Thetanjungpuratimes.com

Sosialisasi PKM Terkait Pupuk Cair NPK Dorong Peningkatan Produktivitas Pekarangan Dengan Tanaman Hortikultura di Desa Rasau Jaya II

KUBU RAYA, TANJUNGPURATIMES — Upaya peningkatan produktivitas pertanian hortikultura terus didorong di Kecamatan Rasau Jaya. Kali ini, kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat oleh Prodi D3 Budidaya Tanaman Perkebunan, Faperta Untan terkiat sosialisasi penggunaan pupuk cair kimia NPK ini melibatkan unsur Pemerintah Desa Rasau Jaya II, Siti Masitoh, SP selaku Penyuluh, akademisi, serta perwakilan Gapoktan Mandiri Sentosa dan pelaku usaha tani Desa Rasau Jaya II, pada 4 Juni 2026.

Kegiatan tersebut diharapkan dapat memperkuat pemahaman petani mengenai pemupukan yang tepat, mulai dari dosis, waktu aplikasi, hingga cara pencampuran dan penyemprotan yang aman. Selain itu, peserta juga mendapat penjelasan mengenai manfaat pupuk cair NPK untuk mendukung pertumbuhan tanaman sayuran secara lebih merata, khususnya pada fase vegetatif dan generatif yang materinya disampikan oleh Siti Masitoh, SP selaku penyuluh di wilayah Desa Rasau Jaya II.

“Menurut Muhammad Pramulya, pemupukan yang efektif harus didasarkan pada kebutuhan tanaman dan kondisi lahan, bukan sekadar kebiasaan. Pupuk cair NPK dapat membantu penyerapan unsur hara lebih cepat, namun tetap perlu ketepatan dosis agar hasilnya optimal dan tidak menimbulkan pemborosan,” ujarnya saat menyampaikan materi.

Pemerintah desa menyambut baik kegiatan tersebut karena sejalan dengan kebutuhan petani setempat. “Menurut Kadesa Rasau Jaya II Bapak Budiono, program edukasi seperti ini penting agar petani mendapatkan pengetahuan praktis yang bisa langsung diterapkan di lahan. Harapannya, hasil panen meningkat dan pendapatan keluarga petani juga ikut terdongkrak,” jelasnya.

Dari sisi pendampingan dan edukasi lapangan, kegiatan sosialisasi juga menekankan aspek keamanan kerja dan pengelolaan budidaya yang lebih terencana. “Menurut Nur Arifin, pemahaman tentang teknik aplikasi pupuk cair—termasuk interval penyemprotan dan pencampuran yang benar—akan sangat membantu petani mengurangi risiko kerusakan tanaman sekaligus menjaga efisiensi biaya produksi,” tuturnya.

Sementara itu, pelaku lapangan menilai materi yang disampaikan relevan dengan tantangan budidaya sayuran saat ini. “Menurut Bapak Agus Ruliyansyah pada saat sesi akan berakhir memberikan pendapat, petani membutuhkan panduan yang sederhana namun jelas, terutama terkait takaran dan waktu pemupukan. Dengan adanya sosialisasi ini, petani lebih percaya diri mencoba pola pemupukan yang lebih terukur,” hal ini senada dengan Ibu Henny Sulistyowati katanya.

Selain pemupukan yang tepat, petani cabai juga perlu memberi perhatian serius pada pengendalian hama dan penyakit yang kerap menjadi penyebab utama turunnya produksi. Ia menekankan pentingnya pemantauan rutin di lapangan untuk mendeteksi gejala sejak dini, seperti kerusakan daun, bunga rontok, hingga buah yang membusuk. Dr Supriyanto juga mengingatkan agar petani menerapkan pengendalian terpadu, mulai dari sanitasi kebun, penggunaan mulsa, pengaturan jarak tanam dan sirkulasi udara, hingga penggunaan pestisida secara bijak sesuai dosis dan waktu aplikasi, sehingga serangan organisme pengganggu tanaman dapat ditekan tanpa merusak keseimbangan lingkungan dan kesehatan tanaman.