Pengrajin Buluh di Kapuas Hulu Tak Dapat Perhatian Pemerintah

Kapuas Hulu, thetanjungpuratimes.com – Edijamian, seorang pengrajin buluh di kota Putussibau ini kerap membuat minatur-miniatur unik dan menarik dari buluh. Beberapa diantaranya ada menara Eiffel Prancis, betang Sungai Uluk Palin yang merupakan cagar budaya betang tertua di Indonesia yang kini sudah hangus terbakar, dan masih banyak lagi. Sayangnya potensi Jamiaan tidak mendapatkan perhatian dari pemerintah.

“Sampai sekarang belum ada bantuan untuk saya dari Pemerintah,” ujarnya saat ditemui di pasar Merdeka, Minggu (30/7).

Edi mengharapkan, ada bantuan alat pengrajin, alat penyimpan hasil kerajinan buluh agar tahan lama. Kemudian apabila memungkinkan disediakan galeri khusus untuk menjual hasil kerajinannya,

“Ini harapan saya kepada pemerintah,” ujarnya.

Terkait kerajinan miniatur buluh, Edi mengatakan itu ia dapatkan secara autodidak. Ia pun sengaja memilih buluh karena material itu tidak bertentangan dengan aturan Pemerintah.

“Kalau saya produksi massal menggunakan rotan atau kayu, tentu akan ambil dari hutan. Bisa-bisa ditangkap Polisi Kehutanan, karena tidak dibolehkan pemerintah. Sebab itu saya pilih buluh,” ujarnya.

Untuk harga karya miniaturnya, kata Edi itu bervariatif, tergantung kerumitan pembuatannya. Dijelaskannya untuk yang termurah adalah pembuatan perahu, dimana kisaran hargannya adalah Rp50 ribu, sedangkan miniatur untuk menara Eiffel Prancis dijualnya dengan hargaRp500 ribu.

“Untuk lama pembuatan perahu kecil, itu satu hari bisa beberapa buah. Sedangkan kalau minatur menara Eiffel itu beberapa minggu,” paparnya.

Edi mengatakan, dirinya juga siap menerima pensanan miniatur dari masyarakat.

“Tinggal datang saja ke rumah saya, di belakang kubur cina, depan terminal Putussibau kota,” ujarnya.

(Yohanes/Faisal)

Related Posts