Cegah Luka dan Infeksi, Tim Keperawatan PKM FK Untan Ajarkan Deteksi Dini Luka Kaki pada Pasien Diabetes Mellitus
PONTIANAK – Tim Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) Bagian Keperawatan Fakultas Kedokteran Universitas Tanjungpura melaksanakan kegiatan edukasi kesehatan bertajuk “Pemberdayaan Kelompok Berisiko melalui Edukasi Tanda Awal Luka dan Infeksi Kaki serta Tindakan Awal yang Tepat” di Klinik Utama PKU Muhammadiyah Kitamura Pontianak pada 13–14 Juli 2026.
Kegiatan ini diikuti oleh 30 pasien yang termasuk dalam kelompok berisiko mengalami luka kaki diabetik. Edukasi dilaksanakan sebagai upaya meningkatkan pengetahuan dan kewaspadaan masyarakat terhadap komplikasi kaki akibat diabetes melitus, terutama luka dan infeksi yang sering terlambat dikenali.
Luka kaki diabetik dapat berawal dari masalah yang tampak ringan, seperti lecet, lepuh, kapalan, kulit pecah-pecah, atau kemerahan. Namun, pada penyandang diabetes, kondisi tersebut dapat berkembang menjadi luka yang sulit sembuh dan berisiko mengalami infeksi apabila tidak segera ditangani. Penurunan sensasi pada kaki juga dapat menyebabkan pasien tidak merasakan nyeri meskipun telah terjadi luka.
Melalui kegiatan ini, peserta memperoleh penjelasan mengenai hubungan diabetes melitus dengan terjadinya gangguan pada kaki, faktor-faktor yang meningkatkan risiko luka, serta tanda awal luka dan infeksi yang perlu diwaspadai. Peserta juga diberikan pemahaman mengenai tindakan pertama yang tepat ketika menemukan perubahan pada kaki dan kondisi yang mengharuskan pasien segera mencari pertolongan ke fasilitas pelayanan kesehatan.
Materi disampaikan menggunakan media presentasi yang dilengkapi gambar dan penjelasan sederhana agar mudah dipahami oleh peserta dengan latar belakang usia dan pendidikan yang beragam. Penyampaian dilakukan secara interaktif sehingga peserta dapat menghubungkan materi yang diberikan dengan pengalaman dan kondisi kesehatan yang mereka alami sehari-hari.
Tim pelaksana menekankan pentingnya melakukan pemeriksaan kaki setiap hari. Pemeriksaan tidak hanya dilakukan pada bagian atas kaki, tetapi juga pada telapak, tumit, sela-sela jari, kuku, dan bagian lain yang sulit terlihat. Peserta yang kesulitan melihat telapak kaki dianjurkan menggunakan cermin atau meminta bantuan anggota keluarga.
Selain pemeriksaan rutin, peserta diingatkan untuk menjaga kebersihan kaki, mengeringkan sela-sela jari setelah mencuci kaki, menggunakan pelembap pada kulit yang kering, serta memilih alas kaki yang nyaman dan sesuai ukuran. Penggunaan alas kaki penting untuk melindungi kaki dari benda tajam, gesekan, tekanan, dan cedera yang mungkin tidak disadari.
Peserta juga diberikan penjelasan mengenai berbagai tindakan yang harus dihindari, seperti berjalan tanpa alas kaki, menusuk lepuh, memotong kapalan sendiri, merendam kaki terlalu lama, atau mengoleskan bahan yang tidak direkomendasikan oleh tenaga kesehatan. Tindakan tersebut dapat memperburuk kondisi kulit dan meningkatkan risiko terjadinya infeksi.
Apabila ditemukan kemerahan yang semakin meluas, pembengkakan, rasa hangat pada area luka, keluarnya cairan atau nanah, bau tidak sedap, perubahan warna jaringan, maupun luka yang tidak menunjukkan perbaikan, pasien dianjurkan segera memeriksakan diri. Penanganan sejak dini diperlukan untuk mencegah luka berkembang menjadi infeksi berat dan komplikasi yang lebih serius.
Selain menerima materi, peserta mengikuti evaluasi sebelum dan setelah edukasi untuk melihat perubahan pemahaman terhadap informasi yang diberikan. Hasil evaluasi menunjukkan bahwa kegiatan ini membantu memperkuat pengetahuan peserta mengenai faktor risiko luka kaki diabetik, tanda awal luka dan infeksi, perawatan kaki sehari-hari, serta tindakan awal yang perlu dilakukan.
Setelah mengikuti edukasi, peserta menunjukkan pemahaman yang lebih baik mengenai pentingnya tidak mengabaikan perubahan kecil pada kaki. Mereka juga semakin memahami bahwa pemeriksaan kaki, pengendalian diabetes, penggunaan alas kaki yang aman, dan pemeriksaan segera ke fasilitas kesehatan merupakan bagian penting dalam mencegah komplikasi.
Sesi diskusi dan tanya jawab menjadi bagian yang menarik dalam pelaksanaan kegiatan. Pada hari pertama, peserta menanyakan cara mencegah terjadinya luka serta pola hidup yang dapat diterapkan untuk mengurangi risiko komplikasi. Tim menjelaskan bahwa pencegahan perlu dilakukan melalui pengendalian kadar glukosa darah, kepatuhan menjalani pengobatan, pola makan sehat, aktivitas fisik sesuai kondisi, dan perawatan kaki secara teratur.
Pada hari kedua, peserta menanyakan usia seseorang dapat mengalami diabetes maupun luka kaki, serta cara perawatan dan pencegahannya. Tim menjelaskan bahwa diabetes dapat terjadi pada berbagai kelompok usia, meskipun risikonya meningkat pada orang dengan riwayat keluarga, berat badan berlebih, kurang aktivitas fisik, dan pola hidup yang tidak sehat. Luka kaki juga dapat dialami oleh penyandang diabetes dari berbagai usia, terutama apabila kadar glukosa darah tidak terkontrol dan terdapat gangguan saraf atau sirkulasi.
Sebagai penguatan materi, seluruh peserta memperoleh leaflet edukasi yang dapat dibawa pulang. Leaflet tersebut berisi informasi ringkas mengenai tanda awal luka dan infeksi kaki, tindakan awal yang tepat, pemeriksaan kaki mandiri, serta tanda bahaya yang membutuhkan pemeriksaan segera. Media tersebut diharapkan dapat digunakan kembali oleh peserta dan keluarga sebagai panduan perawatan kaki di rumah.
Pelaksanaan kegiatan mendapat dukungan dari Klinik Utama PKU Muhammadiyah Kitamura Pontianak, mulai dari penyediaan tempat, pengaturan peserta, hingga pendampingan selama kegiatan berlangsung. Seluruh rangkaian kegiatan berjalan tertib dan lancar.
Melalui kegiatan PKM ini, tim keperawatan Fakultas Kedokteran Universitas Tanjungpura berharap peserta tidak hanya memahami materi yang disampaikan, tetapi juga mampu menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari. Deteksi dini, perawatan kaki yang benar, dan tindakan cepat ketika menemukan tanda luka menjadi langkah penting untuk mencegah infeksi serta komplikasi kaki diabetik yang lebih berat.
Kolaborasi antara perguruan tinggi dan fasilitas pelayanan kesehatan diharapkan terus dikembangkan agar edukasi mengenai pencegahan luka kaki diabetik dapat dilakukan secara berkelanjutan dan menjangkau lebih banyak masyarakat berisiko.


