Dinkes Pontianak: Warga Benua Melayu Laut Positif Terserang Scabies

Pontianak, thetanjungpuratimes.com – 58 warga RT 3 dan 4, RW 4, Kelurahan Benua Melayu Laut (BML), Pontianak Selatan yang terserang gatal-gatal, ditengarai terpapar scabies. Penyakit infeksi kulit yang disebabkan sejenis kutu atau tungau. Kesimpulan ini didapat setelah Dinas Kesehatan Pontianak melakukan penelitian lapangan.

“Jadi penyakit ini ditularkan oleh kontak personal. Misalnya kita berjabat tangan, pakaian, tempat tidur, handuk dan segala macamnya,” kata Kepala Dinas Kesehatan Pontianak, Sidiq Handanu, Senin (30/10).

Hingga saat ini, sudah ada 58 orang warga setempat dalam data Dinkes yang terjangkit. Sidiq menerangkan mereka sudah diobati. Senin ini pun pihaknya kembali turun ke lapangan untuk melakukan pengecekan, pengobatan, serta sosialisasi ke masyarakat.

“Kita akan lanjutkan dengan penyuluhan, karena penyakit ini kalau tidak diobati secara keselurahan, tidak akan bisa. Mengobatinya harus massal,” jelasnya.

Sementara soal kutu atau tungau penyebar scabies, saat ini masih belum diketahui secara pasti dari mana asalnya. Namun dia menjelaskan, kasus seperti ini memang biasa muncul di lingkungan padat penduduk. Misalnya tiga sampai empat orang yang tinggal dalam satu kamar.

“Biasanya penyakit ini ada di asrama-asrama. Makanya ini cepat menular, satu orang saja yang kena maka menular, ini bersifat menular,” imbuhnya.

Setidaknya, ada dua cara pengobatan yang bisa dilakukan. Pertama, strerilisasi sumber infeksi, semisal pakaian, handuk dan kasur. Kedua, penderitanya harus diobati dengan obat oles.

Strerilisasi sumber infeksi bisa dilakukan dengan air panas. Barang-barang itu harus direbus. Sementara untuk kasur, harus dicuci, disikat dan dijemur. Penderita dan sumber infeksi memang harus ditangani bersama. Jika tidak, pengobatan sulit dilakukan.

“Penyakit ini tidak fatal, karena gatal yang luar biasa maka digaruk lalu infeksi, tapi tidak merusak secara sistemik,” ucapnya.

Penyakit ini tidak bisa ditangani sekaligus. Harus bertahap dan berkali-kali dikerjakan. Pengawasan periodik mesti diterapkan. Apalagi kawasan tersebut merupakan perumahan padat penduduk sehingga perlu waktu lebih. Pengobatan yang diberikan Pemkot secara gratis.

“Pengobatan ini khas, tidak seperti penyakit lainnya. Setelah dioleskan maka tidak boleh mandi dulu selama 24 jam, biar obatnya masuk ke dalam sampai tungaunya mati. Kalau sudah pakai obat ini sore, maka besok sore baru boleh mandi. Pemahaman ini harus kita sosialisasikan,” terangnya.

Walau demikian, Sidiq Handanu memastikan penyakit ini tidak bahaya. Namun jika terjadi infeksi sekunder, malah akan berbahaya.

(Imam/Faisal)

Related Posts