidak adanya bahan organik di tailing, maka aplikasi kompos untuk keberhasilan penanaman sangat diperlukan.

Celah inilah yang kemudian digunakan sebagai ajang pengabdian kepada masyarakat oleh 30 mahasiswa dari fakultas kehutanan dan MIPA, melalui kegiatan KKN PPM dengan tema: produksi kompos untuk mendukung keberhasilan reklamasi lahan tailing bekas tambang emas rakyat.

Kegiatan ini dibimbing oleh Dr. Wiwik Ekyastuti dan Dr. Dwi Astiani, keduanya dosen fakultas kehutanan Untan.

Dijelaskan Wiwik Ekyastuti (dosen pembimbing) Kegiatan ini dilakukan di dua desa yaitu desa Menjalin dan desa Sepahat kecamatan Menjalin kabupaten Landak Kalbar, dengan waktu satu bulan, 13 Juli hingga 13 Agustus.

“Sebelum terjun ke lapangan, ke 30 mahasiswa tersebut telah mendapatkan pembekalan secara komprehensif tentang pembuatan kompos berbahan dasar sampah organik di kampus,” kata Wiwik Ekyastuti.

Ketika di lapangan, lanjutnya, mahasiswa menularkan ilmu tersebut kepada masyarakat dan melakukan pendampingan dalam mengukur keberhasilan pembuatan kompos.

“Pada prinsipnya pembuatan kompos berbahan dasar sampah orgaik terdiri dari 3 tahap,” jelasnya.

Tahap yang pertama adalah pembuatan starter dekomposer dan masyarakat diajarkan untuk memanfaatkan sampah kulit buah-buahan, ragi tempe atau ragi tape dan larutan gula untuk menumbuhkan mikroorganisme yang akan bertindak sebagai dekomposer.

Tahap kedua pembuatan bibit kompos. Setelah mikroorganisme berhasil ditumbuhkan di tahap yang pertama, selanjutnya digunakan untuk membuat bibit kompos menggunakan campuran sekam dan dedak padi.

Bibit kompos nanti akan digunakan dalam proses pengomposan bahan organik yang sesungguhnya. Lamanya pembuatan bibit kompos ini lebih kurang 1 minggu.

Tahap ketiga adalah proses pengomposan itu sendiri. Bahan dasar kompos digunakan sampah organik baik yang berasal dari sampah dapur (sisa-sisa sayuran dan buah) maupun serasah dari pekarangan dan ladang.

Setelah sampah organik dicacah kemudian diberi bibit kompos dan ditutup supaya tidak terkena hujan. Proses pengomposan akan berjalan selama lebih kurang 2 minggu. Kompos yang baik setelah jadi akan berwarna coklat kehitaman, kering, dan tidak berbau.

“Diakhir kegiatan KKN PPM ini mahasiswa juga mengajarkan bagaimana mengemas kompos menjadi komoditi yang dapat dijual, selain dimanfaatkan untuk revegetasi tailing di lingkungan mereka,” jelas Wiwik Ekyastuti

Kegiatan ini juga mendapat tanggapan positif dari masyarakat setempat, hal itu dikatakan Menik satu diantara peserta KKN.

“Alhmdullah kegiatan ini sangat bermanfaat bagi kami mahasiswa dan masyarakat setempat, kegiatan ini juga mendapat tanggapan positif dari masyarakat terlihat antusias masyarakat dalam mengikuti kegiatan yang kami lakukan beberapa hari ini,” jelasnya.

Menurutnya, antusias warga yang mengikuti kegiatan dikarenakan sebagian besar mata pencaharian warga bersumber dari sawah, dan perkebunan yang secara tidak langsung memerlukan pupuk.

Oleh : Yusril lapmi pontianak

(R/Agustiandi/Faisal)

Related Posts