Ayam Potong di Landak Langka

Landak, thetanjungpuratimes.com – Ketersediaan ayam potong di pasaran di Kabupaten Landak mulai langka. Pantauan di pasar rakyat Ngabang pada Selasa (1/8) pagi, terjadi kelangkaan terhadap ayam potong.

Menurut pengecer ayam potong di pasar tersebut, Kasmiliadi, kelangkaan ayam potong itu sudah terjadi sejak tiga hari lalu.

“Kelangkaan ini pun mungkin disebabkan adanya pembibitan ayam yang kurang. Ditempat saya, bibit ayam potong dipasok dari Kota Singkawang dan Sungai Pinyuh Mempawah. Selain didatangkan dari dua daerah itu, saya pun pelihara sendiri. Harga bibit ayam juga mengalami kenaikan dari Rp.550 ribu per kotak, sekarang naik menjadi Rp.700 ribu per kotak dengan isi sebanyak 100 ekor,” ujar Kasmiliadi, Selasa (1/8) di pasar sayur Ngabang.

Langkanya ayam potong di Landak juga diikuti dengan naiknya harga ayam potong.

“Untuk saat ini, harga ayam potong yang sudah bersih sebesar Rp.45 ribu per kilo. Ada juga yang dijual seharga Rp.50 ribu per 1kilo. Biasanya harga ayam potong yang sudah bersih sebesar Rp.38 ribu per kilo,” jelas pria yang biasa disapa Ojok ini.

Ia juga menduga, langka dan mahalnya harga ayam potong tersebut dikarenakan pakan ternak yang juga mahal. Untuk saat ini harga pakan yang dinilai baik dijual seharga Rp. 410 ribu per karung ukuran 50 Kg.

“Nah, kalau bibit ayam mahal tapi pakannya murah, harga ayam potong akan murah juga,” katanya.

Ia mengaku, akibat mahalnya harga ayam potong, masyarakat kurang berminat untuk membeli ayam.

“Paling yang masih membeli ayam seperti pemilik rumah makan dan peraih yang menjual ayam di kampung-kampung. Tapi meskipun demikian, stok ayam yang dibelinya menurun. Seperti peraih yang biasanya membeli ayam sebanyak sepuluh ekor, sekarang hanya mampu membeli empat ekor. Demikian juga dengan pemilik rumah makan yang biasanya membeli lima ekor, sekarang hanya membeli empat ekor saja,” keluhnya.

Sementara itu, salah satu penjual ayam di pasar rakyat Ngabang, Ana mengaku jika saat ini ia menjual ayam seharga 48 ribu per kilo.

“Biasanya saya jual Rp.38 ribu per kilo. Itu sudah harga yang paling tinggi,” ujarnya.

Ia juga mengaku jika saat ini ketersediaan ayam potong memang langka.

“Adapun stoknya, tapi ayamnya kecil-kecil. Akibatnya, daya beli konsumen berkurang. Hari ini saja saya menjual ayam hanya 60 ekor. Biasanya mencapai 100 ekor per hari. Penjualannya turun 50 persen,” ungkapnya.

(NY/Muh)

Related Posts