Butuh Respon Jangka Panjang agar Banjir Tak Terulang

Pontianak, thetanjungpuratimes.com- Bencana banjir besar yang terjadi di beberapa wilayah Kalimantan Barat membutuhkan respon jangka panjang, sehingga harus dicari penyebab banjir agar tidak terus terulang.

“Masyarakat membutuhkan respon jangka panjang dari pemerintah, selain respon kemanusiaan, berupa pendistribusian bantuan, itu sudah biasa. Tetapi kalau kita tidak mencari akar masalah penyebab bencana ini dan tidak merespon situasi ini, maka bencana-bencana ini akan terus terulang,” kata Jhon Bamba, Ketua Konsorsium Gerakan Pemberdayan Pancur Kasih (GPPK), Selasa (12/9).

Jhon Bamba bersama aktivis lingkungan mendesak pemerintah menghentikan aktivitas perusakan hutan yang menyebabkan kerusakan ekologi, seperti yang terjadi di hulu Sungai Jelai, Kabupaten Ketapang.

“Kami minta pemerintah meninjau ulang pemberian izin aktivitas Hutan Tanaman Industri (HTI) bagi PT WHP di kawasan hulu Sungai Jelai, yang akhir Agustus lalu terjadi banjir bandang sehingga menyebabkan kerusakan bagi rumah desa sekitar,” katanya.

Menurutnya, sudah puluhan tahun kawasan Jelai Hulu tidak pernah terjadi banjir bandang, dan ini baru pertama kalinya.

“Jadi perlu dicari tahu apa penyebabnya hingga terjadi bencana ekologi tersebut, apakah dampak dari deforestasi atau perusakan hutan di kawasan hulu sungai atau lainnya. Banyak memang aktivitas di kawasan hulu sungai, diantaranya perusahaan tambang, perkebunan, dan baru-baru ini perusahaan HTI,” katanya.

Ia menuturkan, pada akhir tahun 90-an, Japan International Cooperation Agency  (JICA) bersama Bappenas pernah melakukan penelitian selama sekitar 10 tahun di Kalbar dan Kalteng.

“Penelitian mereka ingin mencari tahu berapa persen wilayah di Kalbar dan Kalteng yang cocok untuk sawit, dan hasilnya cuman 15 persen saja,” ucapnya.

Artinya, kata Jhon ketika membangun perkebunan sawit lebih dari itu, berarti memaksakan. Dari 15 persen tersebut sudah memiliki banyak resiko, apalagi di atasnya.

“Menurut penelitian, Sungai Kapuas relevansinya sangat rendah, cuman 50 meter, panjang 1200 kilo meter, tetapi kemiringannnya yang hulu itu hanya 50 meter, artinya sangat landai. Karena  landai, maka saat hujan turun, gampang sekali air meluber ke samping,” pungkasnya.

(Sukardi/Faisal)

Related Posts