Mahasiswa Untan Gelar Kegiatan Pembuatan Kompos melalui KKN PPM di Desa Kuala Dua, Kubu Raya

Pontianak, thetanjungpuratimes.com- Lahan gambut di Desa Kuala Dua Kabupaten Kubu Raya Kalimantan Barat beberapa tahun yang lalu mengalami kebakaran.  Lahan gambut ini harus direklamasi, salah satunya melalui kegiatan revegetasi. Masyarakat setempat merevegetasi  lahan gambut tersebut dengan cara menggunakannya sebagai lahan pertanian. Disebabkan karena lahan gambut memiliki kandungan hara yang rendah, maka penambahan kompos menjadi tindakan penting untuk dilakukan.

Celah inilah yang dimanfaatkan oleh 28 mahasiswa dari Fakultas Kehutanan Untan untuk melaksanakan pengabdian kepada masyarakat melalui kegiatan KKN PPM, dengan tema: produksi kompos untuk mendukung keberhasilan reklamasi lahan gambut bekas kebakaran. Kegiatan ini dibimbing oleh 3 dosen Fakultas Kehutanan Untan yaitu Dr. Wiwik Ekyastuti, Prof. Dwi Astiani dan Dr. Emi Roslinda.

Dijelaskan oleh Wiwik Ekyastuti sebagai koordinator kegiatan KKN PPM ini bahwa mahasiswa memberikan bimbingan dan pendampingan dalam pembuatan kompos di dua dusun yaitu dusun Karya Dua dan Bhakti Suci, selama satu bulan dari 7 Juli 2019 sampai 5 Agustus 2019.

“Sebelum terjun ke lokasi KKN PPM, 28 mahasiswa ini telah mendapatkan pembekalan secara komprehensif tentang pembuatan kompos berbahan dasar sampah organik di kampus. Kegiatan ini dimulai dari pembuatan starter dekomposer secara sederhana, pembuatan bibit kompos sampai proses pengomposan dan pengemasan” jelas Wiwik Ekyastuti.

Maka ketika berinteraksi dengan masyarakat desa Kuala Dua, lanjutnya, mahasiswa mampu mentransfer ilmu tersebut dan melakukan pendampingan selama satu bulan penuh di lapangan.

“Pada prinsipnya pembuatan kompos yang diajarkan adalah berbahan dasar sampah organik dan melalui 3 tahap utama” jelasnya. Tahap pertama adalah pembuatan starter dekomposer dengan memanfaatkan sampah kulit buah-buahan yang lunak seperti kulit papaya dan manga (nabati), atau usus ayam (hewani) ditambah bahan-bahan ragi tape atau tempe, dan molase (larutan gula) untuk memancing pertumbuhan mikro organisme dekomposer.

Tahap kedua adalah pembuatan bibit kompos. Setelah mikro organisme berhasil ditumbuhkan yang ditandai dengan perubahan warna larutan menjadi kecoklatan dan berbau khas fermentasi, serta munculnya miselia di atasnya, maka bibit kompos dibuat menggunakan campuran sekam dan dedak padi dan starter decomposer tersebut.

Proses selanjutnya atau tahap ketiga adalah penggunaan bibit kompos tersebut untuk proses pengomposan bahan organik berupa serasah dan sampah rumah tangga. Selanjutnya pengomposan akan berlangsung secara alami. Kompos yang sudah matang ditandai dengan warna kompos yang coklat kehitaman, lembab dan tidak berbau menyengat.

Lebih lanjut juga dijelaskan oleh Wiwik Ekyastuti bahwa di akhir kegiatan KKN PPM ini mahasiswa juga mengajarkan kepada masyarakat tentang proses pengemasan kompos ke dalam kantong plastik bening ukuran 5 kg dan 10 kg. Tujuan pengemasan ini adalah untuk dapat dijual oleh masyarakat apabila ingin dijadikan komoditi yang bernilai ekonomi, selain digunakan sendiri di lahan pertanian.

Kegiatan ini mendapatkan tanggapan dan respon yang positif dari masyarakat Desa Kuala Dua. Hal ini seperti yang dikatakan Ali salah satu mahasiswa peserta KKN PPM. “Alhamdulillah kegiatan KKN PPM ini sangat bermanfaat bagi kami mahasiswa, karena dapat belajar mengaplikasikan ilmu yang kami dapat di kampus dan kami gembira sekali karena disambut dengan baik dan antusias oleh masyarakat desa Kuala Dua” jelasnya.

(Rilis)

Related Posts