Skip to main content

Thetanjungpuratimes.com

Peningkatan Literasi Kesehatan Melalui Edukasi Tanaman Aromaterapi Berkhasiat Obat pada Siswa SMK Bina Dharma

Pontianak – Program Studi Farmasi Fakultas Kedokteran Universitas Tanjungpura (FK UNTAN) terus mendorong peningkatan literasi kesehatan generasi muda melalui edukasi berbasis bahan alam. Salah satunya dilakukan melalui kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) bertema “Peningkatan Literasi Kesehatan Melalui Edukasi Tanaman Aromaterapi Berkhasiat Obat pada Siswa SMK Bina Dharma”. Kegiatan tersebut dilaksanakan pada Jumat, 7 Agustus 2026, pukul 07.00–11.30 WIB, bertempat di SMK Bina Dharma Pontianak, Kelurahan Sungai Beliung, Kecamatan Pontianak Barat, Kota Pontianak.

Kegiatan ini bertujuan meningkatkan pengetahuan dan literasi kesehatan siswa melalui pengenalan tanaman aromaterapi yang memiliki potensi khasiat obat. Para siswa diperkenalkan dengan berbagai tanaman yang mudah ditemukan di lingkungan sekitar, di antaranya serai wangi, daun jeruk purut, kemangi, dan nilam. Melalui kegiatan tersebut, siswa tidak hanya diajak mengenal tanaman aromaterapi dari sisi aroma dan pemanfaatannya, tetapi juga memperoleh pemahaman mengenai senyawa yang berkaitan dengan aroma serta potensi manfaatnya dalam bidang kesehatan.

Penyampaian materi dilakukan secara interaktif dengan menggunakan media presentasi, video, dan bahan edukasi. Setelah pemaparan materi, siswa diberikan kesempatan untuk berdiskusi dan mengajukan pertanyaan mengenai tanaman aromaterapi dan pemanfaatannya. Rangkaian kegiatan diawali dengan registrasi peserta dan pelaksanaan pre-test untuk mengetahui tingkat pengetahuan awal siswa. Setelah materi dan diskusi selesai, peserta mengikuti post-test sebagai bagian dari evaluasi untuk melihat perubahan pengetahuan setelah mengikuti edukasi.

Hasil evaluasi menunjukkan adanya peningkatan pengetahuan peserta. Dari 42 peserta yang memiliki data pre-test dan post-test secara lengkap, rata-rata skor pengetahuan meningkat dari 91,67 persen menjadi 96,43 persen. Dengan demikian, terdapat peningkatan sebesar 4,76 poin persentase setelah kegiatan edukasi. Peningkatan juga terlihat dari jumlah peserta yang memperoleh nilai minimal 85 persen. Sebelum mengikuti edukasi, terdapat 36 peserta atau 85,71 persen yang mencapai nilai tersebut. Setelah kegiatan, jumlahnya meningkat menjadi 41 peserta atau 97,62 persen.

Salah satu materi yang menunjukkan peningkatan pemahaman cukup besar adalah mengenai khasiat Kulim sebagai antimikroba. Persentase jawaban benar pada materi tersebut meningkat dari 69,05 persen pada pre-test menjadi 92,86 persen pada post-test, atau mengalami peningkatan sebesar 23,81 poin persentase. Selain mengukur pengetahuan, tim PkM juga melakukan evaluasi terhadap pelaksanaan kegiatan. Sebanyak 47 responden memberikan penilaian menggunakan skala 1 sampai 5.

Aspek kebermanfaatan kegiatan memperoleh nilai rata-rata tertinggi, yakni 4,81. Sementara itu, kemampuan pemateri dalam menjawab pertanyaan memperoleh nilai 4,64, sedangkan interaksi selama kegiatan memperoleh nilai 4,57. Hasil tersebut menunjukkan bahwa kegiatan mendapatkan respons positif dari peserta. Edukasi yang diberikan juga menjadi salah satu upaya untuk memperkenalkan pemanfaatan tanaman di sekitar sebagai bagian dari literasi kesehatan yang berbasis pengetahuan ilmiah.

Kegiatan PkM ini dilaksanakan oleh tim Program Studi Farmasi FK UNTAN yang terdiri atas apt. Muhammad Andre Reynaldi, M.S.Farm.sebagai ketua dan Dr. Rafika Sari, M.Farm., Apt. dan apt. Abdurraffi’ Maududi Dermawan, M.Farmsebagai anggota. Kegiatan turut melibatkan tiga mahasiswa Farmasi FK UNTAN, yaitu Michael Ciputra, Muhammad Alhuda, dan Alfredo Da Silva Putra Agung D. Melalui kegiatan ini, siswa diharapkan memiliki pemahaman yang lebih baik mengenai tanaman aromaterapi dan potensi pemanfaatannya. Edukasi juga diarahkan agar siswa dapat melihat penggunaan bahan alam secara lebih kritis, ilmiah, dan rasional.

Kegiatan edukasi tanaman aromaterapi ini sekaligus menjadi bentuk kontribusi Program Studi Farmasi FK UNTAN dalam meningkatkan literasi kesehatan masyarakat, khususnya di kalangan generasi muda. Ke depan, kegiatan serupa dapat dikembangkan dengan pendekatan yang lebih aplikatif. Sejumlah masukan dari peserta antara lain penambahan waktu diskusi, kegiatan yang lebih interaktif, serta praktik langsung atau demonstrasi pembuatan produk aromaterapi dengan dukungan peralatan seperti alat distilasi.