Dosen Jurusan Kedokteran Bekerja Sama dengan AIMI dan IIDI Kalbar Dalam Upaya Penurunan Angka Stunting

Dosen Jurusan Kedokteran Bekerja Sama dengan AIMI dan IIDI Kalbar Dalam Upaya Penurunan Angka Stunting

Stunting merupakan permasalahan kurang gizi kronis yang disebabkan oleh kurangnya asupan gizi dalam waktu cukup lama akibat pemberian makanan yang tidak sesuai dengan kebutuhan gizi dan konsekuensi dari beberapa faktor yang sering dikaitkan dengan kemiskinan termasuk gizi, kesehatan, sanitasi dan lingkungan. Faktor yang mempengaruhi terjadinya stunting pada anak balita yang berada di wilayah pedesaan dan perkotaan adalah pendidikan ibu, pendapatan keluarga, pengetahuan ibu mengenai gizi, pemberian ASI eksklusif, umur pemberian MP-ASI, tingkat kecukupan zink dan zat besi, riwayat penyakit infeksi serta faktor genetik. Kekurangan gizi pada bayi dan anak dapat meningkatkan angka kejadian kematian, mudah sakit dan memiliki postur tubuh tak maksimal saat dewasa. Kemampuan kognitif penderita juga berkurang, sehingga mengakibatkan kerugian ekonomi jangka panjang bagi negara . Gizi sangat berperan dalam tumbuh kembang anak. Tujuan pemberian gizi yang baik adalah mencapai tumbuh kembang anak yang adekuat. Pada bayi dan anak, kekurangan gizi akan menimbulkan gangguan pertumbuhan dan perkembangan yang apabila tidak diatasi secara dini akan berlanjut hingga dewasa.

Provinsi Kalimantan Barat menduduki posisi ke 7 provinsi di Indonesia dengan prevalensi kasus stunting tertinggi yaitu sebesar 29,9% kasus. Berdasarkan data Dinas Kesehatan provinsi Kalimantan Barat bahwa pada tahun 2021 kasus stunting mencapai 43.872 kasus dengan 2010 kasus terjadi di Kabupaten Mempawah. Pada akhir tahun 2021, Desa Bukit Batu merupakan desa pertama di Kalimantan Barat yang dicanangkan untuk menjadi desa Dapur Sehat Atasi Stunting (DAHSAT). Akan tetapi program-program masih belum terlaksana, satu diantaranya kendala sumber daya manusia (SDM). Selain itu pendampingan SDM dalam hal edukasi masyarakat juga masih terkendala mengenai jarak sehingga pendampingan jangka panjang agar para SDM yang dijadikan kader dapat dengan mudah berkonsultasi dengan para ahli jika terdapat kendala di lapangan setiap saat.

Fakultas Kedokteran dalam rangka mendukung program pencegahan stunting melakukan Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) Bina Desa di Desa percontohan provinsi Kalimantan Barat. Untuk menjadikan desa percontohan dan untuk menjawab tantangan menghadapi pandemi covid-19 dalam edukasi kesehatan, serta perlunya 2 aspek yaitu dibidang kesehatan; meningkatkan pengetahuan dan keterampilan kader mengenai kesehatan anak, pemberian ASI serta pemberian makan bayi dan anak (PMBA) yang sesuai dengan gizi yang seimbang guna menekan prevalensi.

Tim PKM Fakultas Kedokteran yang diketuai oleh dr. Delima Fajar Liana, Sp.MK bekerja sama dengan mitra Asosiasi Ibu Menyusui (AIMI) Kalimantan Barat dan Ikatan Istri Dokter Indonesia (IIDI) Kalimantan Barat mengagendakan kegiatan workshop pemberian ASI dan PMBA, seminar mengenai Kesehatan anak dan pengenalan Stunting, bekal sehat sehat dan menu sehat, serta pengembangan aplikasi HAIAIMI. Workshop pemberian ASI dan PMBA diadakan pada tanggal 10 September 2022 di Kantor Desa Bukit Batu, Kecamatan Sungai Kunyit, Kabupaten Mempawah dengan peserta adalah kader desa. Aditya Galih Mastika, S.E selaku ketua AIMI Kalimantan Barat bersama beberapa konselor menyusui dan PMBA secara langsung memberikan workshop mengenai berbagai macam kondisi terkait pemberian ASI dan pemberian makanan yang sesuai untuk bayi dan anak agar terwujudnya gizi yang seimbang. Pelaksanaan workshop juga menggunakan alat peraga yang akan diberikan kepada kader masyarakat baik untuk pemberian ASI dan PMBA sehingga para peserta yang dikaderisasi dapat memahami dan menjelaskan ke masyarakat dengan lebih mudah. Aditya juga menyampaikan bahwa pentingnya kegiatan workshop ini selain mengedukasi para kader juga dapat menginisiasi perubahan prilaku ibu terkait proses menyusui dan PMBA yang tepat, guna memenuhi gizi bayi dan anak kaitannya dalam mengurangi angka kejadian stunting.

Rangkaian kegiatan yang kedua ditujukan untuk masyarakat umum yaitu ibu yang memiliki bayi dan balita dilaksanakan di pertemuan kedua dilaksanakan pada 26 September 2022. Topik seminar mengenai Kesehatan anak dan pengenalan tanda stunting, juga mengenai bekal sehat dan menu sehat yang disampaikan oleh dr. Fitri Vidyastuti, Sp.GK yang merupakan perwakilan dari IIDI Kalimantan Barat. Kegiatan ini secara keseluruhan bertujuan untuk memberikan edukasi masyarakat agar dapat mengenali tanda stunting sejak awal.

Aspek pendekatan teknologi untuk pendampingan para kader dengan media aplikasi konsultasi dan informasi berbasis android yang bertujuan memudahkan para kader dan masyarakat mengakses informasi dan berdiskusi langsung dengan para konselor bersertifikasi. Aplikasi HAI AIMI yang dibuat dan dikembangkan oleh tim Pengabdian Masyarakat Fakultas Kedokteran Universitas Tanjungpura sejak tahun 2021 memuat informasi seputar menyusui dan MPASI, lokasi ruang menyusui terdekat, layanan live chat konselor bersertifikasi dan artikel-artikel yang memuat informasi seputar menyusui dan PMBA. Tahun 2022, aplikasi ini ditambahkan fitur kalkulator penentuan indeks masa tubuh dan panduan tumbuh kembang anak yang diharapkan dapat membantu masyarakat umum dalam memantau tumbuh kembang buah hatinya.

Leave a Reply