Pelaku Penembakan di Las Vegas Dikenal Kaya dan Gemar Berjudi

Amerika Serikat, thetanjungpuratimes.com – Stephen Paddock, terduga pelaku penembakan yang menewaskan sedikitnya 59 orang di Las Vegas pada Senin (2/10/2017) dikenal sebagai orang kaya dan gemar berjudi, demikian diwartakan Reuters.

Lelaki berusia 64 tahun, yang ditemukan tewas dalam sebuah kamar hotel di Mandalay Bay, Las Vegas itu diketahui tinggal di sebuah rumah di Nevada, di tengah-tengah komunitas para pensiunan.

Di mata orang-orang yang mengenalnya, Paddock dinilai sama sekali tak memiliki indikasi akan melakukan penembakan brutal yang menyasar konser musik country yang merupakan penembakan massal terkelam dalam sejarah modern AS.

“Dia orang kaya dan suka bermain video poker. Ia juga suka bertualang di kapal pesiar,” kata Eric Paddock, saudara Stephen, “Dia tak pernah membawa senjata, ini sangat tak masuk akal.”

Menurut Eric, saudaranya itu adalah orang yang tenang, yang memilih pindah dari Florida yang lembab ke pemukiman sepi di gurun Nevada agar lebih dekat dengan Las Vegas, tempat ia biasa berjudi.

Anak Perampok Bank

Eric mengaku terakhir kali berhubungan dengan saudaranya pada awal September. Ketika itu Stephen mengiriminya pesan singkat, berbicara soal pemadaman listrik di Florida usai sapuan Badai Irma. Ibu mereka masih hidup dan tinggal di daerah Florida.

“Dia sama sekali tak punya kedekatan dengan organisasi politik dan organisasi agama,” beber Eric.

Adapun ayah mereka, Patrick Benjamin Paddock, memang perampok bank sadis dan pernah masuk dalam daftar penjahat paling dicari oleh FBI pada dekade 1960an. Stephen sendiri, menurut kepolisian Las Vegas, tak memiliki catatan kriminal, selain pelanggaran lalu lintas.

“Kami tak pernah mengenal dia (ayah),” ujar Eric.

Menurut catatan penegak hukum di AS, dalam beberapa pekan terakhir, Stephen mencatatkan transaksi berjudi senilai puluhan ribu dolar, meski tak diketahui apakah dia menang atau kalah.

Stephen sendiri diketahui juga pernah bekerja di Lockheed Martin, sebuah perusahaan pertahanan dan salah satu produsen senjata terbesar di dunia di periode 1985-1988. Lockheed Martin sendiri saat ini sudah bekerja sama dengan polisi untuk menyelidiki latar belakang Stephen.

Selain itu dia juga diketahui mengantongi izin berburu di Texas, tempat sebelumnya menetap. Selain izin berburu, ia juga memegang lisensi pilot dan memiliki satu unit pesawat bermesin tunggal terdaftar atas namanya.

Pada 2015 dia membeli sebuah rumah berlantai dua di Mesquite, sebuah kota kecil nan sepi di perbatasan antara Nevada dan Arizona. Kota itu terkenal dengan para olah raga golf dan para penjudinya.

“Rumahnya bagus dan bersih. Tak ada yang di luar kebiasaan,” kata Quinn Averett, juru bicara kepolisian Mesquite.

Ditemukan sejumlah senjata dan amunisi di dalam rumah tersebut. Akan tetapi itu adalah hal biasa, karena di kawasan itu tingkat kepemilikan senjata memang tinggi.

Hotel tempat Stephen melakukan penembakan bisa ditempuh sejam dari rumahnya. Di dalam kamar di lantai 32 itu, polisi menemukan 10 pucuk senjata. Stephen menginap di kamar itu sejak Kamis pekan lalu.

Sebelum pindah ke Nevada, Stephen tinggal di sebuah kota yang juga bernama Mesquite, di Texas. Di sana ia bekerja sebagai manajer di sebuah apartemen bernama Central Park. Menurut Washington Post, di sana ia juga bekerja sebagai akuntan dan berinvestasi di sektor real estate.

Hingga 2015 ia diketahui masih lajang, meski beberapa sumber mengatakan ia pernah menikah di California pada 1980an. Di Nevada Stephen disebut tinggal bersama seorang perempuan, meski menurut polisi perempuan itu tak berhubungan dengan penembakan brutal tersebut.

(Reuters/ Washington Post/suara.com/muh)

Related Posts