Webinar Lapmi : Peran dan Tantangan Media Massa Indonesia di Era New Normal

webinar lapmi hmi pontianak

Lapmi Pontianak, Eksistensinews.com | Lembaga Pers Mahasiswa Islam (Lapmi) HMI Cabang Pontianak menggelar Webinar Nasional via Zoom dengan tema “Peluang dan Tantangan Media Massa Indonesia di Era New Normal, Jum’at (18 September 2020).

Webinar tersebut menghadirkan dua narasumber tingkat nasional yang berkompeten di bidangnya, yaitu Rizky Wahyuni, S.P., M.Si (Wakil Ketua KPID DKI Jakarta) dan Teguh Imam Wibowo, S.T (Kepala Perum LKBN Antara Biro Kalimantan Barat).

Selain itu juga dihadiri oleh Muhammad Hakiki, S.H Ketua Umum HMI Cabang Pontianak dan Bergas Chahyo Baskoro, S.Hut., M.Si Direktur Utama Badan Koordinasi Nasional (Bakornas) Lapmi PB HMI.

Direktur Lapmi HMI Cabang Pontianak, Zuliah Anggraini mengatakan selama kurang lebih enam bulan masyarakat Indonesia dihadapkan pada situasi sulit akibat pandemi Covid-19. Tentu sektor informasi menjadi salah satu sektor yang ikut terdampak dalam hal ini.

“Sesuai dengan tema kita pada Webinar hari ini, yang menjadi peluang di sini saya rasa lebih ke individu masing-masing. Ketika kita banyak beraktivitas di rumah, justru media menjadi peluang pekerjaan baru bagi kita dan tentunya harus ada ide kreatif dan inovatif,” ujar Zuliah.

Pada saat kita punya peluang, maka tantangannya kita harus bersaing dengan media lain. Selain itu, beberapa perusahaan pers dikabarkan PHK sebagian karyawan, dapur redaksi tampak sepi setelah keluar kebijakan WFH, dan tantangan bagi para insan pers dalam melakukan liputan lapangan dengan prosedur protokol kesehatan yang benar, masih banyak lagi tantangan lainnya.

“Namun, pers tetap memiliki kewajiban dalam menyediakan informasi kepada masyarakat, terutama seputar pandemi Covid-19. Pers pula sebagai jembatan sekaligus ujung tombak ekonomi kerakyatan berbasis digital. Maka yang menjadi persoalan di sini ialah bagaimana pers mampu bertahan di tengah tantangan pandemi Covid-19?” ujar Zuliah.

Zuliah berharap dengan hadirnya Webinar ini dapat menjawab semua tantangan itu dan memanfaatkan peluang ini melalui peran dan fungsi media massa.

Dalam penyampaian narasumber, Rizky Wahyuni mengatakan ada media masa old atau yang biasa disebut konvensional, seperti televisi dan radio, dan pada media cetak seperti majalah, buku, koran dan lainnya.

Dalam perkembangan digitalisasi sekarang semua sudah menyesuaikan menggunakan flatform media digital. TV dan radio pun sekarang juga mulai streaming, bahkan yang dulunya konvensional (old) sekarang sudah menduplikasi ke digital.

“Di Antara memang konsisten, karena kantor berita media cetak jadi aman. Tapi coba teman-teman sekarang inventarisir, hampir semua media cetak Indonesia menduplikasi medianya ke digital,” ungkap Rizky Wahyuni melalui via Zoom Webinar Lapmi HMI Cabang Pontianak, Jum’at (18 September 2020).

Ia menambahkan, informasi-informasi yang dibutuhkan adalah kecepatan adaptasi itu sebelum dimasukan ke media cetak biasanya beberapa media masukan ke online dan beberapa sekarang juga mereka sudah menerapkan e-newspaper. Begitu juga dengan streaming sudah dilakukan TV dan radio.

Selain itu, Teguh Imam juga mengatakan di era digital ini sekarang sudah ada aplikasi di mana membuat sistem itu bisa membuat sendiri berita, seperti robot. Terutama bagi pengemar bola, misalnya Barcelona melawan Real Madrid. Jadi orang seketika itu tidak bisa mendapatkan tayangan secara langsung mendapatkan informasinya  bagaimana permainan bola di lapangan, bagaimana hasil dan analisanya, sehingga perkejaan wartawan itu semakin tersaingi oleh teknologi.

Menurutnya ada perbedaan antara orang menulis dengan robot. Ia yakin kinerja robot akan kurang baik karena tidak semua aplikasi mampu menerjemahkan apa yang diinginkan pembaca.

“Namun ini salah satu tantangan juga bagi media massa. Di era digital ini memudahkan, akan tetapi juga bisa menjadi tantangan. Kita tidak tahu bagaimana lima tahun ke depan,” ujar Teguh Imam melalui via Zoom Webinar Lapmi HMI Cabang Pontianak, Jum’at (18 September 2020).

Ia juga menuturkan bahwa pandemi Covid-19 ini mengubah segalanya bagaimana mengemas konten dengan menarik dan mempunyai ciri khas karena konten itu juara bagaimana pemasarannya konten itu bisa diminati pengguna.

Kelebihan lainnya, jika dibandingkan dengan kinerja robot. Manusia bisa mengecek dan re-check mesin dan menganalisanya. Tapi manusia yang memutuskan apakah media konvensional akan tergusur oleh digital.

webinar lapmi hmi pontianak via zoom
Foto : Webinar Lapmi HMI Cabang Pontianak saat penyampaian oleh narasumber Teguh Imam. (Sumber : Lapmi Pontianak)

Bicara tentang para pekerja tergusur pada era digital ini menurut Rizky Wahyuni, misalnya untuk tim produksi mungkin berkurang. Tapi sekarang potensinya yang akan bisa digali adalah konten bahwa kekuatan konten yang pada hari ini telah masuk digitalisasi selain produksi karena sudah adaptasi ke digital.

“Tentu yang dipertimbangkan harusnya adalah kontennya, karena sekarang TV-TV bisa beradaptasi walaupun tidak melakukan produksi selama masa Covid-19 selama bulan Maret hingga Juni. Mereka tidak melakukan produksi, tapi mereka tetap bisa bersiaran, mengapa? Karena kontennya itu yang dijual. Tidak bisa berproduksi, mereka bisa menduplikasi konten-konten dari media sosial, YouTube, dan lainnya,” ujar Wakil Ketua KPID DKI Jakarta.

Rizky Wahyuni menjelaskan hampir seluruh Lembaga Penyiaran punya program dari media sosial yang viral, kemudian diangkat ke TV juga bagian dari salah satu untuk mengait penonton. Kemudian berkerja sama dengan influencer. Jadi tayangan-tayangan YouTube dari youtuber-youtuber dan influencer memiliki subscribe yang luar biasa banyak, seperti Baim Paula sudah mencapai 16 Juta subscriber. Kemudian Rans Entertainment kanal YouTube Rafi Ahmad 17,4 Juta sudah muncul di TV, itu juga strategi Lembaga Penyiaran konvensional.

Menurutnya untuk menghadirkan penonton-penonton yang mengunakan platform media sosial ke TV di era digital untuk menuju penyiaran digital. Apalagi tahun 2021-2022, mungkin tidak ada lagi TV analog karena semuanya migrasi ke TV digital.

Lain halnya dengan Kepala Perum LKBN Antara Biro Kalbar, Teguh mengatakan jika kita tidak cepat beradaptasi maka akan jauh ketinggalan dan akan tidak mampu dengan perubahan zaman.

“Terkait isu digitalisasi sudah lama, terutama Lembaga Penyiaran. Pasarnya sangat besar, tarik ulur di situ juga sangat kuat. Namun yang menjadi persoalan ialah apakah media konvensional punya sumbangsih yang besar. Saya pikir itu sulit,” katanya.

Teguh Imam menambahkan bahwa semua media punya pasar yang berbeda meskipun isinya sama. Tentu semua punya kelebihan tersendiri.

“Kenapa media massa konvensional juga ada yang bisa dimuat online secara secara cepat. Tapi mereka membuat berita cetak untuk di analisa dan tidak semua berita yang akan dimuat dibuat online terlebih dahulu, biasanya srateginya seperti itu,” pungkasnya.

Penulis : Rio Febry Pratama (Direktur Humas dan Administrasi Lapmi Pontianak)

Editor : Zuliah Anggraini (Direktur Lapmi Pontianak)

Related Posts