PENDIKAR Untan Sebagai Solusi Demi Terciptanya Mahasiswa Beriman dan Berwatak Mulia

Pendidikan Karakter atau disingkat dengan PENDIKAR adalah program pembinaan karakter yang ditujukan kepada mahasiswa baru Universitas Tanjungpura demi terciptanya pribadi yang berintegritas serta religius. Oleh karena itu, memang sepatutnya program PENDIKAR ini menjadi bagian penilaian mata kuliah agama. Secara sederhana dapat diartikan bahwa mata kuliah agama sebagai media pembekalan ilmu secara teoritis dan dilengkapi oleh PENDIKAR sebagai media praktek dari teori- teori tersebut. Sistem pembinaan yang diterapkan PENDIKAR ialah dengan membagi kelompok dan menghadirkan tutor pada setiap kelompoknya.

Menyikapi pernyataan yang dikeluarkan oleh Fakultas Hukum Nomor 3478/UN22.11/PK.01.03/2019 yang ditandatangani oleh Wakil Dekan Akademik, Wan Romeo, pada tanggal 6 Agustus 2019, yang menyatakan bahwa ketidaksetujuan bobot 1 sks dari program PENDIKAR dari 3 sks penilaian mata kuliah agama, ketidaksetujuan PENDIKAR menjadi syarat kelulusan mata kuliah agama, dan terjadinya pemisahan antara mata kuliah yang diajarkan dengan materi PENDIKAR. Saya berpendapat lain, bahwa PENDIKAR merupakan metode pembinaan karakter demi melahirkan mahasiswa yang berintergritas, tentunya hal ini akan tercapai apabila terdapat pengikat antara mahasiswa dan PENDIKAR sendiri dengan cara memberikan bobot 1 sks agar terciptakan rasa tanggungjawab untuk mengikuti program tersebut sehingga tujuan dapat tercapai. Oleh karena PENDIKAR pantas dijadikan tolok ukur keberhasilan mata kuliah agama agar berhasil menciptakan mahasiswa yang memiliki karakter mulia, hal ini bukan semata-mata bersifat membebaskan tetapi tujuan penciptaan karakter harus tetap diutamakan. Dalam penjelasan UU no 12 tahun 2012 tentang Pendidikan Tinggi pada pasal 35 ayat 3 huruf a terdapat tujuan  Capaian Pembelajaran Mata Kuliah (CPMK) mata kuliah agama   bahwa pendidikan berfungsi membentuk mahasiswa menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa serta berakhlak mulia, karena itulah penilaian karakter menjadi point dasar dari indeks keberhasilan mata kuliah.

Proses pembelajaran mata kuliah agama di kelas dijadikan sebagai media untuk mendapatkan pengetahuan secara teoritis, tetapi teori tidak akan sempurna bila tidak dilengkapi dengan media praktek. Hal ini dapat dianalogikan dengan seorang anak yang belajar teori teknik berenang tetapi tanpa eksekusi dilapangan, maka anak tersebut belum bisa dikatakan bisa berenang. Pengetahuan secara teoritis akan diperkuat dengan praktek-praktek yang ada di PENDIKAR sendiri,  sebagai media yang memberikan pengembangan secara teoritis bagi mahasiswa serta dipandu oleh tutor masing-masing. Tetapi permasalahan dari pengumuman yang dikeluarkan oleh Wadek Bidang Akademik Fakultas Hukum tersebut bahwa tidak ada pengintegrasian antara materi kuliah dan materi PENDIKAR. Sebelumnya kita harus memperhatikan materi bahan ajar pada mata kuliah agama saat ini, justru bersifat tingkat atas serta jauh dari bahan ajar yang sesuai dengan proses pembinaan karakter, sebagai contoh materi tentang perbedaan syura dan demokrasi ataupun tentang Islam dan aspek politik pemerintahan. Seyogyanya sebelum materi itu diajari kepada mahasiswa, materi tentang pendidikan karakter telah dikuasai terlebih dahulu. Kenyataan yang terjadi dimana lemahnya karakter mahasiswa, sehingga seharusnya ini menjadi fokus utama bukannya lebih memaksakan memahami materi tingkat atas. Hal ini sama seperti memberikan materi matematika kelas 5 kepada anak kelas 2 SD. Solusi yang ditawarkan dengan melakukan penyetaraan dan pengintegrasian terhadap keduanya, serta tidak menghapus satu diantaranya.

Perpaduan antara materi teori dan materi praktek mata kuliah agama terdapat juga pada Peraturan Pemerintah No 55 Tahun 2007 tentang Pendidikan Agama dan Pendidikan Keagamaan. Peraturan Pemerintah ini juga memuat Capaian Pembelajaran Mata Kuliah (CPMK), menyatakan bahwa  pendidikan agama memberikan pengetahuan dan pembentukan sikap, kepribadian, dan keterampilan bagi peserta didik dalam mengamalkan ajaran agamanya. Sehingga tercapainya tujuan pembelajaran CPMK agama yaitu  membentuk mahasiswa menjadi manusia yang beriman dan bertakwa serta berkarakter mulia.  Lantas bagaimana pencapaian ini dapat terealisasi jika tidak ada praktek Mata Kuliah Agama (PENDIKAR Berbasis Agama)?

Selain itu penerapan perpaduan antara sikap, pengetahuan, dan keterampilan juga diatur pada Standar Nasional Pendidikan Tinggi (SN-Dikti) tentang Capaian Pembelajaran Lulusan (CPL). Bahkan MK Agama juga menganjurkan penyatuan antara teori dan praktek mata kuliah agama dalam rangka menjalankan metode pembelajaran Contextual Learning, yakni dengan menghubungkan antara materi yang diajarkan dengan kondisi nyata yang dialami.

Pada prinsip MK Agama memiliki titik berat pada konsep “learning to be”, dimana pembentukan akhlatul karimah tidak sekadar pengetahuan saja, tetapi blended-terintegrasi antara pengetahuan-keterampilan-sikap agar berhasil membentuk akhlak yang baik. Pada SN DIKTI pasal 14 juga menerangkan bahwa mahasiswa melakukan pengembangan dirinya melalui kegiatan bersifat kokurikuler ataupun ekstrakurikuler.

Pada Rencana Pembelajaran Semester (RPS) Mata Kuliah Agama juga telah memuat tentang pembagian dari 3 sks pada mata kuliah dimana bobot teori sebesar 2 sks dan  Pendidikan Karakter (PENDIKAR) sebesar  1 sks (SK Rektor Untan No 1540 /UN22/DT/2012 ) dengan bobot 30 % dari penilaian.

Artinya, program PENDIKAR telah diperhitungkan dan dipercayai menjadi bagian dari proses pembelajaran mata kuliah agama. Ini menjadi faktor fundamental yang harus diketahui, dengan adanya PENDIKAR mampu melengkapi kebutuhan pembelajaran pada mata kuliah agama.

Selain itu  UU Nomor 12 Tahun 2012 tentang DIKTI pada pasal 35 Ayat 1 menjelaskan terkait Kurikulum Pendidikan Tinggi yang merupakan seperangkat rencana dan peraturan mengenai isi, tujuan,  bahan ajar, dan cara mengajar dijadikan sebagai pedoman pembelajaran demi mencapai tujuan Pendidikan Tinggi.  Pada pasal 33 huruf a UU No 12 Tahun 2012 tentang DIKTI, mengatakan bahwa kurikulum pendidikan tersebut juga termasuk mata kuliah agama, untuk menghasilkan CPMK maka dibuatlah Rencana Pembelajaran Semester (RPS) dengan rincian 2 sks pada teori dan 1 sks pada praktikum. Namun karena jumlah rasio dosen dan mahasiswa terlalu banyak maka diperlukan laboratorium berupa PENDIKAR berbasis Agama dengan waktu pertemuan 170 menit (SN DIKTI).

Selain itu pada pengumuman Nomor 3478/UN22.1/PK.01.03/2019 yang ditandatangani oleh Wakil Dekan Bidang Akademik Fakultas Hukum UNTAN juga menyatakan bahwa Penetapan tutor yang berdasarkan Keputusan Rektor UNTAN Nomor 2010/UN22/DK/2019 tentang Tutor Pendidikan Berbasis Agama Mahasiswa Universitas Tanjungpura 2019 tidak memperhatikan peraturan dan undang-undang. Dalam UU No 12 Tahun 2012 tentang DIKTI pada penjelasan pasal 35 ayat 4 menerangkan bahwa Kurikulum Pendidikan Tinggi dilaksanakan melalui kegiatan kurikuler, ko-kurikuler, dan ekstrakurikuler. Dalam hal ini PENDIKAR termasuk pada golongan kokurikuler, dikarenakan PENDIKAR adalah cara belajar dengan memperluas, mengembangkan, dan menerapkan secara lebih lanjut atas materi yang telah diajarkan. Mahasiswa dapat mengembangkan bakat, minat, dan kemampuan dirinya melalui kegiatan kokurikuler dan ekstrakurikuler sebagai bagian dari proses pendidikan yang terdapat pada SN DIKTI Pasal 14. Kegiatan ekstrakurikuler saja yang dikelola oleh mahasiswa diperbolehkan mendapatkan sks, lantas apalagi PENDIKAR yang langsung dikelola oleh Dosen?

Perlu diketahui bahwa PENDIKAR sendiri memiliki Standar Operasional Prosedur (SOP) termasuk dalam hal penetapan calon tutor pendikar, seperti lulus tes tahsin Sahabat Quran UNTAN, mengikuti upgrading tutor, memiliki semangat yang tinggi, bahkan menandatangani perjanjian tugas menjadi tutor dengan sungguh-sungguh, serta bersedia diberi sanksi apabila melanggar peraturan yang telah ditetapkan. Tidak hanya itu, tutor diharuskan untuk memiliki sikap yang baik dan setia kepada NKRI sehingga memberi keteladanan bagi adik-adik mahasiswa baru.

Pada dasarnya PENDIKAR berperan sebagai solusi dalam upaya melahirnya manusia beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa serta memiliki karakter yang mulia. PENDIKAR juga hadir sebagai solusi pembinaan bagi mahasiswa demi mendorong perwujudan tujuan CPMK pembelajaran Agama dan penerapan dari SN DIKTI pasal 14 secara nyata, dikarenakan terlalu besar rasio dosen dan jumlah mahasiswa Universitas Tanjungpura. Penerapan sistem pembelajaran PENDIKAR dilakukan dengan membagi kelompok belajar yang terdiri dari 8 -15 orang perkelompok serta seorang tutor. Bahkan berdasarkan banyak pengakuan dari mahasiswa yang pernah mengikuti PENDIKAR terkait hal yang diperoleh tidak hanya sekadar praktek materi saja, tetapi dalam satu keluarga pendikar bisa saling berdiskusi, berbagi cerita, berbagi pengalaman, serta saling menasihati yang mungkin tidak ada pada metode pembelajaran selainnya. Jika ingin PENDIKAR digantikan demi memperkuat Pendidikan Karakter, apa yang pantas menggantikannya ? Jikalau ingin serius dalam mencapai tujuan Mata Kuliah Agama seperti dalam Undang-Undang No 12 tahun 2012 atau Peraturan Pemerintah no 55 tahun 2007 maka model PENDIKAR berbasis Agamalah yang menjadi upaya prioritasnya.

Penulis : Arrum Aura Islami, Mahasiswi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Tanjungpura (FISIP Untan)

Related Posts