Melalui Psikoedukasi, Dosen Keperawatan FK Untan Tingkatkan Kesehatan Jiwa Lansia dengan Penyakit Kronis di Wilayah Kerja UPT Puskesmas Kom Yos Sudarso
Pontianak, Komitmen perguruan tinggi dalam mendukung penguatan kesehatan masyarakat di daerah terus diwujudkan melalui berbagai kegiatan hilirisasi riset dan pengabdian kepada masyarakat. Salah satunya dilakukan oleh Tim dari Bagian Keperawatan Fakultas Kedokteran Universitas Tanjungpura (FK Untan) yang melaksanakan kegiatan bertajuk “Psikoedukasi untuk Peningkatan Kesehatan Mental dan Kualitas Hidup Lansia dengan Penyakit Kronis” di Wilayah kerja UPT Puskesmas Kom Yos Sudarso Pontianak. pada Jum’at (19/06/2026)
Kegiatan ini bertujuan membekali para lansia dengan keterampilan manajemen stres dan pengelolaan emosi—salah satunya melalui pengenalan teknik STOP—serta meningkatkan resiliensi mereka agar lebih siap beradaptasi dengan kondisi penyakit kronis yang dideritanya.
Kegiatan ini dipimpin oleh Ns. Dwin Seprian, S.Kep., M.Kep., selaku ketua tim, dengan anggota dosen Djoko Priyono, Ns., M.Kep., PhD, Ns. Muhammad Luthfi, S.Kep., M.Kep., dan Ns. Faisal Kholid Fahdi, S.Kep., M.Kep., M.Pd. Turut berpartisipasi dalam kegiatan tersebut dua mahasiswa Program Studi Keperawatan Fakultas Kedokteran Universitas Tanjungpura, yaitu Ivido Chaerunnisah dan Nabilah Nur Srikandi, sebagai bagian dari implementasi tridarma perguruan tinggi yang melibatkan dosen dan mahasiswa secara kolaboratif.
Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini diikuti oleh puluhan lansia penderita penyakit kronis yang menjalani terapi rutin di wilayah kerja UPT Puskesmas Kom Yos Sudarso Pontianak. Para lansia mengikuti seluruh rangkaian kegiatan dengan penuh antusias, mulai dari sesi pengenalan materi kesehatan mental, penapisan (screening) kondisi psikologis, hingga diskusi interaktif mengenai strategi praktis dalam mengelola emosi dan stres sehari-hari. Saat ini, Kota Pontianak menghadapi tantangan nyata seiring meningkatnya populasi lansia yang diiringi oleh tingginya beban penyakit tidak menular. Di wilayah kerja UPT Puskesmas Kom Yos Sudarso sendiri, manifestasi klinis dari penyakit kronis secara progresif membatasi aktivitas fisik para lansia. Lebih dari sekadar hambatan fisik, kondisi tersebut rentan memicu masalah psikologis seperti depresi, kecemasan, rasa kesepian, hingga menurunnya rasa percaya diri akibat merasa menjadi beban bagi orang lain. Mata rantai antara keterbatasan fisik dan buruknya kondisi psikologis inilah yang saling mempengaruhi dan memperburuk keadaan, sehingga pada akhirnya menurunkan tingkat kepatuhan lansia dalam mengonsumsi obat serta menjalani pengobatan. Kondisi krusial tersebut menjadi dasar kuat bagi Tim Dosen Bagian Keperawatan FK Untan untuk melaksanakan intervensi langsung kepada kelompok lansia melalui pendekatan psikoedukasi demi meningkatkan kualitas hidup mereka. Melalui pendekatan edukatif yang humanis, para lansia dilatih menggunakan Teknik STOP untuk mengendalikan emosi saat memuncak. Selain itu, mereka dibekali metode manajemen stres mandiri seperti Pernapasan Diafragma (4-2-6), Relaksasi Otot Progresif, dan teknik fokus Mindfulness 5-4-3-2-1. Intervensi ini diharapkan dapat memotivasi lansia melewati tahapan adaptasi penyakit menuju fase penerimaan dan resiliensi, sehingga tercapai kepatuhan pengobatan jangka panjang yang optimal.

Dalam sambutannya, perwakilan warga di wilayah kerja UPT Puskesmas Kom Yos Sudarso menyampaikan apresiasi dan rasa terima kasih yang mendalam kepada tim dosen Fakultas Kedokteran Universitas Tanjungpura atas kepedulian dan terselenggaranya kegiatan ini. Menurutnya, kegiatan edukasi dan pendampingan psikologis seperti ini sangat dinantikan oleh masyarakat, khususnya para lansia yang selama ini berjuang melawan penyakit menahun seperti hipertensi dan diabetes. Ia mengungkapkan bahwa banyak lansia di lingkungannya yang kerap merasa jenuh, cemas, bahkan menunjukkan gejala depresi akibat keterbatasan fisik dalam beraktivitas sehari-hari, yang kemudian membuat mereka rentan tidak patuh dalam meminum obat. Kehadiran tim riset FK Untan ini dinilai membuka mata warga akan pentingnya menjaga kesehatan mental sekaligus memperbaiki cara pandang terhadap terapi medis, demi tercapainya kualitas hidup yang lebih baik di masa tua. “Kami sangat berterima kasih kepada tim dari Fakultas Kedokteran Universitas Tanjungpura yang telah hadir dan berbagi ilmu secara langsung kepada warga di wilayah Puskesmas Kom Yos Sudarso. Kegiatan pengelolaan stres dan emosi seperti ini sangat kami butuhkan, karena keterbatasan fisik akibat penyakit kronis sering kali membebani pikiran kami. Melalui latihan teknik praktis seperti mengelola emosi dan pernapasan yang diajarkan, kami merasa lebih siap dan optimis untuk menjaga kesehatan mental kami,” ungkap salah seorang perwakilan peserta. Lebih lanjut, ia menegaskan bahwa selama ini sebagian besar lansia di komunitasnya hanya berfokus pada pengobatan fisik saja, tanpa didukung oleh pemahaman yang terstruktur mengenai pentingnya menjaga kesehatan mental. Oleh karena itu, kegiatan psikoedukasi ini menjadi momentum penting untuk membekali kognitif dan psikologis para lansia agar mampu melewati fase adaptasi penyakit dengan lebih baik. Ia berharap kerja sama antara pihak UPT Puskesmas Kom Yos Sudarso dan Fakultas Kedokteran Universitas Tanjungpura dapat terus berlanjut dalam berbagai bentuk kegiatan pengabdian masyarakat. Hal tersebut termasuk program pendampingan kesehatan mental berkala, pemantauan kepatuhan minum obat, hingga penguatan resiliensi bagi kelompok lansia di masa mendatang.
“Kami berharap kegiatan ini tidak berhenti sampai di sini. Ke depan kami sangat mengharapkan adanya program berkelanjutan sehingga kelompok lansia di wilayah kami semakin mandiri dalam mengelola kesehatan mental dan fisik mereka. Dengan pendampingan psikologis yang berkelanjutan, kualitas hidup para lansia dapat tetap terjaga secara optimal meskipun harus hidup berdampingan dengan penyakit kronis menahun,” tambahnya. Sementara itu, Ketua Tim PKM, Ns. Dwin Seprian, S.Kep., M.Kep., menjelaskan bahwa tren peningkatan populasi lansia yang diiringi oleh tingginya beban penyakit tidak menular menjadikan pengelolaan kesehatan mental sebagai kebutuhan krusial yang tidak boleh diabaikan. Menurutnya, intervensi psikologis berupa psikoedukasi memiliki peran sangat strategis dalam mendampingi lansia melewati seluruh fase adaptasi penyakit. Mulai dari tahap penapisan (screening) awal untuk mendeteksi gejala depresi atau kecemasan, melatih manajemen stres mandiri (seperti Teknik STOP dan relaksasi), meningkatkan resiliensi kognitif, hingga akhirnya membentuk komitmen kepatuhan konsumsi obat jangka panjang demi tercapainya kualitas hidup lansia yang optimal.
“Ketika menghadapi keterbatasan fisik akibat penyakit kronis, para lansia rentan mengalami tekanan psikologis yang berdampak langsung pada kualitas hidup mereka. Oleh karena itu, penting bagi kelompok lansia untuk memiliki pemahaman dan keterampilan yang baik mengenai manajemen stres mandiri, pengelolaan emosi negatif, pengenalan gejala awal depresi, serta pentingnya menjaga kepatuhan minum obat secara konsisten untuk mencegah perburukan kondisi kesehatannya,” jelasnya.
Pada kegiatan ini, peserta mendapatkan materi mengenai konsep dasar kesehatan mental, pengenalan gejala kecemasan dan depresi pada lansia, serta strategi adaptasi terhadap penyakit kronis. Selain itu, mereka dilatih mempraktikkan teknik manajemen stres secara mandiri, yang meliputi penerapan Teknik STOP saat emosi memuncak, Pernapasan Diafragma (4-2-6), Relaksasi Otot Progresif, hingga teknik fokus menggunakan metode Mindfulness 5-4-3-2-1. Suasana kegiatan berlangsung sangat dinamis dan interaktif. Para lansia aktif mengajukan pertanyaan, berbagi pengalaman pribadi, serta mendiskusikan berbagai tantangan emosional yang selama ini mereka hadapi saat berjuang melawan penyakit menahun seperti hipertensi dan diabetes melitus. Berbagai persoalan nyata yang muncul sehari-hari menjadi bahan diskusi yang menarik, mulai dari rasa jenuh menjalani terapi medis rutin, kecemasan akan komplikasi fisik, rasa kesepian, hingga perasaan rendah diri akibat keterbatasan mobilitas dan merasa menjadi beban bagi keluarga. Antusiasme peserta terlihat sejak awal hingga akhir kegiatan. Banyak lansia menyampaikan bahwa materi relaksasi dan pengelolaan emosi yang diberikan merupakan pengetahuan praktis baru yang sangat mereka butuhkan namun belum pernah diperoleh sebelumnya. Mereka merasa kegiatan ini sangat membantu dalam memberikan ketenangan pikiran dan meningkatkan pemahaman tentang bagaimana menjaga kesehatan mental agar tetap memiliki semangat hidup yang tinggi. Salah seorang peserta mengungkapkan bahwa selama ini fokus perawatan mereka hanya diarahkan pada pengobatan fisik dan kepatuhan konsumsi obat rutin saja, sementara aspek kesehatan jiwa dan pengelolaan stres di masa tua belum mendapatkan perhatian yang memadai. Melalui kegiatan psikoedukasi ini, mereka menjadi lebih memahami pentingnya fase penerimaan (acceptance), pembentukan resiliensi kognitif, serta cara pandang yang positif terhadap terapi medis demi tercapainya pemulihan yang optimal. Selain meningkatkan pengetahuan, kegiatan ini juga diharapkan mampu menumbuhkan budaya peduli kesehatan mental lansia di lingkungan komunitas wilayah kerja UPT Puskesmas Kom Yos Sudarso Pontianak. Kesejahteraan psikologis di masa tua tidak hanya menjadi tanggung jawab individu lansia semata, melainkan bagian dari sistem dukungan keluarga dan pelayanan kesehatan primer yang harus dibangun secara berkelanjutan melalui edukasi berkala dan pendampingan yang humanis.
Keterlibatan mahasiswa dalam kegiatan ini juga menjadi bagian penting dalam proses pembelajaran berbasis masyarakat. Mahasiswa memperoleh pengalaman langsung mengenai kondisi pelayanan kesehatan di lapangan, sekaligus memahami tantangan nyata dalam melakukan pendekatan psikologis dan edukasi interaktif untuk meningkatkan kualitas hidup serta kepatuhan pengobatan para lansia dengan penyakit kronis di komunitas. Melalui kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini, Fakultas Kedokteran Universitas Tanjungpura kembali menegaskan perannya sebagai institusi pendidikan yang tidak hanya berfokus pada pendidikan dan penelitian, tetapi juga berkontribusi secara nyata dalam menyelesaikan berbagai permasalahan kesehatan masyarakat. Sinergi antara perguruan tinggi dan fasilitas pelayanan kesehatan primer diharapkan mampu menghasilkan inovasi serta solusi yang berkelanjutan dalam meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan holistik, khususnya dalam penguatan kesehatan mental dan resiliensi kelompok lansia.
Di akhir kegiatan, peserta dan tim PKM melakukan sesi foto bersama sebagai simbol komitmen untuk terus memperkuat kolaborasi dalam membangun komunitas lansia yang sehat secara mental, resiliens, dan patuh terhadap pengobatan penyakit kronis. Dengan meningkatnya pengetahuan dan keterampilan manajemen stres mandiri ini, diharapkan para lansia di wilayah kerja UPT Puskesmas Kom Yos Sudarso Pontianak dapat semakin siap menghadapi tantangan fisik maupun psikologis akibat penyakit menahun, sehingga mereka tetap mampu menikmati masa tua dengan kualitas hidup yang optimal dan bahagia. Kegiatan ini menjadi langkah awal yang penting dalam membangun budaya peduli kesehatan mental lansia di tingkat pelayanan kesehatan primer. Melalui penguatan kapasitas psikologis dan pendampingan secara berkelanjutan, diharapkan terwujud sistem dukungan kesehatan holistik yang lebih tangguh, adaptif, dan responsif dalam melindungi kesejahteraan jiwa masyarakat lanjut usia di Kota Pontianak.


