Skip to main content

Thetanjungpuratimes.com

Kulit Jeruk Limao di Tangan Dosen Farmasi Untan: dari Limbah Daerah Menjadi Produk Sabun Antibakteri Interaktif Di SMKS Panca Bhakti

KUBU RAYA — Tim Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) dari Program Studi Farmasi Fakultas Kedokteran Universitas Tanjungpura (FK UNTAN) melatih siswa SMKS Panca Bhakti Sungai Raya, Kabupaten Kubu Raya, mengolah limbah kulit jeruk limao (Citrus amblycarpa) menjadi produk sabun antibakteri berbasis minyak atsiri. Program yang berlangsung dari April hingga September 2026 ini dipimpin oleh Meri Ropiqa, M.Pharm.,Sci., Apt., bersama Dr. Hj. Sri Wahdaningsih, M.Sc., Apt., dan apt. Indah Aprianti, M.Farm., dengan melibatkan tiga mahasiswa Farmasi UNTAN. Kegiatan pengabdian ini disusun untuk mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs) Tujuan ke-4 tentang Pendidikan Berkualitas, pencapaian Indikator Kinerja Utama (IKU 7) Perguruan Tinggi, serta mengimplementasikan pendekatan etnohealth melalui pemanfaatan bahan alam lokal Kalimantan Barat secara ilmiah dan berkelanjutan.

“Kulit jeruk limao kaya akan senyawa bioaktif seperti flavonoid, limonene, dan minyak atsiri yang terbukti memiliki aktivitas antibakteri alami. Sayangnya, bahan ini sering dianggap sebagai limbah tak bernilai,” ujar Ketua Tim PkM, Meri Ropiqa, M.Pharm.,Sci., Apt. Meri menjelaskan bahwa pendekatan etnohealth—yakni memanfaatkan sumber daya alam lokal untuk kesehatan masyarakat secara berkelanjutan—menjadi landasan utama program ini. Selain memberikan wawasan ilmiah, kegiatan ini dirancang untuk melatih keterampilan praktis para siswa SMK kejuruan farmasi agar mampu mengolah bahan alam di sekitarnya menjadi produk perawatan tubuh bernilai ekonomi dan efektivitas antibakteri.

Sebelum pelaksanaan edukasi di lapangan, tim pelaksana menuntaskan optimasi laboratorium di FK UNTAN untuk mengekstraksi minyak atsiri kulit jeruk limao menggunakan metode destilasi uap (steam distillation) dan memformulasi hasilnya ke dalam basis sabun transparan (melt and pour). Minyak atsiri berkadar 5–10 tetes per 100 gram basis sabun yang kaya akan kandungan bioaktif seperti flavonoid dan limonene tersebut terbukti memiliki aktivitas antibakteri. Tahapan ilmiah ini dibukukan dalam dokumen Standar Operasional Prosedur (SOP) baku, slide presentasi interaktif, serta video tutorial audio-visual sebagai media transfer pengetahuan yang sistematis. Rangkaian persiapan tersebut menjadi landasan utama sebelum tim menyampaikan pemaparan materi, peragaan video, dan pelatihan praktik langsung (hands-on training) pembuatan sabun kepada siswa mitra.

Intervensi edukasi dan pelatihan berbasis praktik ini terbukti memberikan dampak positif terhadap peningkatan pengetahuan serta keterampilan praktis siswa secara nyata. Melalui evaluasi instrumen pre-test dan post-test digital via Google Form serta uji analisis statistik, pemahaman siswa mengenai potensi bahan alam, teknik ekstraksi destilasi, dan formulasi sediaan sabun antibakteri terbukti mengalami peningkatan yang signifikan. Ke depan, pihak SMKS Panca Bhakti diharapkan dapat mengintegrasikan materi pengolahan minyak atsiri ini ke dalam kurikulum praktikum atau unit kegiatan kewirausahaan sekolah. Langkah ini penting agar para siswa mampu memproduksi dan memasarkan sabun aromaterapi antibakteri secara mandiri serta berkelanjutan.