Cegah Stunting Sejak Hamil

Kasus stunting pada anak terus mengalami peningkatan dari tahun 2010 hingga tahun 2013. Berdasarkan data riset kesehatan dasar (Riskesdas) ditemukan kasus stunting pada anak pada tahun 2010 sebesar 35,6% dan mengalami peningkatan hingga 37,2% pada tahun 2013. Kasus tersebut lebih tinggi dibandingkan dengan negara-negara lain, seperti Myanmar (35%), Vietnam (23%), dan Thailand (16%). Tingginya kasus stunting pada anak di Indonesia harus menjadi perhatian kita semua. Hal ini dikarenakan stunting dapat memberikan dampak buruk terutama pada pertumbuhan otak yang akan mempengaruhi kemampuan berfikir dan motorik anak.

Stunting didefinisikan sebagai kondisi gagal tumbuh dimana tinggi badan anak ternyata lebih rendah dibandingkan tinggi badan anak seumurannya. Salah satu penyebabnya adalah kurang asupan gizi selama 1000 hari pertama kehidupan.  Hal ini dikarenakan tanda-tanda stunting biasanya baru akan terlihat pada saat anak memasuki usia dua tahun. Untuk mencegah terjadinya stunting pada anak dapat dilakukan dengan memperhatikan asupan makanan ibu selama masa kehamilan. Asupan gizi yang buruk pada ibu hamil akan menghambat pertumbuhan bayi dan berlanjut hingga pasca kelahiran. Anak-anak yang mengalami stunting akan mengalami kesulitan dalam menerima pelajaran dan anak menjadi kurang aktif dan produktif. Melihat kondisi tersebut ibu-ibu perlu memperhatikan asupan makanan bergizi pada saat kehamilan agar stunting tidak terjadi.

Ada beberapa asupan yang harus diperhatikan ibu-ibu selama masa kehamilan. Pertama, asupan makan yang dikonsumsi ibu hamil harus mengandung tinggi zat besi. Tujuan pemberian asupan tinggi zat besi untuk mencegah terjadinya anemia pada ibu hamil. Ibu hamil yang rentan mengalami anemia berisiko untuk melahirkan bayi prematur, berat badan lahir rendah (BBLR) yang pada akhirnya akan berisiko tinggi untuk terjadinya stunting. Contoh asupan makan tinggi zat besi, yaitu ikan, unggas, daging merah, sayur-sayuran, kacang-kacangan, dan biji-bijian. Disisi lain, penambahan suplemen zat besi juga perlu diberikan pada ibu hamil. Pencegahan stunting diketahui dapat dicegah sebesar 14% pada ibu-ibu hamil yang mengkonsumsi suplemen zat besi.

Kedua, asupan makanan yang mengandung tinggi asam folat. Tujuan pemberian asam folat pada masa kehamilan untuk perkembangan sumsum tulang belakang bayi serta otaknya. Selain itu, konsumsi nutrisi ini akan memberikan pengurangan risiko gangguan kehamilan sebesar 72%. Oleh sebab itu, pemberian asam folat dapat digunakan untuk mencegah terjadinya stunting pada bayi, balita, dan anak-anak. Contoh asupan makanan yang mengandung tinggi asam folat antara lain daging unggas, kuning telur, jagung, melon jingga, tomat, pisang, buah bit, jeruk, alpukat, kacang panjang selada, lobak hijau, buncis, brokoli, selederi asparagus, bayam, gandum, biji bunga matahari. Melihat manfaat yang ada maka pemberian asupan tingi zat besi dan asam folat sangat penting diperhatikan oleh ibu-ibu di masa kehamilan.

Berhubung masalah stunting akan terlihat pada anak ketika memasuki usia 2 tahun. Oleh karena itu, makanan bayi pasca lahiran perlu diperhatikan seperti pemberian air susu ibu (ASI) secara ekslusif selama 6 (enam) bulan. Pemberian ASI memiliki peranan penting dalam mencegah serangan stunting pada anak. Kandungan gizi pada ASI bersifat makro dan mikro, sehingga sangat diperlukan bayi yang berusia 6 bulan. Selain itu, kandungan protein whey serta kolostrum didalam ASI juga memiliki peranan penting dalam menjaga daya tahan tubuh bayi terhadap berbagai serangan penyakit. Program Inisiasi Menyusu Dini (IMD) perlu digalakkan pada ibu-ibu pasca melahirkan dalam rangka mencegah terjadinya stunting. Disisi lain, pemberian makanan pemdamping ASI (MPASI) perlu diberikan pada bayi dengan usia di atas 6 bulan. Dengan memperhatikan asupan janin dari sejak hamil hingga pasca lahiran diharapkan tumbuh kembang anak dapat terjaga dengan baik dan angka kejadian stunting dapat dicegah sejak dini.

Misnawati (Mahasiswi Fisipol Untan Ilmu Administrasi Publik)

Related Posts