Penganiayaan Ustadz, MUI Kalbar: Itu Kejahatan yang Tak Bisa Ditolerir

Pontianak, thetanjungpuratimes.com – Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kalimantan Barat (Kalbar), Basri Har, menyebutkan kasus penganiayaan terhadap dua orang ustadz di Jawa Barat (Jabar), merupakan tindak kejahatan yang tidak bisa ditolerir, dan dirinya meminta ada tindakan tegas terhadap para pelaku.

Penganiayaan pertama menimpa pengasuh Pondok Pesantren Al-Hidayah Santiong, Kampung Sentiong RT 04/01, Desa Cicalengka Kulon, Kecamatan Cicalengka, Kabupaten Bandung yakni KH Emon Umar Basyri, pada Sabtu (27/1) yang menyembabkan korban mengalami luka serius, hidung patah, dan tengkorak kepala retak.

Kemudian penganiayaan yang kedua menimpa ustadz R Prawoto, Komandan Brigade Persatuan Islam Indonesia (Persis) Pusat. Korban dianiaya Kamis (1/2), korban mengalami luka parah di kepala dan patah tangan kiri akibat dipukuli pelaku yang merupakan tetangganya di Kelurahan Cigondewah Kidul, Kecamatan Bandung Kulon, Kota Bandung. Prawoto meninggal dunia pukul 17.30 WIB.

Dari kedua kasus penganiayaan terhadap ustadz tersebut, para pelaku dikabarkan sama-sama sedang mengalami gangguan kejiwaan.

“Penganiayaan terhadap ustadz, itu suatu kejahatan yang tidak bisa ditolerir dan harus ada penyelesaian yang adil dan tegas. Karena akan menjadi pemicu rusaknya kerukunan bangsa. Kemudian adanya alasan sakit jiwa dan sebagainya, kita percayakan kepada penegak hukum untuk menyelesaikan secara cermat, adil dan tegas,” ujarnya, Kamis (8/2).

Dirinya mengimbau, dari kasus tersebut, masyarakat tidak terpancing dan melakukan tindakan yang yang anarkis, karena Islam adalah agama yang damai dan penuh kebaikan.

“Saya imbau agar tidak terpancing, lalu melakukan tindakan yang anarkis juga, kejahatan tidak bisa dibalas dengan kejahatan dan kekerasan, tonjolkan kerahmatan,”imbaunya.

(Sukardi/Faisal)

Related Posts