KKN-PPM Mahasiswa Farmasi FK Untan dalam Peningkatan Pengetahuan Swamedikasi dan Penggunaan Obat Rasional di Rasau Jaya

Thetanjungpuratimes.com – Mahasiswa Program Studi Farmasi Fakultas Kedokteran Universitas Tanjungpura semester 6 melakukan program Kuliah Kerja Nyata (KKN-PPM) melalui peningkatan Indeks Pembangunan Kesehatan Masyarakat (IPKM) dengan peningkatan pengetahuan swamedikasi dan penggunaan obat yang rasional menuju Indonesia sehat 2020 di Kecamatan Rasau Jaya, Kubu Raya. Program ini dilaksanakan selama satu bulan di empat desa yaitu Rasau Jaya Umum, Rasau Jaya I, II dan III yang dibimbing oleh ibu Inarah Fajriaty, M. Si., Apt., ibu Dr. Siti Nani Nurbaeti, M. Si., Apt., bapak Hadi Kurniawan, M. Sc., Apt.,  dan bapak Fajar Nugraha, M.Sc., Apt.

Indeks Pembangunan Kesehatan Masyarakat (IPKM) merupakan salah satu indikator yang menggambarkan masalah kesehatan dan keberhasilan pembangunan kesehatan masyarakat. Dalam pengukuran IPKM salah satu faktor yang berpengaruh terhadap nilai IPKM adalah perilaku kesehatan masyarakat seperti swamedikasi. Swamedikasi adalah penggunaan obat tanpa resep atau upaya seseorang dalam mengobati gejala penyakit tanpa melakukan konsultasi ke dokter. Swamedikasi biasanya dilakukan untuk mengatasi keluhan-keluhan dan penyakit ringan yang banyak dialami masyarakat seperti demam, nyeri, pusing, batuk, influenza, gangguan pencernaan ringan, kecacingan, diare, penyakit kulit dan lain-lain. Pentingnya pengetahuan masyarakat tentang swamedikasi dan penggunaan obat rasional melatarbelakangi kegiatan ini dimana program KKN-PPM ini bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan masyarakat tentang swamedikasi dan cara penggunaan obat yang rasional. Dalam pelaksanaan kegiatan ini 23 mahasiswa terjun ke masyarakat melalui kelompok kecil seperti kegiatan Posyandu, kegiatan ibu PKK dan arisan warga.

Dalam pengobatan, obat dapat digunakan untuk pencegahan, penyembuhan, pemulihan, dan peningkatan kesehatan. Namun obat adalah senyawa kimia yang dapat bekerja sebagai racun apabila digunakan dengan tidak bijak, sehingga obat harus digunakan dalam dosis yang tepat dan dengan cara yang benar. Agar terhindar dari bahaya tersebut, maka kita harus tepat dalam mendapatkan, menggunakan, menyimpan dan membuang obat.

Salah satu pengetahuan penting yang harus diketahui oleh masyarakat adalah DAGUSIBU (Dapatkan, Gunakan, Simpan, dan Buang) obat dengan benar. Obat harus dipastikan berasal dari sarana yang resmi seperti apotek, puskesmas, rumah sakit dan toko obat berizin. Dalam mendapatkan obat juga perlu dilakukan pemeriksaan penandaan kemasan obat dan kualitas kemasan. Obat yang didapatkan harus dipastikan sesuai dengan kebutuhan dan kondisi pasien seperti indikasinya, dosisinya, tata cara penggunaannya dan lain-lain. Pemeriksaan kualitas kemasan yang dimaksud dapat berupa segel obat yang masih utuh dan desain kemasan yang rapi, karena obat yang palsu biasanya memiliki warna, gambar, ukuran huruf, logo yang tidak rapi dan kualitas printing yang lebih pudar.

Pada saat akan menggunakan obat yang perlu diperhatikan untuk pertama kalinya adalah pastikan obat yang akan digunakan sudah betul sesuai dengan kondisi pasien dan masih dalam kondisi fisik yang baik. Adapun informasi umum yang perlu diperhatikan pada saat menggunakan obat adalah:

  1. Bacalah cara penggunaan obat sebelum minum obat dan periksalah tanggal kadaluarsanya.
  2. Gunakan obat sesuai aturan minum obat dalam etiket atau anjuran dalam brosur (obat bebas atau bebas terbatas).
  3. Waktu minum obat sesuai waktu yang dianjurkan.
  4. Hentikan penggunaan obat bila tidak memberikan manfaat. Bila terjadi hal-hal yang tidak diinginkan, segera hubungi tenaga kesehatan terdekat.
  5. Sebaiknya tidak melepas etiket dari wadah obat karena pada etiket tercantum cara penggunaan obat dan informasi penting lainnya.
  6. Sebaiknya tidak mencampur berbagai jenis obat dalam satu wadah.
  7. Tanyakan kepada apoteker atau petugas kesehatan terdekat untuk mendapatkan informasi penggunaan obat yang lebih lengkap.

Selanjutnya, menyimpan obat dengan baik merupakan salah satu kriteria penting dalam upaya menjaga mutu obat. Hasil survey Riset Kesehatan Dasar (RISKESDAS) pada tahun 2017 mencatat sebanyak 35,25% ibu rumah tangga menyimpan obat untuk keperluan swamedikasi. Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam menyimpan obat adalah:

  1. Jauhkan obat dari jangkauan anak.
  2. Simpan obat dalam kemasan asli dan dalam wadah tertutup rapat. Label jangan dilepas karena berisi aturan pemakaian.
  3. Simpan obat di tempat yang sejuk, kering, dan terhindar dari sinar matahari langsung atau sesuai petunjuk yang tertera dalam kemasan.
  4. Jangan simpan obat yang telah kadaluarsa.
  5. Obat dalam bentuk cair jangan disimpan dalam lemari pendingin (freezer) agar tidak membeku, kecuali disebutkan pada etiket atau kemasan.
  6. Sediaan suppositoria harus disimpan di lemari es supaya tidak meleleh.
  7. Sediaan aerosol/spray harus dijauhkan dari panas/suhu tinggi karena dapat meledak.
  8. Bila ragu/tidak mengerti, tanyakan kepada apoteker atau tenaga kesehatan terdekat.

Tahapan terakhir yaitu kegiatan dalam membuang obat. Membuang obat dengan bijak dapat mengurangi resiko terjadinya kesalahan dalam menggunakan obat atau resiko penyalahgunaan obat oleh oknum yang tidak bertanggung jawab.  Obat yang harus dibuang adalah obat yang kadaluarsa atau rusak. Kerusakan obat dapat disebabkan oleh udara yang lembab, Sinar matahari, suhu, goncangan fisik. Perubahan yang terjadi dapat berupa perubahan warna, bau, dan rasa, bentuk obat yang pecah, retak, berlubang. Kapsul/puyer/tablet yang rusak dapat terlihat lembab, lembek, basah, dan lengket. Sediaan obat berupa Cairan/salep/krim ditandai dengan perubahan sediaan yang menjadi keruh, mengental, mengendap, memisah, mengeras. Untuk menghindari penyalahgunaan obat rusak/kadaluarsa maka bekas wadah obat yang  berbentuk botol/ pot plastik terlebih dahulu harus dilepaskan etiket dan buka tutup botol/pot, kemudian baru dibuang ke tempat sampah. Untuk wadah yang berbentuk box/ dos/ tube: gunting terlebih dahulu, baru dibuang ke tempat sampah. Obat juga dapat dibuang dengan cara kemasan dibuka, lalu dikubur dalam-dalam atau dibakar.

Selain pentingnya mengenal DAGUSIBU, juga penting mengetahui swamedikasi penggunaan obat yang rasional, salah satu contohnya pada kasus penyakit diare. Hasil Riskesdas 2013, 1 dari 7 anak Indonesia pernah mengalami diare dengan frekuensi 2-6 kali dalam setahun. Diare merupakan salah satu penyebab kematian bayi tertinggi di Indonesia. Data Riskesdes 2017 penyakit diare menempati posisi teratas (nomor satu terbanyak) sebagai penyebab kematian bayi (usia 29 hari-11 bulan) dengan persentase mencapai lebih dari 30% dan sekitar 25% pada balita berumur 1-4 tahun.

Apakah yang disebut dengan diare?

Diare adalah suatu ketidakseimbangan antara absorbsi dan sekresi air atau elektrolit. Normalnya absorbsi air dan elektrolit lebih besar dibandingkan ekskresinya. Berdasarkan WHO diare adalah buang air besar dengan feses yang tidak berbentuk (unformed stools), lembek, encer atau cair dengan frekwensi > 3 kali dalam 24 jam.

Perilaku hidup besih dan sehat harus menjadi perhatian setiap orang agar dapat mencegah kejadian diare. Hal-hal yang dapat menimbulkan diare seperti makan tanpa cuci tangan yang bersih, minum air mentah, makan makanan yang dihinggapi lalat, buang air besar di sembarang tempat, lingkungan rumah yang kumuh dan kotor, dan pemberian makanan tambahan ASI yang terlalu dini pada bayi. Selain itu, diare dapat disebabkan oleh beberapa faktor seperti diare akibat infeksi virus, bakteri, atau parasit protozoa; penyakit atau juga faktor psikis/psikologis; efek samping obat-obatan atau golongan obat yang dapat memicu diare; intoleransi laktosa (alergi susu); intoksikasi/keracunan makanan yang terkontaminasi bakteri atau racun kimiawi. Bila diare karena infeksi (bakteri, parasit, virus) dikenal dengan diare Spesifik tampak pada tinja dengan ciri-ciri mencret berdarah dan berlendir atau tinja seperti air cucian beras, berbau busuk, jumlahnya banyak dan sering.

Selain BAB berulang kali, hal yang harus diwaspadai adalah dehidrasi (kekurangan cairan). Tanda-tanda dehidrasi yang mesti diwaspadai adalah keadaan umum anak gelisah, rewel bahkan lesu sampai tidak sadar, mata cekung bahkan sangt cekung, air mata tidak ada, mulut/lidah kering bahkan sangat kering, sangat haus bahkan malas/tidak bisa minum, serta kekenyalan kulit (turgor) kembalinya lambat bahkan sangat lambat.

Kenali kapan mesti ke pelayanan kesehatan. Jika tanda-tanda diare spesifik karena infeksi yang ditunjukkan dengan feses berdarah, muncul tanda-tanda dehidrasi atau kondisi diare kronik lebih dari 14 hari maka mesti dirujuk ke dokter atau pelayanan kesehatan terdekat karna pengobatan menggunakan antimikroba yang spesifik sesuai penyebab penyakitnya.

Diare harus segera diatasi karena dapat menyebabkan hilangnya cairan dari dalam tubuh atau yang lebih dikenal dengan dehidrasi. Masyarakat penting juga mengenali obat diare, untuk mencegah dehidrasi sebagai terapi pendukung berupa penggantian cairan, elektrolit, pemberian dekstrosa (glukosa) dan minum larutan garam atau oralit, kemudian untuk menghentikan diare ada adsorben yang menyerap racun dan mengurangi air dalam usus, minum obat yang mengandung karboadsorben (norit), kaolin, attapulgit, serta obat antimotilitas yang menghilangkan spasme kolon dan nyeri seperti loperamid dan difenoksilat.

Lima langkah tuntaskan diare, yang dapat dilakukan adalah:

  1. Oralit,
  2. Zinc 10 hari, pemberian zink selama masa diare akut terbukti menurunkan lama dan berat penyakit yakni 10-14 hari berturut-turut dapat mengurangi keberbahayaan dan lama diare serta menurunkan insiden gejala diare berulang pada 2 sampai 3 bulan berikutnya.
  3. Teruskan ASI-makan seperti biasa sesuai usia anak,
  4. Antibiotic selektif dan tidak dianjurkan penggunaan antibiotik untuk diare non-spesifik
  5. Nasihat, menasihati ibu untuk kontrol kembali bila keadaan anak tidak membaik.

Keberlanjutan dari program KKN-PPM ini diharapkan dapat membentuk mitra desa atau desa binaan kesehatan yang dapat terus didampingi sehingga peningkatan IPKM dapat tercapai.

Related Posts