Harga BBM Vivo Murah, Harga Premium Pertamina Terlalu Mahal ?

Jakarta, thetanjungpuratimes.com – Peresmian SPBU PT Vivo, di Cilangkap, Jakarta Timur, oleh Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral, Ignasius Jonan menimbulkan pertanyaan. Jonan sendiri berdalih bahwa dirinya “kepincut” dengan PT Vivo lantaran bisa menjual RON89 sebesar Rp. 6.100 per liter, yang lebih murah dibanding harga RON88 Pertamina.

Jonan juga mengatakan bahwa dengan beroperasinya PT Vivo Energy SPBU Indonesia ini, diharapkan masyarakat, khususnya di wilayah Jakarta Timur akan lebih banyak akses untuk mendapatkan BBM dengan harga yang terjangkau. Oleh karena itu, Pemerintah memberikan izin swasta untuk mendistribusikan BBM sesuai aturan.

“Lebih murahnya harga RON89 ketimbang RON88 memang masih disangsikan oleh beberapa kalangan. Berbagai spekulasi dikembangkan untuk menjustifikasi pendapatnya kenapa harga RON89 bisa lebih murah. Ada yang mengatakan bahwa harga RON89 bisa lebih murah lantaran dijual di pasar “gemuk”, daerah Cilangkap Jakarta Timur. Ada pula yang mengatakan bahwa murahnya harga RON89 karena manipulasi dalam menetapan komposisi komponen blending antara RON 92 dengan light naptha,” kata Mantan Anggota Tim Reformasi Tata Kelola Migas, Fahmy Radhi, dalam keterangan tertulis, Selasa (31/10/2017).

Untuk menepis spekulasi tersebut, Pemerintah harus mewajibkan bagi PT Vivo untuk membangun SPBU di wilayah terpencil dan terluar, seperti di Pulau Seram Maluku. Bahkan, Pemerintah harus mewajiban untuk menjalankan Kebijakan BBM Satu Harga di berbagai wilayah yang masih belum terlayani oleh Pertamina dalam penerapan Kebijakan BBM Satu Harga.

“Kalau PT Vivo mampu menjual RON89 di Wilayah Penugasan dan BBM Satu harga dengan harga tetap Rp6.100 per liter, maka PT Vivo terbukti memang menjual RON89 lebih murah, bukan harga yang dimanipulasi,” jelasnya.

Ia menegaskan kalau terbukti PT Vivo bisa menjual RON89 sebesar Rp6100 per liter, lebih murah ketimbang harga RON88 mengindikasikan bahwa harga RON88 sebesar Rp6.450 yang selama ini dibeli konsumen dinilai terlalu mahal. Kalau RON89 diasumsikan setara dengan RON88 secara apple to apple, paling tidak kemahalan yang ditanggung rakyat sebagai konsumen adalah sebesar Rp. 350 per liter. Dengan asumsi bahwa konsumsi BBM sebesar 1.740.00 barel per hari, 1 barel setara 159 liter, total kemahalan yang ditanggung harus ditanggung rakyat sebesar Rp. 96,8 miliar per hari (1.740.000 barel X 159 liter X Rp. 350). Kalau satu tahun 365 hari, maka total kemahalan harga RON88 adalah sebesar Rp33,34 triliun per tahun (Rp. 96,8 X 365 hari).

“Kalau benar perhitungan itu, maka kemahalan harga yang ditanggung rakyat sebesar Rp. 33,34 triliun per tahun itu sesungguhnya merupakan tambahan margin yang dinikmati oleh Pertamina,” ujarnya.

Dengan tambahan margin sebesar itu, Pertamina tidak seharusnya mengeluh hanya karena menanggung biaya penerapan kebijakan BBM satu harga sebesar Rp800 miliar per tahun, atau hanya sekitar 2,6 persen saja.

“Pertamina juga tidak seharusnya berkeluh kesah lantaran Pemerintah memutuskan harga RON88 tidak dinaikan hingga akhir tahun 2017, dengan pertimbangan menjaga daya beli rakyat sebagai kosumen,” sindirnya.

Menurutnya, dengan besaran kemahalan harga RON88 wajar kalau Menteri ESDM kepincut untuk meresmikan beroperasinya SPBU Cilangkap, yang bisa menjual RON89 seharga Rp. 6.100 per liter, yang tentunya PT Vivo sudah memperoleh margin dari harga jual tersebut. Penetapan harga RON89, yang lebih murah dari pada harga RON88, diharapkan dapat mendorong Pertamina untuk meningkatkan efisisensi, sehingga harga RON88 juga bisa ditetapkan minimal sama dengan harga RON89 sebesar Rp. 6.100 per liter.

“Dengan demikian, rakyat sebagai konsumen tidak harus menanggung beban kemahalan harga RON88 akibat inefisiensi Pertamina selama ini,” tutupnya.

(suara.com/muh)

Related Posts