Pengurus HISFARSI PD IAI Kalimantan Barat Periode 2019-2023 Dilantik

Himpunan Seminat Farmasi Rumah Sakit (HISFARSI) merupakan salah satu himpunan seminat yang terbentuk dalam organisasi Ikatan Apoteker Indonesia. Hisfarsi merupakan organisasi otonom yang mewadahi para apoteker di rumah sakit dalam mewujudkan pengelolaan instansi farmasi yang profesional di Indonesia.

Dalam rangka mewujudkan terbentuknya kepengurusan HISFARSI Pengurus Daerah Ikatan Apoteker Indonesia Kalimantan Barat (PD IAI Kalbar), maka HISFARSI Kalimantan Barat menyelenggarakan seminar dan workshop serta musyawarah daerah (Musda) pertama di hotel Orchardz A Yani Pontianak, Sabtu (12/10/2019).

Pada kegiatan tersebut juga dilakukan pelantikan pengurus HISFARSI PD IAI Kalbar Periode 2019-2023 oleh Pengurus Daerah Ikatan Apoteker Indonesia (PD IAI) Kalimantan Barat.

Ketua Pengurus HISFARSI PD IAI Kalbar, Daud Andreas, M.Si., Apt mengatakan kedepan perlu dilakukan inovasi pelayanan kefarmasian di rumah sakit.

“Hal ini sangat diperlukan demi meningkatkan mutu pelayanan rumah sakit dengan mengutamakan keamanan dan keselamatan pasien. Contoh inovasi yang dapat dikembangkan di rumah sakit adalah POSKAMLING CETAR (Pos Layanan Konseling Cepat Tanggap Farmasi Rawat Jalan). Inovasi ini dapat diaplikasikan di rumah sakit yang ada di Kalimantan Barat,” katanya.

Menurutnya, selain inovasi, hal lain yang perlu diperhatikan adalah jumlah apoteker yang bekerja di rumah sakit harus memenuhi standar sesuai kebijakan peraturan yang ada.

“Sejauh ini, dari hasil pendataan HISFARSI PD IAI Kalbar terdapat 50 rumah sakit yang tersebar di Kalimantan Barat dengan jumlah apoteker sebanyak 129 orang,” tuturnya.

“Kondisi ini menunjukkan rata-rata apoteker yang bekerja di rumah sakit sebanyak 3 orang dan belum memenuhi standar jumlah tenaga kesehatan berdasarkan Permenkes Nomor 56 Tahun 2014 tentang Klasifikasi dan Perijinan Rumah Sakit. Inovasi dapat muncul dan berkembang dengan baik jika didukung oleh kuantitas dan kualitas apoteker di rumah sakit,” sambung Daud Andreas.

Peningkatan kualitas dan kompetensi apoteker dapat dilakukan dengan melakukan continuing professional development (CPD) atau Pengembangan Profesional Berkelanjutan melalaui kegiatan seminar, pelatihan, dan workshop. Untuk itu, kegiatan ini diisi dengan seminar dan workshop yang bertemakan  “Optimalisasi Tenaga Farmasi dalam Pelaksanaan Akreditasi Rumah Sakit versi SNARS Edisi 1.1.

Ketua panitia, Windi Virdiyanti, S.Si., Apt mengatakan kegiatan seminar dan workshop ini merupakan kegiatan pertama yang diselenggarakan oleh Pengurus HISFARSI PD IAI Kalbar Periode 2019-2023. Dihadiri 266 peserta yang sebagian besar peserta merupakan apoteker (87%), tenaga teknis kefarmasian sebanyak 12%, dan mahasiswa (1%).

Hadir sebagai pembicara dalam kegiatan seminar adalah ibu Dra. Yulia Trisna, M.Pharm., Apt dan moderator ibu Dr. Nurmainah, Apt. Materi seminar yang disampaikan  oleh bu Yulia terkait dengan penyiapan obat berdasarkan standar 5 PKPO (Pelayanan Kefarmasian dan Penggunaan Obat) yang tertuang dalam pedoman SNAR Edisi 1.1.

Untuk menambah pengetahuan tenaga farmasi dalam penyiapan obat maka kegiatan seminar dilanjutkan dengan kegiatan workshop tentang penyiapan sediaan IV admixture. Kegiatan workshop dipandu langsung oleh ibu Putu Dewi Antari, S.Si., Apt. Peserta seminar dan workshop begitu antusias dalam mengikuti kegiatan ini.

Windi Virdiyanti berharap pengetahuan dan kompetensi peserta meningkat dan peserta bisa lebih memahami peran dan tantangan tenaga farmasi  dalam meningkatkan mutu pelayanan rumah sakit sesuai dengan SNARS edisi 1.1 termasuk didalamnya manajemen risiko, strategi pemilihan indikator mutu, sistem medication safety.

“Disisi lain, peran komprehensif tenaga farmasi diharapkan dapat membantu rumah sakit dalam melakukan kendali mutu dan kendali biaya. Kegiatan-kegiatan semacam ini akan terus kami lakukan demi meningkatkan kompetensi apoteker di rumah sakit yang ada di Kalimantan Barat,” pungkasnya.

Related Posts