Pengabdian kepada Masyarakat Berbasis Mahasiswa dalam Edukasi Warisan Budaya di Benteng Margherita, Sarawak, Malaysia
Kuching, Sarawak – Tim dosen dan mahasiswa melaksanakan kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) kolaboratif bertajuk “Student-Led Community Service on Cultural Heritage Education at Fort Margherita, Sarawak, Malaysia” sebagai bentuk implementasi Tridarma Perguruan Tinggi sekaligus penguatan peran mahasiswa sebagai agen edukasi budaya di tingkat internasional.
Kegiatan ini dilaksanakan di kawasan Fort Margherita, salah satu situs warisan sejarah penting di Sarawak yang memiliki nilai strategis dalam perjalanan sejarah kolonial dan perkembangan masyarakat lokal. Program PKM ini dirancang sebagai kegiatan berbasis edukasi budaya dengan tujuan meningkatkan literasi sejarah masyarakat, khususnya generasi muda, serta menumbuhkan kesadaran kolektif terhadap pentingnya pelestarian warisan budaya sebagai identitas bangsa.
Pelaksanaan kegiatan diawali dengan tahap perencanaan dan koordinasi antara dosen pembimbing dan mahasiswa peserta PKM. Pada tahap ini, tim menyusun materi edukasi budaya yang mencakup sejarah Fort Margherita, fungsi bangunan pada masa kolonial, serta relevansi situs tersebut dalam konteks kebudayaan dan pariwisata masa kini. Materi disusun secara sistematis dengan mempertimbangkan karakteristik audiens agar mudah dipahami oleh masyarakat umum dan pelajar.

Dalam pelaksanaan di lapangan, mahasiswa berperan aktif sebagai fasilitator edukasi budaya dengan memberikan penjelasan secara langsung kepada pengunjung dan masyarakat sekitar. Metode penyampaian dilakukan secara interaktif melalui diskusi kelompok kecil, pemaparan singkat sejarah, serta penggunaan media visual berupa poster edukatif, leaflet informasi sejarah, dan infografis budaya. Pendekatan ini bertujuan untuk menciptakan proses pembelajaran yang partisipatif serta meningkatkan daya tarik masyarakat terhadap materi sejarah dan budaya.

Dosen pendamping berperan sebagai supervisor akademik yang memastikan ketepatan substansi materi, validitas informasi sejarah, serta efektivitas metode penyampaian yang digunakan oleh mahasiswa. Kolaborasi antara dosen dan mahasiswa dalam kegiatan ini mencerminkan sinergi antara penguasaan keilmuan dan praktik lapangan, sehingga kegiatan PKM tidak hanya bersifat seremonial, tetapi memiliki muatan edukatif yang terstruktur dan berkelanjutan.
Koordinator kegiatan Desi Sri Astuti, M.Pd menyampaikan bahwa PKM ini memiliki dua sasaran utama, yaitu peningkatan pemahaman masyarakat tentang pentingnya pelestarian warisan budaya dan penguatan kompetensi mahasiswa dalam aspek komunikasi, kepemimpinan, serta kerja sama lintas budaya. “Melalui kegiatan ini, mahasiswa tidak hanya belajar teori di kelas, tetapi juga mengaplikasikan pengetahuan tersebut dalam konteks nyata, khususnya dalam bidang edukasi sejarah dan budaya,” ungkapnya.

Respon masyarakat dan pengunjung terhadap kegiatan ini tergolong positif. Peserta mengaku memperoleh wawasan baru mengenai latar belakang sejarah Fort Margherita serta memahami pentingnya menjaga keberlanjutan situs budaya sebagai aset edukatif dan pariwisata. Beberapa pengunjung juga menyampaikan bahwa metode penyampaian yang dilakukan oleh mahasiswa memudahkan mereka dalam memahami informasi sejarah yang sebelumnya kurang dikenal secara mendalam.
Dari sisi akademik, kegiatan ini menjadi sarana penguatan pembelajaran berbasis pengalaman (experiential learning), di mana mahasiswa terlibat langsung dalam aktivitas sosial dan edukatif yang relevan dengan bidang studi mereka. Selain itu, kegiatan ini juga berkontribusi dalam membangun jejaring kerja sama lintas negara antara institusi pendidikan Indonesia dan Malaysia dalam bidang pendidikan budaya dan sejarah.
Secara umum, pelaksanaan PKM Student-Led Community Service on Cultural Heritage Education at Fort Margherita menunjukkan bahwa kolaborasi dosen dan mahasiswa dalam pengabdian kepada masyarakat mampu menghasilkan kegiatan yang tidak hanya berdampak sosial, tetapi juga bernilai akademik. Program ini diharapkan dapat menjadi model pengabdian kepada masyarakat berbasis edukasi budaya yang dapat direplikasi di lokasi-lokasi warisan budaya lainnya.
Ketua Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris Maliqul Hafis, M.Pd menyampaikan bahwa kegiatan PKM kolaboratif antara dosen dan mahasiswa ini merupakan wujud nyata implementasi Tridarma Perguruan Tinggi yang berorientasi pada penguatan kompetensi akademik dan sosial mahasiswa. Ia menegaskan bahwa pengabdian kepada masyarakat berbasis edukasi budaya di kawasan Fort Margherita tidak hanya memberikan manfaat bagi masyarakat dan pengunjung, tetapi juga menjadi sarana pembelajaran kontekstual bagi mahasiswa dalam mengembangkan keterampilan komunikasi, berpikir kritis, serta sensitivitas lintas budaya. Menurutnya, kegiatan ini sejalan dengan visi program studi dalam menghasilkan lulusan yang memiliki kemampuan akademik sekaligus kepedulian terhadap pelestarian nilai-nilai budaya lokal dan regional.
Ke depan, kegiatan serupa direncanakan untuk dikembangkan dengan cakupan yang lebih luas, baik dari segi jumlah peserta maupun ragam media edukasi yang digunakan, seperti pengembangan modul pembelajaran budaya dan konten digital berbasis sejarah lokal. Dengan demikian, kegiatan PKM ini diharapkan dapat memberikan kontribusi berkelanjutan terhadap upaya pelestarian warisan budaya serta penguatan peran perguruan tinggi dalam membangun masyarakat berbasis pengetahuan.


