BLU, Untan Bahas Susunan Standar Pelayanan Publik

Pontianak, thetanjungpuratimes.com – Rektor bersama seluruh jajaran pengurus Universitas Tanjungpura (Untan) beserta para Dekan berkumpul di aula pertemuan gedung Rektorat lantai III untuk membahas penyusunan standar layanan publik bagi institusi pendidikan tinggi tersebut, baru-baru ini.

Penyusunan standar layanan publik ini merupakan upaya lanjutan dari Untan untuk mempersiapkan diri dalam menghadapi perubahan status dari Satuan Kerja (Satker) murni menjadi Badan Layanan Umum (BLU).

Rektor Untan, Prof Dr H Thamrin Usman DEA, mengatakan, Untan sebagai institusi yang memberikan layanan pendidikan kepada masyarakat harus memiliki standar pelayanan publik, hal itu agar setiap civitas Untan mengetahui akan kewajibannya dalam rangka memberikan layanan kepada masyarakat.

“Sebaliknya juga, masyarakat tahu apa saja yang bisa mereka dapatkan pada saat mereka menggunakan layanan di Untan ini,” kata Rektor.

Dengan bergantinya status Untan dari Satker murni menjadi BLU, kata Prof Thamrin, tentunya ada beberapa hal yang berubah dari pola pekerjaan yang dilakukan oleh civitas akademikanya.

Prof Thamrin menyebut, salah satunya adalah pola kerja Untan akan cenderung mengutamakan sisi efisiensi, serta pemanfaatan sumber daya yang ada secara optimal.

“Artinya bagaimana kita bisa mengoptimalkan sumber daya yang tadinya tidur menjadi bangun. Yang tadinya dikelola secara boros menjadi efisien,” ujarnya.

Penerapan itu semua, diyakini Guru Besar Kimia ini akan bermuara, atau berujung pada terjadinya peningkatan layanan pendidikan di Untan. Tentu saja hal itu dilakukan dengan garansi para pengguna jasa Untan nantinya akan mendapatkan layanan pendidikan yang jauh lebih baik, dibandingkan pada saat satu-satunya Universitas Negeri di Kalbar ini belum menjadi BLU.

Sebelumnya untuk melakukan peta penyusunan standar layanan publik ini serta beberapa persiapan lainnya dalam menghadapi gerbang BLU, Untan pun mengirim rombongan untuk melakukan studi banding ke Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta.

Pertemuan kali ini juga sekaligus menjadi penyampaian laporan hasil studi banding ke UNS tersebut dari ketua rombongan kepada Rektor.

Rektor mengingatkan, meskipun sudah melihat apa-apa saja yang dimiliki oleh UNS sejak mereka sukses menjadi BLU, namun Untan harus membuat sesuatu yang lebih daripada itu.

Dirinya tak ingin, Untan nantinya terkesan menduplikasi apa-apa saja yang dimiliki atau dilakukan oleh UNS.

Rektor menganalogikan hal ini dengan turis Jepang yang bertandang ke Perancis. Turis Jepang selalu identik dengan kegemarannya memotret apa saja yang ia temui, walaupun itu hal kecil seperti tempat sampah.

“Dia potret tempat sampah yang ada di Prancis, kemudian dia kembali ke Jepang, dimodifikasinya lah model tempat sampah yang ia potret menjadi lebih fleksibel. Lalu mereka ekspor ke Prancis dan digunakan disana. Nah, saya maunya Untan juga seperti itu,” pungkas Rektor.

Sementara itu, Dr Witarsa yang menyampaikan serta menyusun standar layanan publik Untan ini juga mengingatkan kepada seluruh Civitas Untan bahwa mereka sekarang telah memiliki standar layanan publik.

Ia juga meminta kepada para pejabat yang hadir untuk mensosialisasikan standar layanan publik ini kepada staf yang ada di unitnya masing-masing.

Ditanyai Rektor jika diibaratkan layanan hotel, berapa bintang yang akan disematkan ke standar layanan publik Untan ini, Dr Witarsa dengan sigap menjawab bintang empat yang artinya mendekati level tertinggi dari sebuah pelayanan.

Meskipun begitu, Rektor mengingatkan agar hal ini terus dilaksanakan dengan sungguh-sungguh. Ia juga meminta agar para pelaksana pelayanan di Untan menyadari ekspektasi, serta fakta dari pelaksanaan pelayanan yang diberikan oleh Untan dengan adanya standar layanan publik ini.

Dengan begitu, Untan tidak akan berhenti berbenah untuk agar pelaksanaan pelayanan pendidikan yang diberikan akan selalu ditingkatkan, hingga melebihi standar layanan publik tertinggi yang bisa diberikan.

(Imam/Ikur)

Related Posts