DBD Renggut Nyawa Satu Balita di Kapuas Hulu

Kapuas Hulu, thetanjungpuratimes.com – Demam Berdarah Dengue (DBD) kembali terjadi di Kapuas Hulu. Menurut catatan Dinas Kesehatan Kapuas Hulu pada tahun 2017 ini DBD renggut nyawa seorang balita.

Kasi Pencegahan dan Pengandalian Penyakit Menular, Suhardiyanto menjelaskan, balita yang meninggal tersebut karena DBD di kecamatan Empanang, tepatnya lokasi kebun sawit Serawi.

“Nama balita itu Radit umurnya empat tahun, dia meninggal tanggal 26 Juli lalu. Dia adalah anak buruh sawit dan orangtuanya asal NTT,” paparnya, Senin (21/8).

Pria yang karib disapa Yanto ini mengatakan, sampai dengan tanggal 15 Agustus 2017 sudah ada 39 kasus DBD. Keseluruhan pasien dari kasus tersebut sudah dipulangkan.

“Diluar 39 kasus ini ada lagi enam kasus lagi, enam orang ini dirawat di RSUD dr Ahmad Diponegoro Putussibau,” ungkapnya.

Menurut Yanto, sebagian kasus DBD yang terjadi telah dilakukan penyelidikan epidemiology untuk melihat dari mana sumber penyakit, kemudian apa ada dampak ke masyarakat lain. Penyeledikan itu juga melihat angka bebas jentik nyamuk.

“Dari penyeledikan itu kalau benar DBD, maka pihak puskesmas membagi abate dan masyarakat bisa minta secara gratis ke mereka. Sedangkan fogging fokus itu alternatif terakhir,” papar Yanto.

Foging fokus sejauh ini sudah dilakukan di kecamatan Putussibau Utara tepatnya di Datah Dia’an dan Dogom, lalu di kecamatan Putussibau Selatan di sekitar Kedamin, kemudian kecamatan Bunut Hulu di desa Semangut, berikutnya di kecamatan Empanang tepatnya di Serawi ada 4 devisi yang di fogging.

“Kalau untuk RSUD Putussibau itu setiap 10 hari sekali fogging, terakhir ini tanggal 18 Agustus. Itu untuk mencegah penularan antar pasien,” paparnya.

Menurutnya, fogging tersebut hanya sementara mencegah DBD, namun untuk menghentikan penularannya adalah dengan memberantas jentik nyamuk, dan itu harus dari masyarakat juga.

Pemberantasan sarang nyamuk adalah dengan cara menguras tempat penampungan air, menutupnya, mengubur barang barang bekas. Kemudian pakai anti losion dan pemasangan kawat nyamuk.

“Nyamuk aides egypti (penular DBD) biasanya keluar pada puku 06.00 WIB hingga 10.00 WIB kemudian pukul 14.00 hingga 16.00 WIB. Jam segini anak-anak harus diberi locion anti nyamuk,” tegas Ade.

Ciri awal DBD, kata Ade, panas tubuh penderita tidak turun-turun hingga empat hari, lalu pada hari ke lima, enam sampai tujuh demamnya turun seketika. Ini adalah fase pelana kuda dan sangat berbahaya, penderita DBD bisa syok.

“Kalau satu dua hari panas tidak turun silahkan ke puskesmas, jangan sampai telambat. RSUD Putussibau juga ada 3 orang dokter anak. Ini lebih cepat dalam penanganan DBD terahadap balita,” tuturnya.

Lebih jauh, Ade menjelaskan bahwa Kapuas Hulu sekarang ini memasuki siklus DBD. Sebab itu sejak jauh hari Dinkes Kapuas Hulu sudah menghimbau masyarakat. Bahkan Bupati yang langsung menandatangani surat edaran himbauan itu.

“Bupati menghimbau ke kecamat dan satuan pemerintahan dibawahnya, agar mengingatkan masyarakat terhadap bahaya DBD,” paparnya.

Tahun 2017 adalah tahun ketiga setelah kejadian luar biasa DBD Kapuas Hulu tahun 2014, jadi sudah masuk siklusnya DBD.

“Masyarakat harus waspada dan tetap lakukan pemberantasan sarang nyamuk,” tegasnya lagi.

(Yohanes/Faisal)

Related Posts