Dari Ruang Kuliah ke Panggung Nasional, Dosen Farmasi FK Untan Bawa Keilmuan Farmasi Keolahragaan ke Kongres PSSI
JAKARTA – Keilmuan Farmasi Keolahragaan yang selama ini diajarkan di ruang kuliah Universitas Tanjungpura (Untan) mendapat ruang aktualisasi di panggung sepak bola nasional. Hal tersebut tercermin dari kiprah apt. Robby Najini, M.Farm., AIFO-P., dosen Program Studi Farmasi, Fakultas Kedokteran Universitas Tanjungpura (FK Untan), yang akrab disapa Pak Najini ini hadir sebagai voter utusan PSSI Provinsi Kalimantan Barat dalam Kongres PSSI di Hotel Fairmont Jakarta, 3 Agustus 2026.
Kehadiran Najini dalam forum sepak bola nasional tersebut menjadi pengalaman yang sejalan dengan bidang keilmuan yang selama ini ditekuninya di lingkungan akademik. Selain aktif melaksanakan tridharma perguruan tinggi melalui pendidikan, pengajaran, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat, Najini merupakan salah satu dosen pengampu Mata Kuliah Farmasi Keolahragaan (Sport Pharmacy) di Program Studi Farmasi FK Untan.
Di luar lingkungan kampus, Najini juga mendapat amanah sebagai Sekretaris Umum PSSI Provinsi Kalimantan Barat. Peran tersebut mempertemukan perspektif akademik di bidang kefarmasian dengan dinamika pengelolaan olahraga secara langsung.
Dalam Kongres PSSI tersebut, Najini mendapatkan kesempatan berkomunikasi secara langsung dengan Ketua Umum PSSI sekaligus Menteri Pemuda dan Olahraga Republik Indonesia, Erick Thohir.
Salah satu gagasan Erick Thohir yang menjadi bagian penting dalam semangat transformasi sepak bola adalah memandang sepak bola bukan sekadar olahraga, melainkan sebagai wujud kehormatan, karakter, dan persatuan bangsa Indonesia.

sekaligus Menteri Pemuda dan Olahraga RI, Erick Thohir.
Bagi Najini, gagasan tersebut memiliki keterkaitan erat dengan aspek kesehatan, termasuk bidang kefarmasian. Transformasi sepak bola tidak hanya membutuhkan pembinaan teknik, kompetisi yang profesional, dan tata kelola yang baik, tetapi juga harus ditopang oleh ekosistem kesehatan yang mampu menjaga kesehatan, keselamatan, performa, dan integritas atlet.
“Pesan tentang transformasi sepak bola yang disampaikan Pak Erick Thohir menurut saya sangat relevan dengan bidang yang saya tekuni sebagai dosen Farmasi Keolahragaan. Sepak bola yang ingin kita bangun bukan hanya tentang prestasi di lapangan, tetapi juga tentang manusia yang sehat, berkarakter, disiplin, dan menjaga integritas. Di sinilah ilmu kefarmasian dapat mengambil bagian,” ujar Najini.
Farmasi Keolahragaan, Bagian dari Ekosistem Olahraga
Menurut Najini, perkembangan olahraga prestasi membutuhkan pendekatan multidisiplin. Atlet tidak hanya membutuhkan pelatih dan program latihan, tetapi juga dukungan kedokteran olahraga, fisioterapi, psikologi, nutrisi, dan kefarmasian.
Dalam konteks tersebut, Farmasi Keolahragaan dapat berkontribusi melalui edukasi mengenai penggunaan obat yang rasional, keamanan dan pemilihan suplemen olahraga, potensi interaksi obat dan suplemen, pencegahan penggunaan zat terlarang (doping), serta aspek kesehatan dan pemulihan atlet.
“Saya melihat ini sebagai kesempatan untuk menghubungkan ruang kuliah dengan realitas di lapangan. Mahasiswa Farmasi perlu memahami bahwa kompetensi kefarmasian dapat berkontribusi pada banyak sektor, termasuk olahraga. Atlet membutuhkan pendekatan kesehatan yang komprehensif, dan farmasis merupakan salah satu bagian dari ekosistem tersebut,” lanjutnya.
Pengalaman di lapangan juga menjadi modal akademik yang dapat memperkaya proses pembelajaran mahasiswa. Berbagai persoalan nyata yang ditemukan dalam dunia olahraga dapat menjadi konteks pembelajaran sehingga mahasiswa tidak hanya memahami konsep secara teoritis, tetapi juga melihat bagaimana ilmu kefarmasian diterapkan dalam lingkungan olahraga.
Dekan FK Untan Apresiasi Kiprah Dosen
Dekan Fakultas Kedokteran Universitas Tanjungpura, dr. Ita Armyanti, M.Pd.Ked., mengapresiasi kiprah dosen Farmasi FK Untan yang mampu membawa kompetensi keilmuannya ke ruang pengabdian yang lebih luas hingga tingkat nasional.
“Kami tentu bangga ketika dosen FK Untan mampu berkiprah sesuai dengan bidang keilmuannya dan memberikan kontribusi hingga tingkat nasional. Farmasi Keolahragaan merupakan bidang yang sangat relevan dengan perkembangan olahraga modern. Kiprah ini menunjukkan bahwa kompetensi dosen dapat diimplementasikan secara nyata sekaligus menjadi pengalaman yang memperkaya proses pendidikan mahasiswa,”ungkap dr. Ita.
Menurutnya, keterlibatan dosen dalam berbagai bidang profesional juga memperkuat hubungan antara perguruan tinggi dengan masyarakat.
“Dosen tidak hanya berperan di ruang kelas. Ketika keilmuan yang dimiliki dapat memberikan manfaat bagi masyarakat dan mendukung pembangunan bidang strategis seperti olahraga, tentu hal tersebut menjadi kontribusi positif bagi institusi,”tambahnya.
Dari Kalimantan Barat untuk Sepak Bola Indonesia
Bagi Najini, kehadirannya sebagai voter utusan PSSI Kalimantan Barat dalam Kongres PSSI bukan hanya menjadi bagian dari tanggung jawab organisasi, tetapi juga kesempatan untuk membawa perspektif akademik ke dalam ekosistem olahraga nasional. Ia berharap keterlibatan tersebut dapat membuka semakin banyak ruang kolaborasi antara perguruan tinggi, organisasi olahraga, tenaga kesehatan, atlet, klub, dan berbagai pemangku kepentingan dalam mengembangkan olahraga yang sehat dan berprestasi.
“Transformasi sepak bola juga harus diikuti transformasi dalam cara kita melihat kesehatan atlet. Prestasi harus dibangun bersama dengan keselamatan, kesehatan, dan integritas. Saya kira ini merupakan ruang kontribusi yang sangat besar bagi ilmu farmasi,” kata Najini.

di Hotel Fairmont Jakarta, 3 Agustus 2026.
Ia juga berharap kiprahnya dapat memberikan manfaat bagi pengembangan Farmasi Keolahragaan di Kalimantan Barat sekaligus membawa nama baik Universitas Tanjungpura dan Fakultas Kedokteran.
“Semoga apa yang saya lakukan dapat membawa nama baik Universitas Tanjungpura dan Fakultas Kedokteran, sekaligus menjadi bagian kecil dari upaya memajukan olahraga Kalimantan Barat dan Indonesia. Bagi saya, mengajar Farmasi Keolahragaan di kampus dan terlibat langsung dalam sepak bola merupakan dua hal yang saling melengkapi,” tutup Najini.


