Seminar Nasional Bertajuk “Strategi Penanggulangan Kebakaran Hutan dan Lahan di Kalimantan Barat”

Memperingati Hari Tata Ruang (HATARU) Tahun  2019 yang jatuh setiap tanggal 8 November, Himpunan Mahasiswa Perencanaan Wilayah dan Kota Universitas Tanjungpura (HIMAP UNTAN) menggelar Seminar Nasional dengan tema “Strategi Penanggulangan Kebakaran Hutan dan Lahan di Kalimantan Barat”. Kegiatan ini berlangsung di Pendopo Gubernur Kalbar, Sabtu (16/11).

Kegiatan ini dimulai dengan ditampilkannya tarian 3 etnis yang melambangkan suku di Kalbar yang meliputi Tionghoa,  Melayu dan Dayak. Kegiatan ini dibuka secara langsung oleh Gubernur Kalimantan Barat H. Sutarmidji, S.H., M.Hum. dan didampingi oleh Ketua Panitia, Ketua Himpunan Mahasiswa Perencanaan Wilayah dan Kota (HIMAP), Wakil Rektor 1 Untan,  dan Perwakilan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) dengan dibunyikannya gong 3 kali secara simbolis  sebagai tanda dibukanya Seminar Nasional Hari Tata Ruang Tahun 2019.

Gubernur Kalimantan Barat mengapresiasi dengan adanya kegiatan ini sebagai bentuk perhatian mahasiswa terhadap tata ruang hutan dan lahan. Ia mengatakan bahwa kurangnya ketegasan dalam kebijakan dan sosialisasi kepada masyarakat menjadikan masalah ini terus berulang. “Tidak adanya kebijakan yang tegas dan kurangnya sosialisasi kepada masyarakat mengenai Karhutla membuat  masalah ini tidak akan selesai,” jelasnya.

Hafiz Auliandri, selaku ketua panitia Hari Tata Ruang Tahun 2019 berharap kegiatan ini dapat menambah pengetahuan masyarakat tentang Karhutla. “Latar belakang diambilnya tema ‘Strategi Penanggulangan Kebakaran Hutan dan Lahan di Kalimantan Barat’ ini karena besarnya kerugian masyarakat dari segi ekonomi, sosial, maupun lingkungan. Dengan adanya kegiatan ini memberikan pengetahuan kepada masyarakat tentang mengatasi Karhutla dan mengajak masyarakat berpartisipasi dalam mencegah Karhutla,” katanya.

Seminar Nasional Hari Tata Ruang Tahun 2019 ini diisi dengan penyampaian materi dari Erika Mardiyanti S.Kom, M.Si selaku Kepala Stasiun BMKG Supadio, Nadori selaku Ketua Kelompok Tani Sungai Asam, dan Aminingrum M.A selaku Kepala Seksi Mitigasi Bencana Non Struktur BNPB Pusat. Moderator yang memandu jalannya seminar ini adalah Firsta Rekayasa Hernovianty, S.T, M.T.

Dalam penyampaian materinya, Erika Mardiyanti S.Kom, M.Si menjelaskan mengenai hotspot di Kalimantan Barat, karakteristik iklim di Kalimantan Barat, kondisi saat ini, prakiraan cuaca, dan analisis prediksi enso. Peran BMKG sebagai pemberi informasi publik mengenai adanya peringatan dini dari cuaca, iklim atau pun gelombang melalui data yang ada.

Penyampaian materi kedua oleh Nadori membahas mengenai fakta kebakaran hutan dan lahan di lapangan, dampak yang dirasakan masyarakat, dan kesadaran masyarakat terhadap hukum  mengenai pencegahan dan penanggulangan kebakaran hutan dan lahan. “Awal mula pembakaran lahan di desa karena ketidaktahuan masyarakat mengenai dampak dari adanya kebakaran lahan ini. Dengan adanya hukum yang dibuat mengikat masyarakat dapat meminimalisir adanya kebakaran hutan dan lahan,” tuturnya.

Penyampaian materi ketiga oleh Aminingrum M.A menjelaskan mengenai dampak karhutla, luas areal karhutla, penyebab karhutla, upaya pengendalian karhutla, ancaman dan solusi permanen, dan tantangan pencegahan karhutbunla. “Adanya 3 Dimensi Grand Design karhutbunla ialah pencegahan,  Penanggulangan, dan pemulihan serta 5 strategi utama ialah permanen, lintas sektor, terpadu, komprehensif, cepat dan responsif, dan tepat sasaran.” tuturnya.

(Rilis/Agus)

Related Posts